Senin, 15 Oktober 2018

Waldorf & Montessori di Mataku




Buah tangan dari kunjungan tim guru Rumah Montessori ke Singapore Waldorf Steiner Education Association (Rabu 26 Sept 2018)

(saran : harap teruskan mencari info dan belajar lebih banyak dan langsung dari praktisi dan ahli lainnya)

Ceritanya kami tim guru Rumah Montessori  diberikan kesempatan untuk bisa melakukan kunjungan belajar ke Singapore Waldorf Steiner Education Association. Berbulan-bulan sebelumnya kami menyiapkan dan mengirim email permohonan kepada cukup banyak penyelenggara pendidikan diluar genre sekolah kami (Montessori). Kami berharap bisa dapat sambutan dan izin untuk sharing bareng tentang metoda pendidikan apapun itu.
Metoda pendidikan Reggio Emilia dan Waldorf lah yang saat itu kami dambakan bisa kami peroleh banyak informasinya.

Alhamdulillah gayung bersambut. Email menggembirakan yang ditunggu sejak lama, kami terima dengan perasaan berbunga-bunga. Permohonan kami disambut baik dan kunjungan kami pun ditunggu oleh staf Singapore Waldorf Steiner Education Association. Wiiiihh.. puji syukur pisaann..

Saya gak akan memaparkan detail apa yang diperoleh di sana karena selain sudah ada perjanjian tidak akan publish terlalu banyak, saya hanya ingin menyampaikan beberapa isi pikiran sesuai opini yang ada di kepala saya aja. Jadi ya.. jangan ditelan  bulat-bulat apa yang saya paparkan disini karena boleh jadi akan berbeda dengan opini orang lain diluar sana.

Sengaja saya posting juga di blog ini ‘common question’ yang datang ke saya terkait dengan oleh-oleh apa yang bisa dibagi setelah kunjungan belajar ini.
Mohon baca dan pahami juga saran di atas ya (yang di bawah judul) sebelum scrolling baca ke bawah J
Pertanyaan yang diposting ini saya pilih karena mungkin bisa mewakili semua pertanyaan yang berhubungan tentang pendapat pribadi saya dan sistem Waldorf terkait saya sebagai praktisi atau pengguna metoda Montessori..

Please enjoy and read this with relax.. mudah-mudahan bermanfaat buat menambah wawasan.

QUESTION (Pertanyaan via chat Whatsapp) :
Ikihkan aku lg belajar ttg waldorf; dr sisi parenting nya tuh aku suka krn dia slow parenting
Beberapa inline sama montessori, tapi ada jg yg bertolak belakang
Kl montess kan inline sama neurosains, secara background dr maria kan memang kesana 
Kl waldorf kan filsuf, jadi imajinasi dan art diatas segalanya 

Dan 0-7 th samsek no akademik, berhitung, baca dll, unstructure play dan no prepared environment, no instruction.
Nah itu kan beda bgt ya, secara di montess kan kita kudu aware sama masa peka, stimulasi, not over stimulated, structure aparatus dll.
Karena menurutnya itu nanti bakal jadi problem saat anak anak besar, krn tidak menjadi anak yg balance secara emosi 
Nah, itu yg jadi pikiran ku
Kalau dari mbak ivy, yg udah fasih montessori dan jg orang tua dari 3 anak; itu bagaimana kira kira?


ANSWER (Jawaban oleh Ivy Maya Savitri – Rumah Montessori BSD) :
- edited & lebih lengkap dari aslinya - 

Coba maparin menurut pendapat ku aja ya.. (pendapat orang lain, cari  terus aja.. biar tambah bingung.. hahaha.. nggak laah.. biar tambah pinteerr dong tentunya hihihi..)

Intinya seluruh metoda pembelajaran yg ada di seluruh dunia ini, entah itu Waldorf, Reggio Emilia, Montessori, Froebel, Gardner dll.. semua ciri khasnya gampang ditebak.. telusuri saja karakater dan history of life nya tokoh-tokoh pelopor tsb pasti amat sangat tercermin pada pengaplikasian metodanya..

Gak usah jauh-jauh.. analogi nya banyak.. contohnya saat milih sekolah.. kalau kita cukup kenal kaya gimana gaya serta karakter owner nya atau kepsek nya lah minimal (kalau owner nya ga pegang banget tu sekolah) itu pasti keliatan banget running sekolahnya dan atmosphere nya.. karena energi yg mendominasinya ga akan bisa sembunyi dan pasti menular ke para praktisi lapangan nya (guru-guru & stafnya).


Setiap metoda pembelajaran yg dicetuskan dari zaman ke zaman itu udah pasti saling berkaitan tapi biasanya saling menyempurnakan karena mau gak mau harus menjawab kebutuhan zamannya.

Jadi wajar, Waldorf & Reggio Emilia & Froebel mengusung metoda yg mirip : tapi mereka pada masanya sudah disebut membuat terobosan baru dengan free play nya karena selama masa itu sistem pendidikan bersifat kaku gak dinamis & terlalu doktrin.

Mereka sama-sama ingin bikin belajar itu untuk sepanjang hayat, kedamaian dan humanis jadi starting point nya beneran lebih hati-hati, jangan menakutkan dan it must be fun and base on freedom. Harus rasa dan tahu bahwa freedom itu basic needs sebelum kenal ke rules (dan ini inline banget sama milestone alias sensitive period nya manusia, rules mulai bisa dipahami di usia anak jelang 5-6 tahun, jadi di 7 tahun goalnya : mulai matang).
Walau aku gak sampai dalem gali ttg Waldorf, aku cukup paham dia itu apa dan kenapa begitu dengan kacamataku.

Jadi, gak terlalu setuju juga kalau Waldorf dikatakan tidak prepared environment, tidak ada milestone, no time table, no instructions.

Setting kelas yang adem, hommy, sederhana, penuh sentuhan sensorial lewat banyaknya penggunaan kain halus akan lebih menghaluskan hati kubilang, mirip lah sama montessori yang juga penuh filosofi tapi rasional logik banget. Materialnya mereka banyak terbuat dari kayu-kayu natural yang bentuknya dasaar alami banget supaya anak menciptakan sendiri daya cipta kreasinya, boneka aja mukanya dibikin polos supaya anak mampu membuat imajinasinya sendiri tentang emosi apa yg diinginkan. Bercerita aja, gurunya nggak heboh ala-ala guru paud biasanya yang ekspresif karena membiarkan anak-anak untuk menjelajah dan membuat sendiri imaji yang mereka inginkan. Kalau kata orang Sunda mah : bebaskeun weeh..
Painting, drawing, dancing, story telling, creating and baking (preparing & cooking) adalah materi kegiatan mereka yang selalu ada di time table mereka dalam seminggu.

Dan selalu ada instruksi saat tiba perpindahan time table, mereka menandai selesainya suatu aktivitas utk pindah ke aktivitas lainnya dengan lagu.. smooth banget.. menurut mereka, gak usah bikin shock stress anak laa.. Wong cuma mau ngajak anak pindah pusat perhatian doang. Instruksi beresin alat juga ada, instruksi saat anak-anak dengan suka rela deketin guru karena mau bantuin guru yang lagi preparing food for class juga pasti ada dong.. masa iya mau buat suatu masakan enak yang bisa dinikmati orang lain sama sekali gak pake SOP alias prosedur yang harus diinstruksikan dengan benar.. hehe.. ya ndak thoo.. nggak gitu-gitu amat..

Jadi, guru dalam kelas Waldorf itu gak kaya di Montessori yang lebih fokus sama observasi dan minimal intervensi anak. Guru Waldorf itu ya selain mengamati mereka juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri, misal ada yang nge-art, ada yang bebikinan sesuatu dari kain, kayu atau material lain, ada juga yang di dapur sibuk nyiapin makanan. Hehe.. jadi inget kelakuan aku sendiri di Rumah Montessori.. saat guru-guru mengobservasi, aku mah suka sibuk nyikat WC atau tempat nyuci tangan.. dan itu beneran dideketin anak, ditanyain, sama ada juga yang mau nyoba ikutan kalau gak keburu digebah sama guru lainnya karena belom beresin alat.. hahaha.. seru ya..
Menurut ku saat anak tertarik ngedeketin orang dewasa yang sedang bekerja dan tertarik bantu, ini jelas-jelas menstimulasi willing (tangan kaki) untuk bekerja dan heart (hati) nya banget ya.. karena ada empati, perhatian, niat tulus pada saat join in..
Ngelink banget sama sebuah quote Dalai Lama : when you educate a young age don't forget to educate their hearts. Mantull dah..!!

Emang bener banget karena nanem kebaikan dan kehalusan hati itu lama banget panennya. 

Sedangkan akademik, sekali diajarkan di usia yg tepat (7-14) itu melesat cepat dikuasai.. tapi buat apa kalau hati mereka gak punya empathy.

Free play nya Waldorf, Reggio Emilia dan Froebel dengan spielgaben nya juga penting banget itu buat imaginasi.. dan lately montessori nyempurnain alat-alat spielgaben itu agar lebih jelas peruntukkan dan dipahami tujuan nya.

Kaya Lego.. dulu dari kayu lalu plastic tapi masih sederhana bentuk-bentuk nya lama-lama dibikin juga figurin terus bentuk-bentuk lengkung yg makin membuat mirip dengan bentuk benda aslinya.

Itu sih yang diusung Waldorf (lagi-lagi menurut kacamataku, disarankan untuk perlu bahas dan cari tahu langsung sama praktisinya)

thank you 

Naaa.. montessori mah sepertinya menyempurnakan bagian material tools ajar.. dia basic nya kan dokter, engineer, secara akademik katagori nya scientist lah.. pasti punya concern nya masing-masing. Lihat aja preparing nya kemana..

Kalau filosofi kehidupan nya kurang lebih sama. End point nya : happiness inside, no competition coz it is a basic of conflict and war, peace education.

Pas kutanya tentang apakah guru Waldorf dilatih cara asses, observe dan planning, ada kok semua panduannya dan disampaikan bahwa semuanya back to psychological milestones base.

Tinggal milih aja.. mau yang visualy jelas keliatan organized, logically, structured tapi tetep gak abaikan karakter ya montessori.. 

Atau mau yang selow, adem, art lebih banyak mengasah kehalusan hati dan emotional management tapi gak abai akademik juga kok, ya Waldorf.

Keduanya sama-sama selalu narik ke sustainable education juga, selalu ada menanamkan pembelajaran bahwa manusia harus dapet minimal life skills untuk bisa menyediakan sendiri kebutuhan pokoknya (contohnya seperti : pengenalan aktivitas merajut, menjahit à untuk sandang, farming, baking dan cooking à untuk pangan, kerajinan tangan kayu atau carpenter activities à untuk papan).

Trend yang aku bilang masih smooth untuk dibawa ke transisi educulture di kita sepertinya masih montessori, selain menjawab kebutuhan zaman now juga metoda jadul yang masih akademik oriented à masih bisa keliatan diutamakan di montessori (which is academic is still a big issue for Indonesian parents).

Kalau Waldorf, suatu hari juga akan menjamur tapi perlu agak kenceng sosialisasinya dan butuh ortu yang lebih tough, komit, idealis plus konsisten dan siap dilabel anti mainstream.

Mirip la kita Indonesia ama Singapore.. Singapore itu kan mostly sekolahannya akademik banget, jd tipikal Waldorf School pasti minor banget masih masuk katagori semi atau full community homeschooling.. Dan kita kemarin sharing : tetep konsisten idealistis aja kalau emang udah yakin sama apa yang kita mau selama kita gak ngerugiin pihak lain. Toss dong.. hahaha..

Kalau aku pribadi, jujur.. nerapin di anak-anak kandungku pasti nano-nano.. yg aku pegang kuat cuma just following the child, tiap anak beda kebutuhan nya dan metoda nya. Tapi mostly montessori masih kepake banyak dan aku juga love art and nature.. makanya angguk-angguk pas ketemu Waldorf.

Sedikit banyak ya sama aja lah untuk penerapan  anak-anak di RumahMontessori juga..

