Jumat, 12 April 2013

Neo Rumah Montessori


Hai blog yang kucintai.. Apa kabarnya.. widiih..lama ya gak nulis nulis disini.. Kesibuk-an amat siihh.. Sampe pergantian tahun pun tak tersentuh..

Padahal bisa kalau mau nyempetin curhat mah.. hehehe..
Sebelum nyeritain tentang ‘kemana aja si saya’ selama ini, mau cerita dulu tentang Rumah Montessori yang sudah pindah nempatin lokasi baru dulu yaa..

Lokasi baru : Jl. Kencana Raya J5/7 Kencana Loka BSD Sektor 12 Tangerang Selatan

Ini cerita seru lho..dan saya mau keep di blog ini..
Setelah “memastikan diri” (bukan dipastikan orang ya.. karena keputusan dan masalah memastikan ini harus saya ambil cepat sehubungan dengan banyaknya rencana yang akan dan harus dilakukan dengan target waktu yang sudah ditentukan oleh si saya) bahwa lokasi lama tidak dapat diperpanjang lagi masa sewanya.. saya buru-buru hunting untuk cari lokasi baru dengan sekian kriteria yang sudah ada di kepala. Mulai dari harus di lokasi strategis, layak huni, minim renovasi, dekat dengan rumah (euleuh manja pisan..mani ga mau jauh-jauh dari rumah.. hahaha..) dan dengan budget blablabla..

Mulai dari minta info ke agen-agen yang sudah kenal, searching di internet sampai survey langsung ke area TKP yang diminati. Akhirnyaa…dapeeett..! Semua kriteria tadi dapeet lhoo.. Alhamdulillah.. tapi beneran deh ini perjuangan banget, dari mulai gak yakin bakalan dapetin, ngelunasin bahkan nge-renov-nya sesuai dengan keinginan hati.. duh ya Allah.. darimana uang-nya? Karena pingin bikin Rumah Montessori ini jadi sekolah rumah-an juga.. sebuah Rumah Belajar yang bermetoda Montessori berbahasa Indonesia. Yang tadinya cuma buat kursus, mau dong bisa jadi ‘sekolah’.

Terimakasih yang sebesar-besarnya terutama kepada Tuhanku – Allah SWT.. atas kehendakNya, saya dibantu dan ditolong oleh seseorang yang tidak asing..dia adalah kakak kandung saya.. Hatur nuhun Kang :’) Tanpa dirinya, saya gak mungkin bisa mewujudkan salah satu ‘mimpi’ saya ini..

Dan pihak-pihak lain yang ngga bisa saya jembreng satu-satu di blog ini. Pokonya mah nuhuuunn!

Cerita berlanjut.. sebuah proses renovasi dijalanin dengan target waktu yang cukup kenceng, karena merasa gak mau rugi waktu. Wuih..banyak banget cerita di balik ‘perombakan’ Rumah Montessori baru ini.. Mulai dari deal dengan tukang borongan yang ternyata bisa berubah jumlah dana yang dimintanya di awal, sedikit ada bersitegang dengan tukang, si saya yang jadi orang super heboh bin rewel karena kerjaan engga bener (money talk berlaku banget euy!), anak sulung masuk rumah sakit, disambi dengan jadwal super ketat pelatihan ulang-alik luar kota.. heeuuupp! Ngetiknya juga sampe hah heh hoh..capee..tarik nafas dulu yah.. Tapii..sekali lagiii.. Saya percaya banget sama kata-kata mantan pacar : You can because you think you can!

Yang jelas bangunan ini saya otak-atik sesuai inginnya si saya, pemirsah! Dan inti dari blog saya kali ini.. teruslah kejar dan wujudkan mimpi-mu satu demi satu, jika gagal jangan pernah berhenti dan mengubah mimpinya tapi ubahlah strateginya (copas dari orang bijak ini mah..)
Satu lagi.. infotainment ini mah : memang yaa..kalau kepepet plus keukeuh, orang teh bisa aja cari jalannya sampe dapet ;)
 

Silakan dilihat-lihat.. siapa tahu ada yang tertarik buat daftarin anak-anaknya ke Rumah Montessori.. ditungguu banget.. diajar oleh saya langsung lhoo.. hehehe..*kegatelan pingin deket sama anak-anak terus tuh.. (Yes! Because they're so amazing..) Ga pa pa yaa sekalian promosi..

 



 









 

 

Minggu, 09 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 3) - SELESAI


Ketika posisi guru Montessori berada dalam lingkup yang lebih luas yaitu dalam kelas, hal yang diharapkan darinya adalah :

-          Menjadi panutan yang baik bagi para anak didiknya (good role model). Anak-anak dalam masa emasnya mempunyai kecepatan menyerap informasi dan pengetahuan yang tinggi. Dia pun akan dengan otomatis mudah mencontoh apa yang dilihatnya. Sebagai guru Montessori tentu harus berhati-hati baik dalam bersikap dan berbicara, karena anak-anak akan meniru semua itu.

-          Konsisten dan tegas dalam menerapkan disiplin di kelas. Berbahasa yang sopan dan berbicara dengan nada lembut juga diperlukan ketika menghadapi anak-anak secara personal.

-          Guru Montessori akan menjaga agar lingkungannya selalu aman, tenang, damai, rapi, teratur, dan bersih. Anak-anak juga akan mengamati dan belajar untuk ikut serta mewujudkan kondisi seperti itu.

-          Guru Montessori akan terlihat selalu dekat, bergerak dan sibuk dengan anak-anak. Dia tampak selalu berada dekat dengan anak-anak serta siap untuk melayani dan mengarahkan jika diperlukan. Itulah mengapa di kelas Montessori tidak ditemukan meja guru atau papan tulis di depan kelas, karena semua kegiatan belajarnya terpusat pada aktivitas anak-anak.

-          Guru Montessori tak pernah berhenti mengamati aktivitas anak-anak, karena memang tugasnya yang terpenting adalah mengamati setiap perkembangan mereka.

 

Mungkin ada sebersit pertanyaan mengenai judul essai “Menjadi Guru Montessori Ideal” ini. Mengapa penulis menambahkan judul essai yang dianjurkan pelatih dengan menambah kata “menjadi” ? Sebab menurut penulis, judul ini rasanya lebih tepat dengan paparan yang diungkapkan di sini. Karena dalam tulisan ini selain penulis menguraikan hal-hal yang berbau teoritis, ada hal yang ingin penulis sampaikan secara persuasif kepada siapapun yang menginginkannya untuk dapat bersama-sama melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Menjadi” adalah sebuah kata yang menunjukkan sebuah proses. Di dalamnya sarat akan makna ‘perjalanan’ menuju kesempurnaan karena kita sebagai manusia walaupun berprofesi seorang guru sekalipun bukanlah makhluk yang sempurna. Kita hanya dapat berusaha untuk menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Jadi, menurut Mochtar Buchori (2007) : bahwa menjadi guru ideal pada umumnya, apapun itu metodenya, merupakan proses melakukan usaha secara terus-menerus untuk :

  • Meningkatkan pengetahuan serta meningkatkan penguasaan terhadap materi pembelajaran
  • Meningkatkan kemampuannya menyampaikan materi pembelajaran secara efektif, edukatif, dan dialogis
  • Meningkatkan kualitas ‘hubungan pedagogis’ dengan para siswa, yakni menjalin hubungan pribadi dengan siswa yang didasarkan atas kepercayaan (trust)

Jika usaha untuk menjadi guru ideal dijadikan sebagai acuan guru-guru di Indonesia, saya percaya mereka akan berhasil membentuk para peserta didiknya menjadi manusia yang berkualitas.
 
S E L E S A I :)



REFERENSI

Buchori, Mochtar. Handout Seminar Menjadi Guru yang Profesional. 11 April 2007

Rachman, Arief DR. MPd.. Handout Seminar Membentuk Guru yang Kreatif dan Inovatif Menghadapi Era Globalisasi.

Gettman, David. Basic Montessori Learning Activities for Under Fives. New York. St.
Martin Press. 1997.

