Senin, 30 Agustus 2021

PJJ - Sekolah Online ala Rumah Montessori - Hybrid Class 2021 (Bagian-3 selesai)



Seri Rumah Montessori Berbagi Cerita Bertahan di Masa Pendemi

Update Info : Mulai pembelajaran tahun ajaran 2021-2022 ini sekolah kami menerapkan sistem hybrid class atau kelas campur online dan offline. Di mana kami mulai menambahkan ada sesi kelas tatap muka (selain online) yang dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan situasi kondisi dan bersifat optional artinya : orangtua diberi hak memilih sistem belajar online atau offline dengan muatan dan layanan pendampingan belajar yang berimbang.

Berikut infografis bagaimana detail Rumah Montessori merealisasikan semua poin penting yang harus dimiliki sebuah sekolah agar bisa menjadi sebuah sekolah Montessori online yang layak dibayar di masa pandemi (hasil belajar dari workshop) :







Berikut contoh apa saja isi paket kegiatan individual yang disiapkan guru dan diberikan kepada setiap siswa untuk dibawa pulang dikerjakan di rumah :







Kami mendokumentasikan apa-apa yang sekolah kami alami dan lakukan sepanjang perjalanannya lewat artikel tulisan ini. Jika sudah dibagikan secara public seperti ini artinya siapapun yang kiranya merasa semua konten tulisan kami ini dapat menginspirasi, bermanfaat dan ada yang bisa diambil hal baiknya, silakan.. Memang tujuan demikian. Feel free untuk mencontek konsep dan lain-lain karena kami yakin : walau resepnya sama, ‘taste’nya (hasilnya) akan beragam bergantung pada tangan si eksekutor (pengolah). No need to worry. Bahkan mungkin hasil teman-teman bisa lebih baik dari kami. Karena ini termasuk bukti ikhtiar kita semua untuk terus belajar, bertahan dan berjalan melalui semua tantangan yang harus dihadapi.

Tak lupa sebagai founder sekolah ini, saya merasa perlu menyelipkan surat cinta untuk tim guru tersayang saya.. 

Paling tidak,untuk saling menyemangati di masa-masa cukup sulit seperti ini. 



Dear ibu-ibu guru Rumah Montessori semuanya
Saya percaya kalian tim yang hebat sekaligus mampu untuk sama-sama belajar dan berkembang bersama. Upgrade semua skill kita. Ini kesempatan yang tepat dan bagus banget untuk bertumbuh dan meningkatkan kualitas kompetensi kita.
Setelah kalian kemarin jadi jagowan video recording, editing, jadi presenter, dll sekarang harus tambah lagi keterampilan lainnya ya..

Ibu-ibu guru yang keren.. Saya pribadi dan Rumah Montessori sungguh sangat berterimakasih atas segala kerja keras, kemauan belajar, keikhlasan dan kekompakan kalian. Rumah Montessori is nothing without it.
Saya juga percaya, semua upaya belajar bertumbuh untuk semakin terampil banyak hal ini bukan semata-mata untuk kepentingan institusi saja, melainkan akan lebih bernilai positif dan terasa keren ketika semua ini kita pandang dan nilai sebagai peningkatan kualitas hidup diri sendiri yang akan dibawa kemanapun kalian berjalan sepanjang hayat.
It wouldn't stay here and it's not for me or Rumah Montessori. Semuanya buat diri kalian sendiri.

Walaupun saya gak tahu nanti siswa aktif kita akan berapa, tolong kita sama-sama jangan berhenti berdoa ya.. Semoga banyak yang berkenan untuk berkolaborasi bersama Rumah Montessori. Aamiin..