Pesan dariku - entah dirimu perlu atau tidak.. hehe.. : yang penting jangan selalu merasa paling benar dalam meyakini apapun..

Para tokoh pelopor nya juga punya ego masing-masing dalam meyakini dan mengusung metodanya masing-masing. Wajar.. da itu mah emang basic attitude nya manusia. Begitu juga fans and followers nya.. suka keukeuh gak jelas belain idolanya.. semakin banyak followers semakin memastikan kepopuleran dan mengkonfirmasi segalanya lebih dan paling baik. Padahal.. lebih baik biasa-biasa aja laa.. kenali lebih banyak lagi yang lain deh.. please always be in wisdom journey.

Aku juga lagi terus belajar supaya bisa  selalu berhati-hati, jangan terjebak untuk berlebihan meyakini dalam hal apapun sampai-sampai gak mau tengok kemana-mana.. hehehe..

Aaaahh.. bener kan panjang jadinya..

Entah lah konten ini sesuai harapan tidak sama yang dirimu tanya.. hahaha

Ampuuunn yaa kalau sotoy.. muga-muga bermanfaat..

You are free to choose but you are not free from the consequences of choice

#oleh-oleh kunjungan ke Waldorf Education Association Singapore



Senin, 05 Februari 2018

Adab, Tata Krama, Peraturan Dasar Dalam Kelas Montessori

Salah satu area kurikulum di Metoda Montessori adalah area yang disebut Keterampilan Hidup atau dalam Bahasa Inggrisnya Exercises of Practical Life (EPL).
Menurut saya, area kurikulum ini adalah area persiapan tingkat dasar yang sangat penting bagi seorang individu.. bukan hanya persiapan untuk belajar tapi lebih dari itu : persiapan untuk (bekal) hidup.

Area yang sangat jarang saya temukan disediakan atau secara sadar sengaja dibuat sungguh-sungguh sebagai kurikulum pembelajaran di sebuah institusi pendidikan. Ketika sekolah-sekolah yang mainstream selalu menonjolkan dan mempromosikan bagian area kurikulum akademik seperti membaca - menulis - matematika - sains dll dan melewatkan kurikulum etika dan tata krama dalam berkehidupan sosial, metoda Montessori justru menjadikan area Keterampilan Hidup ini menjadi area 'inti' dari semua pembelajaran yang sifatnya akademik.

Jujur aja sih, buat saya.. kayanya saya lebih sreg dan sepakat ketika seorang individu secara moral dan etika berkarakter mulia lalu ditunjang kecerdasan akademik yang oke adalah lebih baik daripada hanya sekedar berotak akademik cemerlang tapi berbudi pekerti minimalis.

Lagi-lagi ini pilihan ya, teman-teman.. Saya pribadi lebih memilih prinsip : pengetahuan itu memang penting tapi berkarakter mulia itu lebih penting :) makanya.. (lagi-lagi) saya masih sepakat dengan metoda Montessori.

Di area keterampilan hidup (EPL) ini, selain anak-anak usia dini dilatih motorik, koordinasi tangan dan mata, fokus, kemandirian, disiplin, percaya diri, dasar-dasar berpikir logis dll melalui alat-alat kegiatan yang tersedia di setiap rak-rak kegiatannya, area kurikulum ini pun dengan jelas merinci setiap panduan yang dilakukan dalam rutinitas keseharian dalam kelas yang menurut saya sangat melatih anak-anak menjadi seseorang yang bertata krama baik dan santun, baik sebagai individu perseorangan maupun sebagai individu dalam sosial bermasyarakat.

Semua adab, tata krama atau peraturan dasar di bawah ini detil disusun oleh metoda Montessori ini sebagai kurikulum penting dalam persiapan belajar untuk hidup. Semua tata krama dan adab ini dilakukan sebagai kegiatan rutinitas yang harapannya akan menjadi kebiasaan positif yang nantinya akan menjadi karakter mulia di masa depan karena sudah melekat dalam kehidupan sehari-harinya.