Hainstock, Elizabeth G. Essential Montessori Updated Edition. New York. Plume Printing. 1986.
 
Lillard, Paula Polk. Montessori A Modern Approach. New York. Schocken Books. 1972.

Module I Montessori Philosophy

Pengalaman pribadi penulis sebagai anak didik sebuah sekolah pada zamannya

Pengalaman pribadi penulis sebagai guru di Pra sekolah Bandung Montessori School

 

Selasa, 04 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 2)


Guru ideal yang diperlukan dalam sistem pembelajaran dengan metoda Montessori adalah guru yang mengajar hanya sedikit, tetapi banyak mengamati dan hanya mengarahkan anak untuk melakukan latihan-latihannya sendiri. Dia lebih banyak pasif daripada aktif . (Lillard, 1972).
 
Yang perlu dilakukan dalam melaksanakan tugasnya sebagai fasilitator ketika menghadapi anak secara perseorangan dalam kegiatan belajar :
 
-        Pandanglah anak dengan sungguh-sungguh dengan melakukan kontak mata yang baik dan samakan ketinggian kita dengannya ketika berbicara. Berbicara dengan lembut dan berada benar-benar di dekatnya membuat semua komunikasi menjadi efektif dan efisien.
 
-        Guru dan anak didik diharapkan dapat saling belajar dan bekerja sama. Jangan pernah sungkan untuk belajar dari anak didik dan jangan pernah ‘gengsi’ untuk mengatakan tidak tahu maupun mengakui kesalahan. Anak didik berperan sebagai subjek dan objek dalam kegiatan belajar mengajar. Guru Montessori bukan pusat perhatian kegiatan belajar, melainkan anak didik yang menjadi pusat perhatian kegiatan belajar. (Lillard, 1972)
 
-        Dalam mengajarkan sesuatu, guru Montessori mempunyai tahapan-tahapan terstruktur yang dimulai dari mengenalkan, mengerjakan, menyelesaikan sampai pada tahap memberi kesempatan kepada anak didik untuk mencoba. Hal yang penting untuk diketahui adalah, ketika anak mempelajari hal tersebut bukanlah semata-mata belajar langsung dari gurunya tetapi justru dia belajar melalui kemampuan pengamatannya sendiri. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986)
 
-        Untuk itu, sebagai guru Montessori jangan pernah bosan untuk mengulang terus memberi tahu anak bagaimana cara mengerjakan latihannya dengan benar karena dengan latihan yang dikerjakan berulang-ulang itulah yang membuat kemampuan pengamatan si anak akan meningkat sehingga cepat atau lambat anak akan menemukan sendiri kesalahannya. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986)
 
-        Ketika anak tengah bersemangat mengerjakan latihannya sendiri, guru Montessori sebaiknya tidak melakukan interupsi. Kunci suksesnya adalah ketika anak mulai berkonsentrasi penuh, berlakulah seakan-akan seperti anak tidak ada. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986). Biarkanlah anak mengerjakan latihannya dengan cara dan kemampuannya sendiri. Karena jika interupsi dilakukan, maka konsentrasi anak akan terganggu. Konsentrasi anak adalah hal terpenting dalam aktivitasnya.
 
-        Ketika anak selesai mengerjakan latihannya hal yang perlu diingat seorang guru Montessori adalah jangan pernah membuat anak merasa dia telah berbuat kesalahan. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986). Karena hal inilah yang dapat menjadi penyebab ‘pembunuh’ terbesar dalam keinginannya untuk belajar dan mencoba. Membiarkan anak puas dengan apa yang telah dikerjakannya sendiri akan lebih baik untuk perkembangan rasa percaya dirinya.
 
Bersambung..

Sabtu, 01 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 1)

 
Pengalaman pribadi penulis di saat mengenyam pendidikan di sekolah dulu meninggalkan kesan yang khusus untuk para gurunya dan mungkin bagi sebagian orang yang sezaman, mereka akan mengangguk setuju ketika membaca tulisan ini.
Sosok ‘guru’ yang masih melekat di benak penulis ketika itu adalah sosok yang tidak pernah salah, pusat perhatian dalam kegiatan pembelajaran, ada perbedaan ‘strata sosial’ yang cukup jelas, komunikasi satu arah dan kadang tidak mau didebat ataupun diajak berdiskusi apalagi ‘belajar’ bersama (sharing) dengan peserta didik. Hmm.. sungguh-sungguh guru yang ‘sempurna’ ya.. pikir penulis hari ini.
Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan-kemajuan di segala aspek kehidupan, pemikiran pun sepertinya ikut ‘terbuka’ dan lebih berani dalam melakukan perubahan. Perubahan untuk menjadi lebih baik saya kira itu bagus, khususnya pada bidang pendidikan. Sosok ‘guru’ yang penulis uraikan di atas tadi, berangsur-angsur sudah sulit ditemukan. Terlebih lagi ketika penulis diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengalami sendiri menjadi guru yang ‘berbeda’ dari guru pada zamannya dulu.
Inilah kiranya titik awal penulis untuk bertekad melakukan perubahan pengajaran untuk menjadi lebih baik.
Di awal perkenalannya dengan metoda pengajaran Montessori dan sampai saat paparan ini ditulis, penulis banyak menganggukkan kepala tanda sepakat untuk hampir keseluruhan pemikiran yang terdapat di dalamnya.
Dalam Montessori Philosophy Module I, ide dasar metoda Montessori adalah spontaneous activity and independent learning, dimana sosok guru yang melekat di benak penulis saat bersekolah dulu tidak diperlukan lagi di alam pembelajaran seperti ini.
Guru yang harus ‘muncul’ untuk metoda yang berbasis seperti ini adalah seorang guru yang mampu menjadi fasilitator. Dia diharapkan mampu mencapai tujuannya yaitu :
-          Menggali dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak
-          Mengantarkan dan mengarahkan kemampuan intelektual, moral, dan budaya anak didik pada tingkat yang tertinggi.
Menurut pandangan saya, yang diharapkan dimiliki oleh seorang guru Montessori dari sisi kepribadiannya (personality) adalah :
-          Semangat yang tinggi
-          Penuh keikhlasan dan kesabaran menghadapi anak didik
-          Mengajar dengan sepenuh hati
-          Pantang menyerah
-          Selalu ingin belajar lebih banyak
-          Optimis dalam menghadapi anak didik, selalu percaya bahwa anak didiknya akan berhasil
-          Selalu terlihat ceria dan senang hati
Sedangkan kemampuan teknis yang diharapkan seperti yang tercantum dalam Montessori Philosophy Module I adalah :
-          Pengetahuan tentang metoda Montessori
-          Pengetahuan mengenai perkembangan anak
-          Kreatif dan penuh inspirasi dalam menstimulasi anak
-          Kapasitas pengetahuan yang layak
-          Kemampuan mengamati
Tapi menurut Maria Montessori sendiri bahwa kemampuan teknis bukanlah segalanya tetapi yang lebih penting dibangun dalam diri seorang guru adalah semangatnya.
It is my belief that the thing which we should cultivate in our teachers is more the spirit than the mechanical skill of the scientist. (Maria Montessori dalam Hainstock, 1986)
 
Bersambung...

Minggu, 25 November 2012

Montessori Di Mata Saya (Bag 4) - SELESAI


Masalah adaptasi di kemudian hari ketika masuk ke sekolah umum yang konvensional masih menjadi topik hangat. Tetapi, anak-anak lulusan sekolah Montessori di mana penulis pernah bekerja, belum pernah menemui keluhan seperti itu. Bahkan sekolah-sekolah yang mereka pilih termasuk sekolah favorit di kota ini dan masuk pada kategori disiplin yang cukup ketat dengan metoda konvensional yang kental. Tapi Alhamdulillah mereka semua berhasil ‘bertahan’ dan berprestasi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk sulit mengikuti segala aturan yang ada karena dasar-dasar untuk membekali anak agar dia bisa ‘survive’ adalah titik berat dan merupakan highlight dari metoda ini. ‘Help them to help themselves’ cukup holistik menjelaskan bahwa dia akan tangguh dimanapun berada dan dalam kondisi apapun karena anak dibekali sesuatu supaya dapat membantu dirinya sendiri dalam menghadapi apapun. ‘Be the best of themselves’ mengartikan bahwa apapun yang ada pada dirinya, anak akan merasa percaya diri dan nyaman dimanapun berada.

Satu hal lagi adalah metoda ini sudah kuno, memang benar karena sudah lebih dari satu abad diciptakan. Ini yang menjadi kekhawatiran orang banyak bahwa metoda ini sudah tidak relevan lagi dengan pendidikan zaman sekarang. Tentunya kita harus mengingat bahwa metoda ini berdasar dan bertumpu pada observasi anak dan menciptakan ide-ide yang tepat untuk membantu perkembangannya. Sudah pasti kita harus bekerja terus sesuai dengan perkembangan zaman termasuk juga terus memperbaharui kelas atau sekolah Montessori yang ada sesuai dengan kebutuhan. Tidak ketinggalan perubahan-perubahan pada perkembangan psikologi anak dan budaya pun perlu benar dipertimbangkan sesuai dengan perubahan yang terjadi dan kemajuan zaman.

            Salah satu yang penting untuk dibangun pada diri anak usia dini adalah menanamkan motivasi belajar yang tumbuh karena kesadaran sendiri. Hal ini termasuk sesuatu yang ditekankan dalam metoda Montessori.  Metoda ini membantu anak-anak untuk menjadikan pengalaman belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan, bukan hal untuk dihindari atau ditakuti. Tidak ada pemaksaan dan pendakwaan tentang kesalahan yang membuat anak jera dan takut untuk mencoba lagi. Yang ada adalah justru menumbuhkan kepercayaan diri dan memberi semangat untuk terus mau belajar dan belajar. Di sinilah letak fungsi guru yang menurut saya tepat diterapkan apalagi pada anak usia dini, yaitu sebagai pengarah. Karena saya percaya anak-anak punya gayanya sendiri dalam belajar. Tidak ada imbalan dan hukuman, mungkin bisa kita tawarkan sesuatu yang bersifat ‘acknowledgment’ ketika kita menemukan anak yang memang perlu di-support lebih.

            Kekuatan lain pada metoda ini ada pada guru-guru yang mempunyai kapasitas tepat sebagai pengarah. Karena di dalam pelaksanaannya guru akan dihadapi berbagai macam masalah anak dari yang mudah sampai yang tersulit. Menjadi pengarah bukanlah hal yang mudah, tapi akan menjadi mudah dan menyenangkan bila kita melakukannya dengan sepenuh hati, optimis, dan selalu ingin tahu lebih.

Selain alat-alat Montessori, guru-guru Montessori pun mempunyai syarat dan ketentuan tersendiri agar semua tujuan dari metoda ini dapat mencapai hasil yang optimal.

            Di akhir tulisan saya ini saya hanya bisa berharap dan mulai sedikit bergerak untuk paling tidak berkontribusi dalam merubah paradigma belajar mengajar di negara kita khususnya dalam pendidikan anak usia dini karena saat itulah masa-masa penting yang akan menjadi fondasi untuk kehidupan selanjutnya.

SELESAI..


Referensi
Einon, Dorothy Dr.. Anak Kreatif (Creative Child) Mengenali dan Membangkitkan Bakat Alami Anak Anda. Batam. Karisma Publishing Group. 2002.

Gettman, David. Basic Montessori Learning Activities for Under Fives. New York. St. Martin Press. 1997.

Hainstock, Elizabeth G. Essential Montessori Updated Edition. New York. Plume Printing. 1986.