Apapun yang terjadi, ikhtiar terbaik tetap harus dijalankan.
Yuk semangat untuk terus belajar meningkatkan kualitas yaa 

Love from Ibu Ivy Maya Savitri









Menjadi Sekolah Online Yang Layak Dibayar Orangtua (Bagian-2)


Seri Rumah Montessori Berbagi Cerita Bertahan di Masa Pendemi

Setelah menyadar bahwa sekolah kami menunjukkan gejala ‘terserang’ virus corona : pusing, sempet down juga (= stress), bingung (= meriang), kadang mentok merasa sulit ngembangin ide konsep belajar PJJ (= brain fog - anosmia) jadinya sekolah kami harus isoman buat rehat, belajar adaptif dengan situasi melalui pencarian info (= obat dan konsultasi ke ahli) sana sini supaya imun tetap kuat untuk bertahan hidup sambil terus jalan dan ikhtiar. Sekolah kami adalah survivor covid-19 at least sampai kini. Semoga bisa jadi penyintas yang semakin sehat, kuat, maju dan berkembang ke depannya. Aamiin!

Berbekal hasil semedi dan belajar banyak hal sana sini sambil tak henti berdoa, kami menemukan beberapa workshop yang kebetulan dimudahkan ketemu dengan topic yang sesuai dengan kebutuhan sekolah kami saat itu. Diantaranya workshop yang diselenggarakan oleh PGRI dan Sekolahmu, berikut link-nya :

https://youtu.be/zJmVmyNG2jE Judul : Kreatif PJJ – Sumber : PGRI

https://youtu.be/Ez9Jyj6rDbo Judul : Kreatif Penilaian PJJ – Sumber PGRI

https://youtu.be/5uTuaZGYhUA Judul : Kalau Gedung Sekolah Tutup, Apa Yang Dibayar Orang Tua Ke Sekolah? – Sumber : Sekolahmu


Dari materi-materi belajar dalam link di atas lah Rumah Montessori banyak sekali memperoleh asupan energi dan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan di saat penyelenggaraan belajar online masa pandemi benar-benar bikin pusing kepala. Terimakasih untuk semua ilmunya..

Diantara workshop-workshop online yang diikuti ada salah satu yang sangat bisa menjawab kegalauan saya sebagai founder sekolah Rumah Montessori. Kegalauan ini adalah tentang pertanyaan yang selalu saya pikirkan ketika sekolah kami akan mulai menerapkan kembali pembayaran SPP, yaitu :
“Apa sih yang membuat sebuah sekolah layak untuk dibayar di saat sistem PJJ atau online diterapkan? Banyak fasilitas sekolah yang nganggur kan?”
Jawaban yang diperoleh dari materi workshop tersebut adalah

Milikilah poin-poin penting di bawah ini di sekolah kita :
• Data kebutuhan belajar siswa dan kemampuan guru menyiapkan materi
• Disain dan kemasan materi PJJ
• Penyampaian materi PJJ
• Pendampingan pelaksanaan PJJ
• Pelaporan kompetensi siswa selama PJJ
*Dan sekolah kami akan laksanakan itu semua dengan semaksimal mungkin*

Dan link artikel satu lagi di bawah ini adalah juga inspirasi RumahMontessori dalam pencarian konsep metoda PJJ seperti apa yang dilaksanakan oleh sekolah sekelas Montessori School yang versi international :
https://applemontessorischools.com/apple-montessori-schools-overcome-distance-learning-challenges-to-deliver-the-magic-of-montessori-online/

Dari link di atas tersebut, paling tidak sekolah kami mempunyai gambaran serta perbandingan bagaimana sebuah sekolah Montessori internasional menjalankan sistem belajar online di masa pandemi. Well, kalau artikel di atas udah dibaca sih rasanya kami boleh agak sedikit merasa bahwa Rumah Montessori can do it better and more than that, alias kami bisa memberikan sistem PJJ yang lebih baik dari itu.

Naha bisa gitu? Gak percaya? Wah.. Harus lanjut menelusuri faktanya bahwa kami bisa, di postingan tulisan kami yang bagian 3 (terakhir) ya.. Hehehe..

Konsep PJJ Prasekolah Rumah Montessori untuk tahun ajaran baru 2020-2021 pun langsung diolah sampai matang. Tapi konsep ini tetap perlu proses dan waktu untuk mengeksekusi dan melihat serta mengevaluasi hasil implementasinya. Kami mensosialisasikan sistem PJJ ini secara public di link You Tube channel kami :

https://youtu.be/UVgFszTY-ho Judul : Sosialisasi PJJ Juli 2020 ala Rumah Montessori

Paparan detail bagaimana Prasekolah Rumah Montessori merealisasikan semua poin penting di atas agar bisa menjadi sebuah sekolah Montessori online yang layak dibayar di masa pandemi : silakan lanjut simak di bagian 3.

Minggu, 29 Agustus 2021

PUSING! Sekolah Kami Rumah Montessori Terkena Virus Corona 2020 (Bagian-1) - Perlu Isoman 3 Bulan

 

Seri Rumah Montessori Berbagi Cerita Bertahan di Masa Pandemi

Notes : Yang kena virus corona : 'sekolah' nya yaa.. Bukan guru-gurunya.. Cateett! Biasakan memahami bacaan dan cerdas mencerna kata-kata. Mohon dibaca rangkaian seri ceritanya (bagian 1-3) sampai selesai.

Perjalanan kisah ini dialami oleh Prasekolah Rumah Montessori, yang berdomisili di kota Tangerang Selatan di mana jaringan support untuk belajar online-nya cukup mendukung warganya.

Mengapa baru kami bagikan pengalaman ini sekarang padahal mungkin kisah dan informasi ini sangat dibutuhkan oleh sesama teman sejawat yang menjalankan institusi PAUD terutama yang berbasis montessori saat awal-awal pandemi adalah karena kami membutuhkan waktu dan proses mengeksekusi semua hal yang terkait dalam upaya kami untuk bertahan, mempelajari faktor apa saja yang memang berpengaruh serta sejauh mana kami bisa menyebut semua ini ternyata bisa berjalan.

Harapannya, mudah-mudahan masih bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Bahkan jika teman-teman ingin menjadikan semua yang diceritakan disini sebagai panduan, silakan. Kami senang sekali jika isi tulisan ini bisa bermanfaat bahkan dicoba untuk diimplementasikan. Semoga proses menuju lebih baik menyertai semuanya.

Kita mulai dulu ceritanya dari awal ya.. Supaya kebayang masa fase susahnya.

Saat status covid-19 ditetapkan sebagai pandemi di awal tahun 2020 dan sekolah-sekolah diminta untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah, tentu hal baru ini bikin bingung semua pihak. Suatu perubahan yang mendadak harus segera dilakukan dibarengi dengan minimnya persiapan. Termasuk sekolah kami Rumah Montessori. Bisa dibilang tanpa persiapan sama sekali. Apalagi yang kami selenggarakan adalah PAUD berbasis pendekatan metode Montessori yang di mana saat mengaplikasikannya sangat dibutuhkan kegiatan belajar aktif yang melibatkan semua sensori motor anak. Bingung sudah pasti. Bahkan lesson plan term April-Juni 2020 sudah tuntas dikerjakan tim guru. 

WOW! Pusing tujuh keliling! Mau diapain itu RPP 1 term yang udah pasti gak bisa fit in di masa pandemic?  Ini semua membuat kami merasa perlu mundur dan ‘semedi’ sejenak di akhir term Maret 2020, namun tetap menolak lupa bahwa the school must go on. Ahey! Gelap nih.. Sekolah kami terinfeksi virus corona dan perlu isoman.

Kami bingung dengan konsep belajar jarak jauh ini dan sudah pasti kami belum punya konsep belajar online yang matang. Yang kepikiran saat itu adalah cuma posting info kegiatan-kegiatan yang bisa anak lakukan di rumah didampingi orangtua ditambah share video penyampaian materi topik mingguan sesuai lesson plan yang sudah disusun. Asli, anak-anak hanya diminta menyimak video rekaman materi guru, mengerjakan kegiatan yang diposting lalu mengirim video kegiatannya, kami berikan hasil asesmen kami secara online via WA dan waktu itu tanpa kegiatan online yang interaktif. Cuma ngandelin support orangtua di rumah untuk pengerjaan aktivitas-aktivitas yang telah guru infokan di group WA kelas. Pelaksanaan kegiatan yang diinfokan pun dilepas begitu saja, seakan dibebaskan boleh dikerjakan ataupun tidak akan kami terima saja. Tidak ada monitoring yang intensif.

Kita sadar diri banget bahwa sistem belajar sekolah cuma ‘gitu doang’ - seperti yang disebutkan di atas -. Yang berujung pada peniadaan bayaran SPP bulanan selama 3 bulan khusus term April-Juni 2020 alias SPP GRATIS, saking merasa tidak pantasnya mendapat dukungan finansial karena tidak sebanding dengan fasilitas layanan sekolah kami saat itu.

3 bulan berkutat dengan sistem belajar tanpa SPP tadi benar-benar digunakan untuk bertapa mengumpulkan petunjuk, ide, inspirasi, melakukan pengamatan, evaluasi, survey ulang, belajar dan mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Workshop mengenai terobosan-terobosan sistem belajar untuk menyesuaikan dengan kondisi pandemi tetiba banyak banget, membuat kami lebih selektif memilih pelatihan yang sesuai kebutuhan saja. Seperti itulah masa-masa isoman sekolah kami.

Akhirnya ketetapan untuk awal tahun ajaran baru 2020-2021 dari pemerintah adalah masih menggunakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bahkan *mungkin* pelaksanaannya akan lebih lama lagi. Ini artinya, kami dan semua tim guru harus bersiap diri semuanya untuk segera bebenah menguatkan konsep pembelajaran jarak jauh kita selama ini. Tekad kami adalah : kami harus menjadi sekolah yang berperan sebagai support system orangtua yang layak diandalkan serta layak untuk dibayar. Karena sekolah kami akan mulai menerapkan kembali pembayaran SPP bulanan dan admin lainnya dengan segala penyesuaiannya. Kami akan meninggalkan konsep belajar jarak jauh yang selama ini dijalankan di term April-Juni 2020.


Wah, lalu gimana nih kelanjutannya? Stress mikirin konsep terbaiknya kayak gimana, itu mah udah pasti. Terus.. Transformasi apa yang dilakukan Rumah Montessori supaya bisa jadi sekolah online yang layak dibayar orangtua? Nah, gimana ceritanya cenah sebuah sekolah Montessori bisa tetep ‘Montessori’ dalam kondisi online ala Rumah Montessori? Haduuh.. Masih panjang ceritanya! Simak aja kelanjutannya di bagian berikutnya ya! Jawaban lengkap dan mendetail ada di sana semua.

Klik link Bagian-2 : https://rumah-montessori.blogspot.com/2021/08/menjadi-sekolah-online-yang-layak.html

Rabu, 13 Januari 2021

Perlukah Anak Balita Cepat-cepat Belajar Membaca? (Bagian 2 - Selesai)

Kalau sudah baca bagian 1 tentang tahapan perkembangan otak anak menurut Triune Brain Theory di http://rumah-montessori.blogspot.com/2021/01/perlukah-anak-balita-cepat-cepat.html

Mariii kita lanjutkan bagian 2 ini dengan senang hati..

Jika tujuan dari belajar baca hitung ini adalah untuk memahami konsep secara kontekstual (bukan untuk sekedar lancar baca hitung secara tekstual dan tidak paham makna kata-kata yang dibaca), maka akan nyambung banget dengan teorinya seorang ilmuwan pendidikan asal Switzerland, Jean Piaget (1896 – 1980) yang membagi menjadi 4 tahap bagaimana anak-anak menyerap pengetahuan :


1.   Object level : mempelajari sesuatu berdasarkan benda nyata, misalnya anak mengenal kata ‘apel’ ketika orang dewasa menunjukkan buah apel konkrit kepada mereka.

2.   Index level : mempelajari benda berdasarkan pengalamannya, misalnya memegang apel, menyentuh kulit luar dan dagingnya, mencium aromanya lalu memakannya untuk mengetahui rasanya.

3.   Symbolic level : mempelajari benda berdasarkan symbol, misalnya gambar atau foto apel.

4.   Sign level : mempelajari sesuatu melalui membaca dan atau menulis kata ‘apel’.

Kalau dirunut lagi berdasarkan usia perkembangan anak untuk setiap tahap penyerapan pengetahuan di atas, sudah pasti akan sesuai dengan keempat tahap perkembangan otak anak yang dibahas di bagian 1.

-          Object dan index level ( mulai 18 – 36 bulan) adalah tahap penyerapan pengetahuan anak melalui bentuk konkrit yang memang sesuai dengan kebutuhannya serta umum dilakukan anak-anak yang sedang berkembang otak reptile-nya. Anak-anak di fase usia ini sedang banyak ditunjukkan dan diajarkan hal-hal baru oleh orangtuanya.  Karakteristiknya pun memang sedang aktif bergerak, ingin tahu, banyak bertanya dan penasaran sampai segala sesuatunya mereka ingin coba, rasa dan raba.

-          Symbolic dan sign level (mulai 3,5 – 4 tahun) adalah tahap penyerapan pengetahuan yang sudah mulai mengarah ke abstrak. Tentu untuk memahaminya diperlukan perkembangan otak tahap lanjut. Symbolic level akan diproses oleh mammals brain yang memiliki fungsi mengingat (memories). Semua yang telah dipelajari lewat pengalaman di object dan index level mulai bisa dipahami lewat symbol atau gambar. Sedangkan untuk paham arti tulisan (sign level) yang sudah bersifat abstrak, imajinasi, kognitif dan daya pikir, akan diproses oleh cerebral cortex.

Paham di sign level bukan sekedar hafal istilah atau kata, tapi benar-benar mengerti konsep materi pengetahuan tersebut melalui pengalaman belajar sebelumnya.

Jerome Bruner (1815 – …), pakar pendidikan asal Amerika menyebutkan bahwa pendidikan adalah ‘a process of discovery’. Idealnya kita sebagai orangtua berperan sebagai fasilitator yang menstimulasi anak agar mereka mampu menemukan informasi itu sendiri, bukan menyiapkan semuanya lalu ‘mencekoki’ atau ‘menyuapi’ mereka. Proses penerimaan informasi tersebut ia klasifikasikan menjadi :

-          Enactively : anak belajar berdasarkan pengalamannya yang mengantarnya untuk berpikir

-          Iconically : anak mengerti apa itu gambar dan diagram

-          Symbolically : anak mampu mengerti dan bekerja berdasarkan konsep yang abstrak (tulisan)

Jika dihubungkan dengan tahapan membaca di metoda Montessori, semua yang dijelaskan dari mulai tahap perkembangan otak (Triune Brain), penyerapan pengetahuan (Jean Piaget) dan proses penerimaan informasi (Jerome Bruner)  : sudah pasti nyambung. Pendidikan Montessori memang berbasis neuroscience. Semua materi belajar selalu diawali dengan bentuk konkrit yang akan mengarah ke abstrak (symbolic dan sign level). Urutan tahap belajar baca di metoda montessori bisa disimak di link berikut : https://youtu.be/MyD2VF0lddc

Karena calistung atau baca tulis hitung untuk anak usia dini yang sedang dibahas di sini bersifat abstrak, semoga paparan lengkap di atas dapat mencerahkan ya.. Ketika kita sudah mengerti bagaimana tahapan perkembangan otaknya, maka urutan langkah dan cara yang perlu dilakukan ketika orangtua hendak mulai mengajarkan calistung pada anak sebaiknya memang sesuai dengan kebutuhan usia perkembangan dan tahapan perkembangan otaknya.