Yuk mari atuh kita mulai baca-baca.. apa aja sih peraturan dasar dalam kelas Montessori teh.. Perlu digarisbawahi, bahwa yang di bawah ini adalah yang diterapkan di sekolah kami Rumah Montessori dan mungkin hanya sebagian saja yang tersampaikan dari peraturan dasar lainnya yang sekolah-sekolah Montessori lainnya lakukan. Feel free to search another resource yaa.. Mudah-mudahan tidak hanya bisanya copy paste dan menilai sepihak ajah.. hehehe.. biarkan ilmu kita bertambah banyak dengan selalu mencari dan membaca literature lainnya yang lebih banyak lagi..



PERATURAN DASAR DALAM KELAS MONTESSORI


1.       Harus selalu ada rasa saling menghargai kepada semua orang dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita setiap waktu.

2.       Rasa kepemilikan dalam pekerjaan, hargailah pekerjaan orang lain dengan tidak mengganggu pekerjaan mereka

3.       Berjalanlah dengan hati-hati di dalam kelas (faktor keselamatan)

4.       Gunakanlah suara yang lembut/perlahan

5.       Alas kerja adalah tanda batas area kerja seseorang, hormatilah keberadaannya. Izinlah jika ingin berinteraksi dengan kegiatan yang ada dalam alas kerja tersebut. Berjalanlah mengitari alas kerja lantai, agar tidak mengganggu pekerjaan orang lain yang sedang dikerjakan di atasnya.

6.       Hampir semua material di Practical Life adalah untuk kegiatan perorangan

7.       Jumlah kursi yang berada di sebuah area, mengindikasikan jumlah anak yang diizinkan dalam area tersebut

8.       Diusahakan bahwa hanya ada satu anak (sebagai observer) yang mengamati proses kegiatan dari awal sampai selesai

9.       Ketika duduk di kursi sebaiknya kedua kaki berada di atas lantai (mengarah ke bawah/ke lantai)

10.   Ketika kursi sudah tidak digunakan, kursi didorong kembali ke tempatnya di bawah meja

11.   Tidak melakukan panggilan dengan suara keras dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan lain yang berjauhan jaraknya, datangi dan dekati orang yang bersangkutan lalu bicaralah

12.   Untuk kegiatan yang basic/dasar, kebanyakan pengerjaan materialnya tidak digabung dengan material lain

13.   Ada kalung identitas khusus (name tag) ketika anak-anak mengerjakan suatu tugas khusus, seperti contohnya piket membantu guru menyiapkan meja makan

14.   Menyimpan kembali alat ke tempatnya semula setelah selesai dikerjakan adalah suatu bentuk melatih empati di mana anak-anak dibiasakan untuk berbagi alat-alat dalam kelas dengan yang lainnya melalui aturan disiplin tersebut. Alat-alat yang sudah kembali ke rak, artinya 'available for everyone' (artinya siap untuk digunakan siapa saja yang menginginkannya) serta melatih kebebasan yang bertanggung jawab

15.   Untuk menjaga kesopanan dan saling  menghargai : dekati dan tepuklah perlahan seseorang jika kita menginginkan perhatiannya, bicaralah dengan posisi yang sama tinggi dan ada kontak mata

16.   Kegiatan yang mengandung air, selalu sediakan alas kerja plastik

17.   Kejadian khusus : jika mendengar bunyi bel yang sudah disepakati bersama jenis suaranya, hentikanlah semua kegiatan dimanapun kita berada dan tunggu perintah selanjutnya

18.   Ketika kamu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau sedang dipakai orang lain, minta izinlah terlebih dulu untuk mendapatkannya. Pemilik berhak untuk menentukan kapan memberikan izinnya dan si pemohon diarahkan untuk tidak memaksakan kehendaknya (bersabar menunggu atau mencari alternatif aktifitas lainnya) 

19.   Pada hari pertama bagi anak yang baru masuk kelas, ada satu guru yang siap untuk menemaninya seharian (untuk kenyamanan sang anak)

20.   Mengusahakan semaksimal mungkin penggunaan kalimat-kalimat positif dalam penerapan aturan

21.   Ketika duduk di atas lantai, sebaiknya kaki disilangkan (bersila)

22.   Tidak menginjak alas kerja orang lain, jika ingin melewati area tersebut berjalanlah mengelilingi alas kerja tersebut

23.   Bawalah satu objek dalam satu waktu dan contohkan bagaimana caranya berhati-hati dalam meletakkan, membuka tutup kotak penyimpanan alat. Ini semua melatih anak untuk ikut menjaga fungsi alat dan ke-awetan alat kegiatan

24.   Penyimpanan balok-balok dan alat lainnya, posisi penyimpanannya haruslah yang dapat dijangkau oleh anak, karena anak tersebut sendirilah yang akan membawa alat-alat kegiatan tersebut ke area pengerjaan

25.   Beberapa kegiatan seperti menulis, mewarna ataupun tracing sebaiknya dilakukan di atas permukaan yang rata dan memungkinkan anak melakukan posisi duduk yang baik (tegak)

Jumat, 26 Januari 2018

Apakah Metoda Montessori Mempersiapkan Anak-anak untuk Menghadapi Dunia Nyata?


Does Montessori Method Prepare Children For The Real World?

By Tim Seldin

Presented in One World One Montessori. 1st Montessori Conference Jakarta on March 17-18, 2012


Haloo.. jumpa lagi.. nge-blog lagi.. hehehe.. cuaca lagi baik untuk balik nge-blog nih kayanya.. setelah berabad-abad gak nongol.. eksisnya di Instagram dan Facebook melulu.. hahaha dasar narsiissss..

Kalau nge baca judulnya kali ini, meni gaya euy.. pake Bahasa Inggris.. tapi bujubuneee… eta tahun 2012.. kebayang yaa almost enam tahun yang lalu..

Tapi percayalah, tema presentasi yang saya hadiri saat konferensi Montessori pertama ini luar biasa recommended, masih valid dan sangat bermanfaat serta menjadi bagian yang selalu dipertanyakan oleh para newbie yang baru kenalan sama metoda indah ini. Mumpung lagi nge-trend ni metoda.. lagi most wanted di-kepo-in para ortu dan pendidik di Indonesia, masih sah saya share disini.

Apalagi pemateri topik ini adalah seorang Tim Seldin yang jauh-jauh datang untuk nge-bagiin ilmu dan pengalamannya sebagai Montessorian ke Indonesia, saat Montessori belum se-booming dan se-populer ini di Indonesia (sekilas profil nya beliau akan saya share juga kok disini 😊)

Momen saat mengikuti konferensi inipun berkesan sekali buat saya.. Kami berdua, saya dan Tim Seldin sama-sama berada dalam satu acara besar per-montessorian di Indonesia untuk memberikan materi yang sudah pasti bertujuan membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Semua tokoh keynote speakers yang diundang saat Konferensi Montessori pertama di Jakarta ini luar biasa paling keren dibanding dengan konferensi-konferensi berikutnya. Saat itu saya sudah mulai gencar bergerak meneruskan salah satu gagasan dari teman baik, guru dan mentor saya Bunda Julia Ahmad (Rumah Bermain Padi Bandung) yaitu : Montessori ber-Bahasa Indonesia. Saat saya mengajukan diri mengisi kelas di konferensi ini dengan tajuk “Fun Reading with Montessori in Bahasa Indonesia” dengan presentasi kelas yang menggunakan full Bahasa Indonesia, hampir ditolak komite cuyy!! Disarankan komite, saya harus pakai English, hehehe.. tapi tekad udah jelas.. saya keukeuh ke komite : kalau mengadakan konferensi di Indonesia sebaiknya ada materi yang berunsur budaya lokal dan sesuai kebutuhan negeri ini.. *weitss..woles, Vy..

Alhamdulillah mereka support.. maka disinilah pertama kali saya membagi persiapan membaca Bahasa Indonesia dengan metoda montessori. Finally… saya dikasih, nyelip satu kelas – satu-satunya yang fully speak in Bahasa.. yang akhirnya di konferensi-konferensi berikutnya selalu menjadi lebih banyak kelas-kelas yang materinya dipresentasikan dalam Bahasa Indonesia. Yup.. saya hanya berpikir, jangan nanggung lah kalau mau berbagi ilmu dan memajukan pendidikan Indonesia, Bahasa yang masih mayoritas dipahami dan dikuasai di negeri kita ini ya masih Indonesia kok.. Sekolah-sekolah yang pakai Bahasa Inggris mah udah keruan levelnya ada dimana.. kualitasnya juga.. Nah justru yang perlu di-upgrade adalah sekolah-sekolah lainnya lah yang mayoritas masih berbahasa ibu pertiwi. Mereka harus bisa masuk untuk dinaikkan wawasan dan kualitasnya.. Merdeka! *lhaa..hahaha..

*eh naha jadi curhat yah..?*

Yuk ah kita baca-baca materi yang sesuai dengan judul di atas.. Mari kita mulai belajar Bahasa Inggris 😊

Tapi sebelum mulai baca, mau narsis dulu sama pemateri topik judul ini boleh ya..

Ini foto bareng saya dengan Mr. Tim Seldin, Bapak yang hangat dan baik hati.. *ssstt.. ehmm..



Does Montessori Prepare Children For The Real World?

In a word, Yes. Here’s why..

1.   Montessori help children master the intellectual skills and knowledge that are basic to our culture and technology. As Montessori students master one level of academic skills they are able to apply themselves to increasingly challenging works across the academic disciplines. They tend to be reflective scholars. They write, speak, and think clearly and thoughtfully. They have learned how to learn by doing real things in the real world – experiential learning. They have learned how to integrate new concepts, analyze data, and think critically. Children who grow up in Montessori schools tend to be culturally literate, well educated, and highly successful in university and later life.

2.   Montessori develop intrinsic motivation : the innate desire that drives students to engage in an activity for enjoyment and satisfaction.

3.   Montessori cultivates creativity and originality : Montessori students are normally exceptionally creative in their thinking and confident in self-expression. They recognize the value of their own ideas, respect the creative process of others and are willing to explore ideas together in search of truth or new solutions.

4.   Montessori students tend to be extraordinarily self-confident and competent. They perceive themselves as successful people, but are not afraid of making and learning from their mistakes.

5.   Montessori students do not see themselves as “children”, but as young members of the world. They tend to look up to teachers and other adults as mentors, friends, and guides rather than as unwelcome taskmasters who place limits on their freedom.

6.   Children who grow up in Montessori rarely feel the need to rebel and act out. Although even Montessori children will explore the limits and test their parents’ resolve, they basically follow an inner creed of self-respect. They accept limits and tend to follow common sense. Moreover, they have a tendency to consciously reach out to their friends and the larger community, seeking ways to help others and make a positive contribution to the world.

7.   Montessori children are not easily influenced by their peer group to do anything stupid. Like all of us, children who grow up in Montessori Schools want to have friends and are affected by their interests and attitudes. On the other hand, in addition to having grown up in a culture that consistently teaches and follows universal values of kindness, honor, and respect. Montessori children tend to think for themselves.

8.   Montessori students are often spiritually alive, exceptionally compassionate, empathetic, and sensitive to the natural world and the human condition.

In summary, these children that we’re raising aren’t perfect, but they tend to be terrific kids. They have all the values and attitudes that pay off in college and the real world. They aren’t afraid of hard work. They are eager to learn, think and explore new ideas. They enjoy people and know how to develop strong friendships. They generally follow the rules and act responsibly. They live from a basic sense of self-respect and rarely get themselves into self-destructive situations. They tend to be self-disciplined and fairly well organized. They tend to meet deadlines, come to class prepared and actually enjoy their classes.

Does Montessori prepare children for the real world? They are the average college professor’s dream come true. In the world after college, they tend to become lifelong learners, creative and energetic employees and quite often entrepreneurs.

Montessori students tend to develop great character : people who can be trusted and on whom one can depend. They tend to exhibit warmth, humanity and compassion. Their lives tend to reflect both joy and dignity. This is the type of men and women we hope our sons and daughters will grow up to be.

This is the ultimate outcome of a Montessori education.


