Kamis, 15 November 2012

Montessori Di Mata Saya (Bag 2)

Kesepakatan saya dengan Montessori mulai melebar ketika saya mengetahui lebih dalam mengenai teorinya, terutama karena saya sempat berkecimpung juga sebagai guru di sebuah pra sekolah bermetoda Montessori. Dari waktu ke waktu dengan jam terbang yang saya miliki dan proses ‘learning by doing’, sampai saat ini saya ‘masih’ jatuh hati dengan segala konsep dan teorinya. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk menerima metoda lain yang menurut pemikiran logis saya sebagai pendidik bagus untuk diterapkan.
Terutama pada pendidikan anak usia dini.
Pemikiran-pemikiran Montessori yang saya sepakati adalah :

  • Bagaimana cara pandang Montessori dalam melihat anak belajar, yaitu disesuaikan dengan karakteristik anak. Anak itu unik dengan segala potensi yang ada dalam dirinya masing-masing dan berbeda satu sama lainnya. Anak adalah creator of the man dan bukan manusia dewasa cilik. Ia adalah individu itu sendiri seutuhnya..
  • Ciri dan karakteristik anak pada umumnya adalah absorbent mind, has sensitive period, want to learn, love to learn and play, has development stage, and want to be independent.

Saya percaya semua itu ada pada diri masing-masing anak.  Yang berbeda mungkin terletak salah satunya adalah pada sisi masa usia perkembangannya, karena usia biologis tidak sama dengan usia perkembangan. (sebagai contoh : Fathya yang berusia 4 tahun kemampuan dan perkembangannya akan berbeda dengan Gavin yang juga berusia 4 tahun. Fathya sudah berkembang banyak motorik halusnya, tetapi perkembangan Gavin mungkin saja lebih menonjol pada motorik kasarnya)

Tapi, walaupun demikian kita jangan sampai memprediksi bahwa seorang Gavin tidak akan pernah dapat menulis dengan baik untuk selama-lamanya, kemampuan itu ada dan pasti berkembang, hanya Gavin belum memperlihatkannya di segi itu. Percayalah bahwa periode sensitif yang dimiliki setiap anak datangnya pada waktu yang berlainan.

  • Tujuan metoda Montessori adalah membantu anak untuk dapat membantu dirinya sendiri. Kalimat yang singkat namun bermakna cukup dalam. Dalam perkembangannya, anak-anak akan dibantu untuk menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan menghargai perbedaan sehingga dapat menjadi warga dunia yang handal dan menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri.

Sayapun berpendapat, tidak semua orang harus jadi dokter dan dipaksakan untuk jadi dokter, atau pegawai kantoran, dan lain-lain. Tapi yang terpenting dan yang perlu digali lebih dalam dari seseorang adalah sisi potensi, kompetensi beserta kelebihan yang ada dalam dirinya. Saya sepakat dengan para ahli lain yang sedang gandrung menyuarakan teori Multiple Intelligence. Hal inilah yang penting untuk dibangun pada anak usia dini, karena ibarat rumah yang berfondasi kuat ketika awal mulai dibangun, maka rumah tersebut akan berdiri kokoh hingga kurun waktu yang panjang. Pembentukan kepribadian yang kuat di masa-masa penting inilah yang akan mendasari kehidupan anak dan berlanjut hingga ia tumbuh dewasa nanti.

Penanaman fondasi awal inilah yang harus menjadi titik berat, agar anak dapat tumbuh menjadi manusia yang tangguh dan selalu dapat bertahan kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar