Senin, 05 Februari 2018

Adab, Tata Krama, Peraturan Dasar Dalam Kelas Montessori

Salah satu area kurikulum di Metoda Montessori adalah area yang disebut Keterampilan Hidup atau dalam Bahasa Inggrisnya Exercises of Practical Life (EPL).
Menurut saya, area kurikulum ini adalah area persiapan tingkat dasar yang sangat penting bagi seorang individu.. bukan hanya persiapan untuk belajar tapi lebih dari itu : persiapan untuk (bekal) hidup.

Area yang sangat jarang saya temukan disediakan atau secara sadar sengaja dibuat sungguh-sungguh sebagai kurikulum pembelajaran di sebuah institusi pendidikan. Ketika sekolah-sekolah yang mainstream selalu menonjolkan dan mempromosikan bagian area kurikulum akademik seperti membaca - menulis - matematika - sains dll dan melewatkan kurikulum etika dan tata krama dalam berkehidupan sosial, metoda Montessori justru menjadikan area Keterampilan Hidup ini menjadi area 'inti' dari semua pembelajaran yang sifatnya akademik.

Jujur aja sih, buat saya.. kayanya saya lebih sreg dan sepakat ketika seorang individu secara moral dan etika berkarakter mulia lalu ditunjang kecerdasan akademik yang oke adalah lebih baik daripada hanya sekedar berotak akademik cemerlang tapi berbudi pekerti minimalis.

Lagi-lagi ini pilihan ya, teman-teman.. Saya pribadi lebih memilih prinsip : pengetahuan itu memang penting tapi berkarakter mulia itu lebih penting :) makanya.. (lagi-lagi) saya masih sepakat dengan metoda Montessori.

Di area keterampilan hidup (EPL) ini, selain anak-anak usia dini dilatih motorik, koordinasi tangan dan mata, fokus, kemandirian, disiplin, percaya diri, dasar-dasar berpikir logis dll melalui alat-alat kegiatan yang tersedia di setiap rak-rak kegiatannya, area kurikulum ini pun dengan jelas merinci setiap panduan yang dilakukan dalam rutinitas keseharian dalam kelas yang menurut saya sangat melatih anak-anak menjadi seseorang yang bertata krama baik dan santun, baik sebagai individu perseorangan maupun sebagai individu dalam sosial bermasyarakat.

Semua adab, tata krama atau peraturan dasar di bawah ini detil disusun oleh metoda Montessori ini sebagai kurikulum penting dalam persiapan belajar untuk hidup. Semua tata krama dan adab ini dilakukan sebagai kegiatan rutinitas yang harapannya akan menjadi kebiasaan positif yang nantinya akan menjadi karakter mulia di masa depan karena sudah melekat dalam kehidupan sehari-harinya.

Yuk mari atuh kita mulai baca-baca.. apa aja sih peraturan dasar dalam kelas Montessori teh.. Perlu digarisbawahi, bahwa yang di bawah ini adalah yang diterapkan di sekolah kami Rumah Montessori dan mungkin hanya sebagian saja yang tersampaikan dari peraturan dasar lainnya yang sekolah-sekolah Montessori lainnya lakukan. Feel free to search another resource yaa.. Mudah-mudahan tidak hanya bisanya copy paste dan menilai sepihak ajah.. hehehe.. biarkan ilmu kita bertambah banyak dengan selalu mencari dan membaca literature lainnya yang lebih banyak lagi..



PERATURAN DASAR DALAM KELAS MONTESSORI


1.       Harus selalu ada rasa saling menghargai kepada semua orang dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita setiap waktu.

2.       Rasa kepemilikan dalam pekerjaan, hargailah pekerjaan orang lain dengan tidak mengganggu pekerjaan mereka

3.       Berjalanlah dengan hati-hati di dalam kelas (faktor keselamatan)

4.       Gunakanlah suara yang lembut/perlahan

5.       Alas kerja adalah tanda batas area kerja seseorang, hormatilah keberadaannya. Izinlah jika ingin berinteraksi dengan kegiatan yang ada dalam alas kerja tersebut. Berjalanlah mengitari alas kerja lantai, agar tidak mengganggu pekerjaan orang lain yang sedang dikerjakan di atasnya.

6.       Hampir semua material di Practical Life adalah untuk kegiatan perorangan

7.       Jumlah kursi yang berada di sebuah area, mengindikasikan jumlah anak yang diizinkan dalam area tersebut

8.       Diusahakan bahwa hanya ada satu anak (sebagai observer) yang mengamati proses kegiatan dari awal sampai selesai

9.       Ketika duduk di kursi sebaiknya kedua kaki berada di atas lantai (mengarah ke bawah/ke lantai)

10.   Ketika kursi sudah tidak digunakan, kursi didorong kembali ke tempatnya di bawah meja

11.   Tidak melakukan panggilan dengan suara keras dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan lain yang berjauhan jaraknya, datangi dan dekati orang yang bersangkutan lalu bicaralah

12.   Untuk kegiatan yang basic/dasar, kebanyakan pengerjaan materialnya tidak digabung dengan material lain

13.   Ada kalung identitas khusus (name tag) ketika anak-anak mengerjakan suatu tugas khusus, seperti contohnya piket membantu guru menyiapkan meja makan

14.   Menyimpan kembali alat ke tempatnya semula setelah selesai dikerjakan adalah suatu bentuk melatih empati di mana anak-anak dibiasakan untuk berbagi alat-alat dalam kelas dengan yang lainnya melalui aturan disiplin tersebut. Alat-alat yang sudah kembali ke rak, artinya 'available for everyone' (artinya siap untuk digunakan siapa saja yang menginginkannya) serta melatih kebebasan yang bertanggung jawab

15.   Untuk menjaga kesopanan dan saling  menghargai : dekati dan tepuklah perlahan seseorang jika kita menginginkan perhatiannya, bicaralah dengan posisi yang sama tinggi dan ada kontak mata

16.   Kegiatan yang mengandung air, selalu sediakan alas kerja plastik

17.   Kejadian khusus : jika mendengar bunyi bel yang sudah disepakati bersama jenis suaranya, hentikanlah semua kegiatan dimanapun kita berada dan tunggu perintah selanjutnya

18.   Ketika kamu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau sedang dipakai orang lain, minta izinlah terlebih dulu untuk mendapatkannya. Pemilik berhak untuk menentukan kapan memberikan izinnya dan si pemohon diarahkan untuk tidak memaksakan kehendaknya (bersabar menunggu atau mencari alternatif aktifitas lainnya) 

19.   Pada hari pertama bagi anak yang baru masuk kelas, ada satu guru yang siap untuk menemaninya seharian (untuk kenyamanan sang anak)

20.   Mengusahakan semaksimal mungkin penggunaan kalimat-kalimat positif dalam penerapan aturan

21.   Ketika duduk di atas lantai, sebaiknya kaki disilangkan (bersila)

22.   Tidak menginjak alas kerja orang lain, jika ingin melewati area tersebut berjalanlah mengelilingi alas kerja tersebut

23.   Bawalah satu objek dalam satu waktu dan contohkan bagaimana caranya berhati-hati dalam meletakkan, membuka tutup kotak penyimpanan alat. Ini semua melatih anak untuk ikut menjaga fungsi alat dan ke-awetan alat kegiatan

24.   Penyimpanan balok-balok dan alat lainnya, posisi penyimpanannya haruslah yang dapat dijangkau oleh anak, karena anak tersebut sendirilah yang akan membawa alat-alat kegiatan tersebut ke area pengerjaan

25.   Beberapa kegiatan seperti menulis, mewarna ataupun tracing sebaiknya dilakukan di atas permukaan yang rata dan memungkinkan anak melakukan posisi duduk yang baik (tegak)

Jumat, 26 Januari 2018

Apakah Metoda Montessori Mempersiapkan Anak-anak untuk Menghadapi Dunia Nyata?


Does Montessori Method Prepare Children For The Real World?

By Tim Seldin

Presented in One World One Montessori. 1st Montessori Conference Jakarta on March 17-18, 2012


Haloo.. jumpa lagi.. nge-blog lagi.. hehehe.. cuaca lagi baik untuk balik nge-blog nih kayanya.. setelah berabad-abad gak nongol.. eksisnya di Instagram dan Facebook melulu.. hahaha dasar narsiissss..

Kalau nge baca judulnya kali ini, meni gaya euy.. pake Bahasa Inggris.. tapi bujubuneee… eta tahun 2012.. kebayang yaa almost enam tahun yang lalu..

Tapi percayalah, tema presentasi yang saya hadiri saat konferensi Montessori pertama ini luar biasa recommended, masih valid dan sangat bermanfaat serta menjadi bagian yang selalu dipertanyakan oleh para newbie yang baru kenalan sama metoda indah ini. Mumpung lagi nge-trend ni metoda.. lagi most wanted di-kepo-in para ortu dan pendidik di Indonesia, masih sah saya share disini.

Apalagi pemateri topik ini adalah seorang Tim Seldin yang jauh-jauh datang untuk nge-bagiin ilmu dan pengalamannya sebagai Montessorian ke Indonesia, saat Montessori belum se-booming dan se-populer ini di Indonesia (sekilas profil nya beliau akan saya share juga kok disini 😊)

Momen saat mengikuti konferensi inipun berkesan sekali buat saya.. Kami berdua, saya dan Tim Seldin sama-sama berada dalam satu acara besar per-montessorian di Indonesia untuk memberikan materi yang sudah pasti bertujuan membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Semua tokoh keynote speakers yang diundang saat Konferensi Montessori pertama di Jakarta ini luar biasa paling keren dibanding dengan konferensi-konferensi berikutnya. Saat itu saya sudah mulai gencar bergerak meneruskan salah satu gagasan dari teman baik, guru dan mentor saya Bunda Julia Ahmad (Rumah Bermain Padi Bandung) yaitu : Montessori ber-Bahasa Indonesia. Saat saya mengajukan diri mengisi kelas di konferensi ini dengan tajuk “Fun Reading with Montessori in Bahasa Indonesia” dengan presentasi kelas yang menggunakan full Bahasa Indonesia, hampir ditolak komite cuyy!! Disarankan komite, saya harus pakai English, hehehe.. tapi tekad udah jelas.. saya keukeuh ke komite : kalau mengadakan konferensi di Indonesia sebaiknya ada materi yang berunsur budaya lokal dan sesuai kebutuhan negeri ini.. *weitss..woles, Vy..

Alhamdulillah mereka support.. maka disinilah pertama kali saya membagi persiapan membaca Bahasa Indonesia dengan metoda montessori. Finally… saya dikasih, nyelip satu kelas – satu-satunya yang fully speak in Bahasa.. yang akhirnya di konferensi-konferensi berikutnya selalu menjadi lebih banyak kelas-kelas yang materinya dipresentasikan dalam Bahasa Indonesia. Yup.. saya hanya berpikir, jangan nanggung lah kalau mau berbagi ilmu dan memajukan pendidikan Indonesia, Bahasa yang masih mayoritas dipahami dan dikuasai di negeri kita ini ya masih Indonesia kok.. Sekolah-sekolah yang pakai Bahasa Inggris mah udah keruan levelnya ada dimana.. kualitasnya juga.. Nah justru yang perlu di-upgrade adalah sekolah-sekolah lainnya lah yang mayoritas masih berbahasa ibu pertiwi. Mereka harus bisa masuk untuk dinaikkan wawasan dan kualitasnya.. Merdeka! *lhaa..hahaha..

*eh naha jadi curhat yah..?*

Yuk ah kita baca-baca materi yang sesuai dengan judul di atas.. Mari kita mulai belajar Bahasa Inggris 😊

Tapi sebelum mulai baca, mau narsis dulu sama pemateri topik judul ini boleh ya..

Ini foto bareng saya dengan Mr. Tim Seldin, Bapak yang hangat dan baik hati.. *ssstt.. ehmm..



Does Montessori Prepare Children For The Real World?

In a word, Yes. Here’s why..

1.   Montessori help children master the intellectual skills and knowledge that are basic to our culture and technology. As Montessori students master one level of academic skills they are able to apply themselves to increasingly challenging works across the academic disciplines. They tend to be reflective scholars. They write, speak, and think clearly and thoughtfully. They have learned how to learn by doing real things in the real world – experiential learning. They have learned how to integrate new concepts, analyze data, and think critically. Children who grow up in Montessori schools tend to be culturally literate, well educated, and highly successful in university and later life.

2.   Montessori develop intrinsic motivation : the innate desire that drives students to engage in an activity for enjoyment and satisfaction.

3.   Montessori cultivates creativity and originality : Montessori students are normally exceptionally creative in their thinking and confident in self-expression. They recognize the value of their own ideas, respect the creative process of others and are willing to explore ideas together in search of truth or new solutions.

4.   Montessori students tend to be extraordinarily self-confident and competent. They perceive themselves as successful people, but are not afraid of making and learning from their mistakes.

5.   Montessori students do not see themselves as “children”, but as young members of the world. They tend to look up to teachers and other adults as mentors, friends, and guides rather than as unwelcome taskmasters who place limits on their freedom.

6.   Children who grow up in Montessori rarely feel the need to rebel and act out. Although even Montessori children will explore the limits and test their parents’ resolve, they basically follow an inner creed of self-respect. They accept limits and tend to follow common sense. Moreover, they have a tendency to consciously reach out to their friends and the larger community, seeking ways to help others and make a positive contribution to the world.

7.   Montessori children are not easily influenced by their peer group to do anything stupid. Like all of us, children who grow up in Montessori Schools want to have friends and are affected by their interests and attitudes. On the other hand, in addition to having grown up in a culture that consistently teaches and follows universal values of kindness, honor, and respect. Montessori children tend to think for themselves.

8.   Montessori students are often spiritually alive, exceptionally compassionate, empathetic, and sensitive to the natural world and the human condition.

In summary, these children that we’re raising aren’t perfect, but they tend to be terrific kids. They have all the values and attitudes that pay off in college and the real world. They aren’t afraid of hard work. They are eager to learn, think and explore new ideas. They enjoy people and know how to develop strong friendships. They generally follow the rules and act responsibly. They live from a basic sense of self-respect and rarely get themselves into self-destructive situations. They tend to be self-disciplined and fairly well organized. They tend to meet deadlines, come to class prepared and actually enjoy their classes.

Does Montessori prepare children for the real world? They are the average college professor’s dream come true. In the world after college, they tend to become lifelong learners, creative and energetic employees and quite often entrepreneurs.

Montessori students tend to develop great character : people who can be trusted and on whom one can depend. They tend to exhibit warmth, humanity and compassion. Their lives tend to reflect both joy and dignity. This is the type of men and women we hope our sons and daughters will grow up to be.

This is the ultimate outcome of a Montessori education.


Jadi... kalau di Bahasa Indonesia-kan kira-kira beginilah... (kesimpulan saya)

Singkatnya, anak-anak yang dibesarkan dengan lingkungan atau metoda Montessori memang tidak sempurna, tetapi mereka cenderung menjadi anak-anak yang luar biasa, tangguh dan handal. Mereka memiliki semua nilai-nilai dan sikap yang dibutuhkan di perguruan tinggi dan dunia nyata. Mereka tidak takut kerja keras. Mereka bersemangat untuk belajar, berpikir dan mengeksplorasi ide-ide baru. Mereka menikmati sosialisasi dengan sesama manusia dan tahu cara membangun persahabatan yang kuat. Pada umumnya mereka taat pada aturan dan bertanggung jawab. Kehidupan mereka berawal dari kuatnya dalam menghargai diri sendiri sehingga jarang membuat mereka terbawa ke dalam situasi yang merusak diri sendiri. Mereka cenderung berdisiplin diri dan hidup teratur. Mereka juga mampu memenuhi tugas dengan tenggat waktu, datang ke kelas dengan penuh kesiapan diri serta benar-benar menikmati kegiatan belajar di kelas mereka.

Apakah Montessori mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata? Jawabannya adalah : Ya, salah satu contohnya adalah mereka memiliki standar rata-rata yang diharapkan para dosen atau profesor di perguruan tinggi. Setelah kuliah nanti, mereka mampu menjadi pembelajar yang aktif seumur hidup, kreatif, karyawan yang penuh semangat dan cekatan serta bisa pula menjadi pengusaha handal.

Mereka juga cenderung mampu untuk mengembangkan karakter-karakter positif seperti : menjadi individu yang dapat dipercaya dan mampu menjadi tempat bergantung. Mereka akan menunjukkan kehangatan, berperikemanusiaan dan mempunyai empati. Kehidupan mereka cenderung penuh dengan sukacita (kebahagiaan) dan rasa saling hormat-menghormati.
Jelas, bahwa itu semua adalah tipikal manusia yang pastinya kita harapkan dari pertumbuhan putra dan putri kita.

Dan semua hal di atas tadi adalah gambaran (sekaligus harapan) hasil akhir yang tertinggi dari metode Montessori.


Who is Tim Seldin?
President of The Montessori Foundation & Chair of International Montessori Council

His almost forty (40) years of experience in Montessori education includes twenty-two years as Headmaster of the Barrie School in Silver Spring, MD, his own alma mater (age two through high school graduation). He has also served as the Director of the Institute for Advanced Montessori Studies and as a Head of the New Gate School in Sarasota, Florida. He earned a B.A in History and Philosophy from Georgetown University, an M.Ed. in Educational Administration and Supervision from the American University and his Montessori certification from the American Montessori Society.

Tim Seldin is the author of several books on Montessori Education, including his latest, How to Raise an Amazing Child, The Montessori Way with Dr. Paul Epstein, Building a World-class Montessori School, Finding the Perfect Match – Recruit and Retain Your Ideal Enrollment, Master Teachers – Model Programs, Starting a New Montessori School, Celebrations of Life, and The World in the Palm of Her Hand.

Tim is the father of three former Montessori students (Marc, Michelle and Caitlin), stepfather to two  more former Montessori students (Robin and Chelsea) and the grandfather of two Montessori children : Hollis and Alexander. He lives on a small vineyard north of Sarasota, Florida with his wife : Joyce St. Giermaine, their four horses, twenty dogs and two hairless Sphinx cats.
(copy from his summary profile – Montessori Conference 2012)

Mudah-mudahan blog saya bermanfaat untuk semua ya…

Ingat-ingat.. Tolong garisbawahi bahwa topik ini hanya dari sudut pandang seorang montessorian yang sudah berpengalaman lama dalam mengamati output individu Montessori sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Mohon tetap jangan sempit dalam memandang, teruslah belajar dan mencari tahu dari sudut pandang yang lainnya, tetap buka mata buka hati terhadap pengayaan wawasan. Olah dan pikirkan kembali sesuai kebutuhan, pilihan tetap ada di tanganmu, temans..

Enjoy my blog 😊








Sabtu, 01 Juli 2017

Guru Rumah Montessori itu (harus) KEREN


Salah satu syarat untuk terjun ke dunia Pendidikan Anak Usia Dini adalah memiliki pengetahuan yang memadai tentang anak usia dini itu sendiri. Terutama seorang tenaga pendidik. Tenaga pendidik anak usia dini sepertinya harus mempersenjatai dirinya lengkap dengan keilmuan yang dibutuhkan dalam menjalani profesinya.

Rumah Montessori berupaya sangat agar para fasilitatornya memiliki keterampilan yang memenuhi syarat untuk itu selain dari skill metoda Montessori. Rumah Montessori pun ingin agar para fasilitatornya mendapat energi positif dengan melabeli dirinya : jadi guru PAUD itu keren!
Keren? Ya.. keren tentu, karena para fasilitator Rumah Montessori mau agar institusi ini benar-benar komit pada visi misi yang didukung oleh tenaga fasilitator di lapangan yang handal dan paham benar akan posisi-nya. Keren, karena fasilitator anak usia dini itu haruslah seorang yang siap menjadi : ibu, pengajar, fasilitator, manajer, perawat, dokter anak, pengasuh, teman bekerja dan bermain yang menyenangkan, ahli gizi, terapis, psikolog, konsultan, observer, penjaga keselamatan, asesor, EO, sampai pada level pelayan yang siap membantu saat anak membutuhkan dan petugas kebersihan handal. Lengkap!

Untuk meningkatkan keterampilan kami agar bisa sampai di tahap ‘siap’ menjadi pendidik anak usia dini dengan kualifikasi yang excellent, tim fasilitator Rumah Montessori alias semua komponen staf Rumah Montessori mengikuti rangkaian program sertifikasi Pendidikan Anak Usia Dini (Early Child Educator Program) di Pusat Pelatihan Rumah Aruna Serpong yang dibimbing oleh instruktur handal berpengalaman, hangat dan ‘humble’ : Ibu Eva Sidabutar beserta tim.
Program yang kami ikuti adalah sebagai berikut :












si orang sakti mandraguna tentang pendidikan.. #evasidabutar




Inilah foto kegiatan kami selama ikut pelatihan. Walau program berjalan intensif setiap hari dari pagi hingga sore hari, tapi pelatihan ini bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan, hangat, inspiratif, menantang, tidak boring dan mampu memberikan energi positif kepada setiap pesertanya. Bahagia rasanya mendapat respon dari para guru tentang manfaat positif dari pelatihan panjang ini.