Lillard, Paula Polk. Montessori A Modern Approach. New York. Schocken Books. 1972.
Woolfson, Richard C. Dr.. Bayi yang Cerdas Memahami dan Merangsang Perkembangan Anak
Anda. Batam. Karisma Publishing Group. 2002. (Terjemahan oleh : Ariavita Purnamasari)

Pengalaman pribadi sebagai guru di Pra sekolah Bandung Montessori School

Rabu, 21 November 2012

Montessori Di Mata Saya (Bag 3)


  • Penerapan dari metoda tokoh-tokoh terdahulu yang mempengaruhi Montessori seperti :

-          Jean Itard (1775-1838) àEducation of Sense

Saya percaya bahwa masa sensitif anak untuk belajar sesuatu, berbeda setiap anaknya dan dapat menjadi berkurang esensinya ketika masa sensitif itu telah lewat (atau bahkan akan kurang berhasil)

-          Edouard Seguin (1812-1880) àEducation Through Movement

Anak-anak memiliki energi yang luar biasa untuk bergerak dan tidak pernah terlihat lelah, karena itu adalah perioda sensitifnya mereka. Ketika mereka bergerak, saat itulah otak-otak mereka bekerja dan merupakan waktu yang tepat untuk mempelajari sesuatu.

Saya coba ilustrasikan sebuah contoh :

Di suatu sekolah sedang belajar tentang ‘IKAN’. Menurut saya, anak-anak akan lebih senang dan materi akan lebih cepat ditangkap ketika mereka bersama-sama masuk ke dalam kolam ikan dan mencoba menangkap ikan sambil mempelajari banyak hal seperti tempat hidupnya, bagian tubuhnya, caranya berenang, tekstur kulitnya, sifat air dan lain-lain. Selain itu mereka pun jadi mendapat pengalaman bagaimana caranya berjalan di atas air, membungkuk, menangkap, menjaga keseimbangan, dan lain-lain. Mereka akan berteriak kegirangan, menyebut apapun yang mereka lihat dan rasakan (kemampuan verbal terlatih), saling memanggil temannya, bermain cipratan-cipratan air dengan teman-temannya (social aspect), sentuhan pada macam-macam tekstur (sensorial aspect) , dan lain-lain. Banyak hal yang mereka pelajari dan begitu banyak pengalaman yang didapat melalui gerakan. Tentu tidak sesimpel judul materinya.

-          Jean Jacques Rousseau (1712-1778) àEducation Through Sense

Inilah salah satu pernyataan yang saya sepakati juga, bahwa anak belajar melalui seluruh inderanya. Di sinilah letak dimana anak-anak benar-benar harus dirangsang dan dilatih terus inderanya agar berkembang optimal. Indera yang optimal akan sangat membantu anak dalam mempelajari segala sesuatunya. Hal ini tertuang dengan jelas dan lengkap pada alat-alat edukatif Montessori dalam area Sensorial. Indera adalah ‘jendela’ untuk belajar.

Sebagai contoh, kita tidak akan dapat membaca bila indera penglihatan untuk mengenal simbol huruf, telinga untuk mendengar bunyi huruf, dan tangan untuk merasakan arah bentuk simbol huruf semuanya tidak terlatih dan berfungsi dengan baik.

Sampai detil Maria Montessori menciptakan alat-alatnya untuk keperluan itu dan disusun sedemikian rupa dari yang konkrit hingga abstrak dan dari yang mempunyai tujuan secara tak langsung sampai yang mempunyai tujuan secara langsung (yaitu dari mulai latihan-latihan di area Keterampilan Hidup, lalu area Stimuli Indera dengan latihan sound boxes, touch board, shape and dimension tools. Di area Bahasa dengan latihan metal insets design, sand paper alphabet hingga Large Moveable Alphabet serta pink series).

Metoda Montessori pun menekankan bahwa ‘process is more important than result’. Artinya anak tidak diajarkan sesuatu yang berbau instant, tapi lebih dari itu pemahaman konsep lebih diutamakan. Saya percaya bahwa ketika konsep dasar telah dikuasai, seseorang akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah yang lebih rumit sekalipun. Saya pun setuju dengan pelaksanaan metoda ilmu pengetahuan terapan yang  sudah mulai dilakukan beberapa sekolah, sepertinya lebih efektif untuk ditangkap oleh para siswanya

-          Johann Pestalozzi

Kelanjutan dari “Education Through Sense” yang dilatih dan dikembangkan dengan tahapan dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.