Jadi... kalau di Bahasa Indonesia-kan kira-kira beginilah... (kesimpulan saya)

Singkatnya, anak-anak yang dibesarkan dengan lingkungan atau metoda Montessori memang tidak sempurna, tetapi mereka cenderung menjadi anak-anak yang luar biasa, tangguh dan handal. Mereka memiliki semua nilai-nilai dan sikap yang dibutuhkan di perguruan tinggi dan dunia nyata. Mereka tidak takut kerja keras. Mereka bersemangat untuk belajar, berpikir dan mengeksplorasi ide-ide baru. Mereka menikmati sosialisasi dengan sesama manusia dan tahu cara membangun persahabatan yang kuat. Pada umumnya mereka taat pada aturan dan bertanggung jawab. Kehidupan mereka berawal dari kuatnya dalam menghargai diri sendiri sehingga jarang membuat mereka terbawa ke dalam situasi yang merusak diri sendiri. Mereka cenderung berdisiplin diri dan hidup teratur. Mereka juga mampu memenuhi tugas dengan tenggat waktu, datang ke kelas dengan penuh kesiapan diri serta benar-benar menikmati kegiatan belajar di kelas mereka.

Apakah Montessori mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata? Jawabannya adalah : Ya, salah satu contohnya adalah mereka memiliki standar rata-rata yang diharapkan para dosen atau profesor di perguruan tinggi. Setelah kuliah nanti, mereka mampu menjadi pembelajar yang aktif seumur hidup, kreatif, karyawan yang penuh semangat dan cekatan serta bisa pula menjadi pengusaha handal.

Mereka juga cenderung mampu untuk mengembangkan karakter-karakter positif seperti : menjadi individu yang dapat dipercaya dan mampu menjadi tempat bergantung. Mereka akan menunjukkan kehangatan, berperikemanusiaan dan mempunyai empati. Kehidupan mereka cenderung penuh dengan sukacita (kebahagiaan) dan rasa saling hormat-menghormati.
Jelas, bahwa itu semua adalah tipikal manusia yang pastinya kita harapkan dari pertumbuhan putra dan putri kita.

Dan semua hal di atas tadi adalah gambaran (sekaligus harapan) hasil akhir yang tertinggi dari metode Montessori.


Who is Tim Seldin?
President of The Montessori Foundation & Chair of International Montessori Council

His almost forty (40) years of experience in Montessori education includes twenty-two years as Headmaster of the Barrie School in Silver Spring, MD, his own alma mater (age two through high school graduation). He has also served as the Director of the Institute for Advanced Montessori Studies and as a Head of the New Gate School in Sarasota, Florida. He earned a B.A in History and Philosophy from Georgetown University, an M.Ed. in Educational Administration and Supervision from the American University and his Montessori certification from the American Montessori Society.

Tim Seldin is the author of several books on Montessori Education, including his latest, How to Raise an Amazing Child, The Montessori Way with Dr. Paul Epstein, Building a World-class Montessori School, Finding the Perfect Match – Recruit and Retain Your Ideal Enrollment, Master Teachers – Model Programs, Starting a New Montessori School, Celebrations of Life, and The World in the Palm of Her Hand.

Tim is the father of three former Montessori students (Marc, Michelle and Caitlin), stepfather to two  more former Montessori students (Robin and Chelsea) and the grandfather of two Montessori children : Hollis and Alexander. He lives on a small vineyard north of Sarasota, Florida with his wife : Joyce St. Giermaine, their four horses, twenty dogs and two hairless Sphinx cats.
(copy from his summary profile – Montessori Conference 2012)

Mudah-mudahan blog saya bermanfaat untuk semua ya…

Ingat-ingat.. Tolong garisbawahi bahwa topik ini hanya dari sudut pandang seorang montessorian yang sudah berpengalaman lama dalam mengamati output individu Montessori sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Mohon tetap jangan sempit dalam memandang, teruslah belajar dan mencari tahu dari sudut pandang yang lainnya, tetap buka mata buka hati terhadap pengayaan wawasan. Olah dan pikirkan kembali sesuai kebutuhan, pilihan tetap ada di tanganmu, temans..

Enjoy my blog 😊