Terimakasih Ibu Eva Sidabutar dan tim pelatih lainnya.. ilmu yang dibagi akan membekas sepanjang masa. Terimakasih telah menjadikan kami – para guru Rumah Montessori berproses menjadi ‘guru PAUD yang keren’! Kami semakin siap berada di dalam jejaring ke-PAUD-an J

Mudah-mudahan kami dapat amanah menjalankan kualifikasi yang baik ini sehingga dapat semakin dipercaya menjalankan semua visi misi pendidikan Indonesia yang lebih baik.




Selasa, 02 Mei 2017

Konsep Konkrit Matematika dalam Metoda Montessori Part-2

Konsep konkrit di matematika Part-2

Nah.. Muncul deh si 'bintang tamu' nya.. Inilah seperangkat alat montessori yang mungkin sudah familiar bagi teman2 yg sering mencari tahu tentang montessori untuk level anak usia dini.
Beginilah penampakan materi persiapan sebelum sampai pada tahap yg dijelaskan sebelumnya di notes Part-1.
Ketiga alat di foto ini dikenalkan di level usia prasekolah. Mereka disediakan di Area Sensorial (Area Stimuli Indera) yg menjadi dasar persiapan menuju pemahaman konkrit matematika bilangan berpangkat 1, 2 dan 3 tadi.
Ini hanyalah contoh alat peraga.. Mungkin masih banyak alat peraga konkrit lainnya yg saya sendiri belum tahu. Hanya mau bagiin sesuatu yg udah agak lama saya tahu aja.. Mudah-mudahan setidaknya dapat menginspirasi siapapun untuk mengambil esensi dan prinsip utamanya bahwa anak usia prasekolah membutuhkan alat peraga konkrit dan betapa pentingnya itu semua untuk membawa kepada sebuah pemahaman. 
Terlepas dari apakah itu alat montessori atau bukan dan gak harus selalu pakai alat montessori. Yang penting dalam menyediakan alat peraga, sang fasilitator paham tahapannya, fungsi dan tujuannya serta jelas mau mempersiapkan ke aspek mana.
Sekarang, mari kita gosipin alat-alat yang ada di foto ini :
- Red Rods (Long Rods)
Merupakan susunan tangga tongkat merah untuk konkrit persiapan menuju bilangan berpangkat 1. Bentuknya flat, yg berbeda adalah selisih panjang setiap urutan tongkatnya. Hanya panjangnya yg berubah. Anak diminta mengurutkan tongkat ini sesuai urutannya dari yg paling panjang di posisi teratas sampai yg terpendek di posisi terbawah dengan rata sebelah kiri. Visual mereka dilatih agar paham bentuk konkrit tentang panjang pendek untuk bisa sampai nantinya ke konsep lebih banyak dan lebih sedikit di matematika.
- Broad Stair (Brown Stair)
Merupakan susunan tangga coklat untuk konkrit persiapan menuju bilangan berpangkat 2. Bentuknya seperti undakan tangga. Bila kita melihat dari arah depan susunan tangga coklat, yg terlihat adalah adanya perbedaan ukuran di 2 sisi yaitu pada sisi tinggi dan lebar si balok coklat untuk setiap urutan balok yg disusun dari yg paling besar di kiri ke yg paling kecil di kanan. Bagian sisi panjang balok (prisma segi empat) ini tetap ukurannya, tidak berubah.
- Pink Tower