Jika kemudian ada yang bertanya : Jadi, kapan sebaiknya anak diajarkan membaca? Jawabannya : Ketika mereka siap. Setiap anak punya ‘cerita’nya sendiri. Everyone has their own battle. Kalau buku panduan banyak menyebutkan sekitar usia 4 – 4,5 tahun, ya memang wajar karena usia tersebut adalah usia di mana (idealnya) perkembangan otak cerebral cortex anak sudah matang. (IDAI : 4 - 5 tahun usia yang baik untuk mengenalkan dasar-dasar baca tulis pada anak)

Kenyataannya kasus di lapangan beragam. Dari sudut pandang pendapat saya, bagi yang buah hatinya mampu membaca lebih cepat maupun lebih lambat dari 4 tahun tidak perlu gusar.

Bagi yang anaknya kadung sudah bisa baca lebih cepat, yo wes tho.. Alhamdulillah in aja, PR orangtuanya tinggal ngejer tugas tumbuh kembang sesuai usianya yang masih belum tuntas seperti matengin lagi fisik-motorik kasar halusnya, bahasa dan emosi-sosialnya. Biar semuanya berimbang dan anak bisa jadi individu yang cerdas secara intelektual, mental, emosi sosialnya buat bekal hidup di masyarakat kelak.

Bagi yang anaknya sudah lewat 5-6 tahun tapi belum juga kunjung tanda-tanda bisa baca, coba amati lagi lebih seksama kematangan tumbuh kembang lainnya.. saya yakin dia sudah mencapai tugas-tugas tumbuh kembang di aspek lainnya.. Banyak banget yang bisa disyukuri, misal anaknya sudah semakin mandiri, motoriknya matang, sayang teman, mampu menyelesaikan masalah dan konflik, mampu bantu orang lain walau sedikit, mampu bicara ungkap perasaan dengan baik, terampil mengelola emosi dan lainnya. Itu sudah luar biasa. Yang tadi disebutkan lebih sulit diajarkan dalam sekejap karena proses menguasainya lebih lama. Untuk upaya mengajarkan baca, silakan saja ditambahkan lagi upayanya. Atau malah kadang kita perlu juga mundur sejenak untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi pada anak. Ikhlas saja dulu dengan apa yang sedang mereka tekuni, beri ruang yang longgar sejenak dari tekanan keinginan sepihak, biasanya ini akan berbuah hasil positif. Semakin bertambah usia anak, semakin mudah untuk mengajarkan mereka baca karena mereka semakin membutuhkannya J

Untuk mengetahui kesiapan yang akuratnya kapan bagi masing-masing buah hati kita, silakan kembali amati buah hatinya masing-masing, kenali usia dan aktivitas masa pekanya, cek kembali panduan tumbuh kembang anak, ricek pencapaian tugas tumbuh kembang setiap tahapan usia perkembangan buah hati kita di usianya, amati pula apa saja dan sudah sejauh mana orangtua melakukan upaya untuk menstimulasi semua kebutuhan tugas tumbuh kembangnya, cari dan kejar untuk tuntaskan tugas tumbuh kembang buah hati kita yang tertinggal. Tanpa terasa.. Akan ada sampai pada masanya, kalian (orangtua dan buah hati) akan bersama-sama menemukan dan tiba pada titik siap itu.

Lha? Kenapa jadi rumit gitu nyari jawaban yang akuratnya? Harus nyari sendiri masing-masing pula. Hehehe.. Jangan lupa.. Karena anak dan kita sebagai orangtua adalah sama-sama manusia. Manusia yang sedang terus belajar, betul? Well.. So, child and parents just doing ‘a process of discovery’ together, right? 