Sebagai contoh penataan alat di area Exercise for Practical Life, akan kita temukan bahwa yang diperkenalkan dan disimpan paling awal adalah menuang biji besar, biji kecil, lalu air. Menunjukkan bahwa anak akan lebih mudah dan tidak tumpah-tumpah dalam menuangkan biji-biji yang relatif mudah dikendalikan daripada menuangkan air (untuk tingkatan yang lebih sulit).

Penggunaan ‘didactic material’ dalam Metoda Montessori seperti yang telah saya ulas sebelumnya pada bagian tokoh-tokoh yang berpengaruh, memang melengkapi ‘kesempurnaan metoda Montessori’, namun ada hal lain yang lebih penting yang ingin penulis tuang dalam essai ini. Bahwa sekali lagi :

The materials are not magic and do not, by themselves, provide an environment responsive to the needs of the young child. The Montessori philosophy is the most important ingredient in this method, with the materials serving only as tools for its implementation

(Elizabeth G. Hainstock, 1986)

Jadi, apapun yang dipertentangkan oleh para pengkritik Montessori sepertinya saya mulai bisa berbicara lebih banyak bahwa kekuatan metoda ini ada pada filosofinya dan kelebihannya ada pada alat-alatnya.

Seperti kita ketahui, metoda ini kebanyakan dikritik pada bagian alat-alatnya, dinamika sosial, kreativitas, fantasi, masalah adaptasi di sekolah konvensional dan metoda yang sudah kuno. Sebagai orang yang pernah mempunyai pengalaman sendiri terjun dan berkecimpung dalam metoda ini dan sudah mempunyai cukup banyak ‘lulusan pra sekolah Montessori’, semuanya dapat terjawab dengan jelas bahwa :

Alat-alat jelas mempunyai arti penting untuk melatih dan mengoptimalkan kemampuan kognitif anak. Kelas vertical grouping (mix age 2-6 y.o) jelas memberikan pangalaman sosial yang berbeda pada anak yang berada dalam kelas dengan usia homogen. Masalah-masalah sosial di dalamnya lebih kompleks, sehingga anak akan mempunyai cara dan solusi tersendiri untuk menghadapinya.

Kreativitas anak-anak Montessori justru berkembang dengan baik karena mereka tetap diberi kesempatan untuk itu. Kreativitas yang selama ini ada dalam benak orang sepertinya masih tentang hal-hal yang berbau sesuka-sukanya dan bebas sebebasnya. Kesempatan itu tetap diberikan, tapi kreativitas yang positif adalah ketika seseorang telah mengetahui aturan main sesuatu, kemudian dia mengembangkannya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Dorothy Einon (2002): Ketika anak Anda pertama membuka piano dan mengetuk-ngetuk tutsnya, dia tidak sedang bermain musik. Untuk menjadi musisi kreatif, dia harus memahami bahasa musik dan harus berlatih keterampilan untuk memainkan alat musik atau menyanyi mengikuti nada. Pembedaan antara melakukan suatu aksi dan kreativitas murni dijumpai dalam semua bentuk ekspresi artistik

Anak-anak Montessori yang pernah saya hadapi juga nampaknya belum pernah ada masalah dengan fantasi. Mereka layaknya anak-anak pada umumnya tetap senang bermain peran dan menerima dengan wajar cerita-cerita berbau dongeng, karena saya percaya bahwa secara naluriah dan alamiah imajinasi dalam diri anak sudah ada. Seperti juga yang dikemukakan oleh Dr. Richard C. Woolfson (2002), bahwa anak pada usia perkembangan 13 bulan, dia mulai dapat menunjukkan imajinasi dan pada usia 14 bulan mulai dapat mengembangkan imajinasi dalam permainannya. Hanya saja, ada yang terekspos secara berlebihan dan ada yang wajar-wajar saja. Menurut saya, pemberian ruang gerak yang sesuai dengan kapasitas anak untuk berimajinasi adalah kata kunci agar anak tidak terjebak dalam dunia khayalan.
Bersambung..