Merupakan susunan menara merah muda (pink tower) untuk konkrit persiapan menuju bilangan berpangkat 3. Bentuknya seperti menara yg terdiri dari urutan sebuah bangun ruang berbentuk kubus. Yang terlihat adalah adanya perbedaan ukuran di 3 sisi yaitu pada sisi panjang, lebar dan tinggi pada setiap urutan kubus yg disusun dari yg paling besar di posisi terbawah ke yg paling kecil di posisi teratas.
Sebelum melangkah ke tahapan belajar matematika, sang anak dipersiapkan secara menyeluruh dengan dilatih mulai dari motorik kasar & halusnya, sensor visualnya, perabaannya dan sensor proprioseptifnya (otot) melalui aktivitas yang terintegrasi : 
- membawa satu persatu peralatan ini ke area kerja sehingga ada kegiatan jalan-bungkuk-berdiri-jongkok-keseimbangan-genggam alat-menjumput dg jari untuk alat ukuran kecil (latihan motorik kasar & halus)
- membawa beban : balok kayu yang ber'massa' (latihan perabaan, sensor otot) 
- mengelompokkan, membandingkan, mensorting dan mengurutkan ukuran & dimensi setiap balok/tongkat (latihan visual, perabaan, logika, daya pikir).
Dalam matematika, sudah pasti kita akan selalu membutuhkan & melakukan kegiatan dasar tadi : membandingkan, mensorting, mengurutkan, mengelompokkan.
Itulah paket lengkap untuk anak usia dini yang sedang sangat membutuhkan banyak stimulasi & latihan untuk mengoptimalkan semua indera-nya sebagai bekal mereka untuk kesiapan ke tahap belajar selanjutnya. 
Manusia membutuhkan dan akan memakai seluruh indera nya untuk belajar apapun 
Sayangnya.. hal krusial inilah justru yang tidak banyak dikerjakan untuk level anak usia dini, suka main langsung aja ke kertas soal.. hehe. -mungkin.. karena memang tujuannya lebih untuk ke bisa jawab soal ketimbang paham konsep 'kali ya..-
https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/ffb/1/16/263a.png
Begitulah perjalanan metoda ini mempersiapkan anak usia dini untuk bisa sampai ke subjek matematika. 
Tahapan dan SOP nya jelas & sistematis, tidak berantakan atau seingat-ingatnya si fasilitator, sehingga kekurangmatangan dalam pemahaman bisa terpantau dan teratasi dengan baik masalahnya.
Pertanyaan pentingnya adalah : sudahkah prasekolah-prasekolah (TK-KB) yg ada di kita memahami sistematika tahapan persiapan seperti ini? Sudah seberapa maksimal kah prasekolah2 di kita membekali anak dengan konsep2 konkrit melalui alat peraga real seperti ini? 
Alat peraga real yg dimaksud bukan hanya alat montessori lho ya.. no mention.. no promo.. no jualan.. 
Alat
peraga apapun, bahkan buatan guru sendiripun, asal guru paham prinsip utama, jelas fungsi tujuan dan tahapannya : silakan dipakai https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/ffb/1/16/263a.png
https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/ffc/1/16/1f44d.png👍 (ini malah keren banget).
Sepanjang saya berjalan, masih banyak menemukan prasekolah yang mendominasi kegiatan sekolahnya dengan worksheet (kertas2 & buku2 lembar kerja) dan langsung skip mengenalkan anak usia dini ke konsep abstrak. Padahal.. sampai setidaknya ke level lower elementary pun (SD kelas 3) konsep konkrit masih ada saja yg diperlukan.

Dan sepertinya.. mungkin saya termasuk produk yg kurang kritis berpikir karena kebanyakan dijejali konsep abstrak dari awal mula (saking abstraknya, sampe bingung : apa yang mau di'penasaran'in gak muncul2 - karena saking gak kebayang tea - heuheuu.. https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/fd0/1/16/1f602.png😂https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/fd0/1/16/1f602.png😂)
*ah sudahlah.. agak baekan sekarang mah.. karena faktor 'U'

Konsep Konkrit Matematika dalam Metoda Montessori Part-1

Konsep konkrit di matematika Part-1


Beginilah penampakan konkrit sebuah konsep matematis dari bilangan pangkat 1, pangkat 2 dan pangkat 3 melalui material short bead stairs dalam montessori.
.
Bilangan pangkat 1 : tampilan konkritnya adalah seperti segitiga paling kanan.. yang bentuknya flat rata, yg berbeda hanya ukuran panjangnya. Kalau diumpamakan sebagai bangun geometri, dia adalah bagian yang paling sederhananya yaitu : salah 1 sisi nya saja yg satuan ukurnya berpangkat 1 seperti mm, cm, dm, m dst. 
Sehingga tampak di gambar : 
.
biji paling atas : 1 pangkat 1 = 1 (biji merah) 
.
biji baris kedua : 2 pangkat 1 = 2 (biji hijau)
.
biji baris ketiga : 3 pangkat 1 = 3 (biji merah muda).. dst.
.
Kalau di Area Sensorial, inget bentuk tangganya si 'long rods' (red rods) atau tongkat merah ya..
.
.
Bilangan pangkat 2 : tampilan konkritnya adalah segitiga berbentuk piramid (tengah) yg tersusun dari lempengan-lempengan bangun datar bujursangkar atau segi empat sama sisi 2 dimensi yg ditampilkan lewat jumlah biji yg selalu sama untuk keempat sisinya. Bilangan pangkat 2 ini kalau diumpamakan ke bangun geometri versi bangun datar adalah bangun 2 dimensi yang memiliki 2 sisi sama panjang yg kita biasa menyebutnya dengan sisi kanan & kiri, sisi atas & bawah, alas & tinggi ataupun panjang & lebar yang bila kedua sisi sama panjang tsb dikalikan, akan diketahui luasan bidangnya dan nantinya akan menghasilkan satuan ukuran berpangkat 2 yaitu : luas, seperti m² (meter persegi), cm² (centimeter persegi), dm² dst. 
Sehingga terbukti dalam material ini :
.
sisi x sisi yg terkecil teratas = 1 biji x 1 biji = 1 x 1 = 1² = 1 (biji merah)
.
lempeng level kedua = sisi x sisi biji hijau = 2 biji x 2 biji = 2 x 2 = 2² = 4 (biji hijau)
Jadi, kalau kita ambil contoh : jika ada sebuah segi empat dg ukuran semua sisi-sisinya 2 cm maka luasnya adalah 2 x 2 cm = 2² cm = 4 cm²
.
lempeng level ketiga : sisi x sisi biji merah muda = 3 biji x 3 biji = 3 x 3 = 3² = 9 (biji merah muda).. dst
.
Kalau di Area Sensorial, pengenalan konsep bilangan pangkat 2 ini bisa dilihat dari 'brown stair' alias tangga coklat untuk versi bentuk bangun ruang nya..
.
.
Bilangan pangkat 3 tampilan konkritnya adalah bangun segitiga ber-ruang yang berbentuk menara (paling kiri) yg tersusun dari balok 3 dimensi berbentuk bangun ruang segi empat sama sisi atau kubus. Kalau dikonversikan ke bangun geometri dia adalah bangun ruang 3 dimensi yang memiliki 3 sisi sama panjang. Kita biasa menyebutnya dengan panjang - lebar - tinggi yang bila ketiga sisi sama panjang tsb dikalikan, akan diketahui isi atau volume bangun ruang dan menghasilkan satuan ukuran volume yg berpangkat 3 (kubik), seperti m pangkat 3 (meter kubik), cm3 (centimeter kubik), dm3 dst. Sehingga terbukti dalam material ini :
panjang x lebar x tinggi yg terkecil teratas = 1 biji x 1 biji x 1 biji = 1 x 1 x 1 = 1 pangkat 3 = 1 - buah (biji merah)
.
kubus level kedua = panjang x lebar x tinggi = 2 biji x 2 biji x 2 biji = 2 x 2 x 2 = 2 pangkat 3 = isinya ada 8 - buah (biji hijau)
.
kubus level ketiga = panjang x lebar x tinggi = 3 biji x 3 biji x 3 biji = 3 x 3 x 3 = 3 pangkat 3 = isinya ada 27 - buah (biji merah muda).. dst
Jadi kalau kita ambil contoh : jika ada sebuah kubus dg ukuran panjang 3 cm, lebar 3 cm dan tinggi 3 cm, maka volume atau isinya adalah 3 x 3 x 3 cm = 3 pangkat 3 cm = 27 cm3 (27 cm kubik)

Kalau di Area Sensorial, pengenalan konsep bilangan pangkat 3 ini bisa dilihat dari 'pink tower' alias menara merah muda untuk versi bentuk bangun ruang nya.. Pasti inget dong ya.. Secara si pink ini populer banget..
.
Pertanyaan pentingnya adalah : saya dulu hanya mampu menghafal rumus luas, volume dan hasil perkalian bilangan pangkat-pangkatan ini, tanpa tahu mengapa..
*sudahlah..