Semangat! Fighting! 😍

Referensi : 

https://lilyardas.wordpress.com/2012/03/18/mengajarkan-bayi-membaca/

https://id.theasianparent.com/kapankah-anak-siap-belajar-membaca


Selasa, 12 Januari 2021

Perlukah Anak Balita Cepat-cepat Belajar Membaca? (Bagian 1)

Judul tulisan kali ini rasanya masih populer ya? Sanggup bikin ibu-ibu membentuk beberapa kubu : tim yang pro, kontra, tengah-tengah bahkan abstain pun pasti ada. Mangga itu mah terserah selera saja.. Drakor juga gitu. Jadi.. tim Do-san atau tim Ji-pyeong kah Anda? #startup # drakor hehehe..

Tulisan asli dengan paparan lebih lengkap sudah lama diposting oleh teman saya, owner Daycare Bintang Waktu Jakarta Pusat (link-nya akan saya cantumkan di akhir blog bagian 2). Saya mendapatkan materi ini dalam bentuk lembaran newsletter Daycare Bintang Waktu Jakarta Pusat bulan April 2012 yang dibagikan saat hadir di salah satu acara mereka.

Di blog ini, saya hanya ingin membagi ulang plus ikut membuat ulasan ala Rumah Montessori dari paparan materi beliau tentang bagaimana tahapan otak anak berkembang berdasar teori Triune Brain by Paul M. Lean dan beberapa penjelasan terkait membaca pada anak usia dini yang nantinya akan membawa para orangtua pada sebuah kesimpulan masing-masing untuk menjawab sendiri pertanyaan di judul tulisan ini. Mungkin juga akan ditemukan beberapa tambahan catatan serta pemikiran dari versi saya sendiri terkait bahasan ini. Semoga bermanfaat..

Tahapan perkembangan otak anak (Triune Brain Theory) :


1.   Fish Brain (mulai dalam kandungan)

Perkembangan batang otak anak yang terbentuk ketika anak masih dalam kandungan. Inilah sebabnya bayi mampu ‘berenang’ dalam rahim ibunya juga mampu berenang di dalam air tanpa ada yang mengajari. Jika seorang bayi berusia 1-2 bulan dimasukkan ke bak mandi, dia biasanya akan refleks menggerak-gerakkan kaki dan tangannya seperti gaya berenang seekor anjing.

2.   Reptile Brain (2 – 3 tahun)

Bagian perkembangan dari batang otak dan cerebellum. Pada tahap ini anak memiliki tingkah laku seperti reptile ‘fight or flight’ (melawan atau melarikan diri untuk survive) yaitu aktif bergerak, melawan, melarikan diri (kabur) serta menghindari perubahan. Fungsi pencernaan, reproduksi, sirkulasi darah dan pernafasan juga disimpan disini. Inilah sebabnya seorang anak akan cenderung lari atau sembunyi minta perlindungan orangtuanya, menghindar, pasang muka galak dan beberapa malah menyerang duluan bila mereka bertemu dengan orang asing atau ketika merasa terganggu kenyamanannya. Manusia memiliki insting untuk survive : fight or flight. Fight (bertahan - melawan) digambarkan disini pada anak yang pasang muka galak lalu marah dan memukul duluan sedangkan flight (melarikan diri) digambarkan pada anak yang lari lalu sembunyi di orangtuanya.

Makanya gak heran kalau di prasekolah, anak-anak usia ini tuh lagi susah banget diajak kooperatif. Aktif bergerak, lari kesana kesini, belum mau ikuti instruksi kegiatan guru karena masih punya mau dan ruang sendiri untuk menemukan kenyamanan di lingkungan yang masih belum menjadi comfort zone-nya. Guru yang masih belum dipercayainya masih termasuk faktor pengganggu kenyamanan. Sabar, pahami dan ikuti aja bahwa ini memang phase yang perlu dia lewati. Kebayang ya mereka perlu waktu, upaya keras dan latihan melewati semua proses supaya bisa matang dan sampai ke tahap perkembangan otak berikutnya

3.   Mammals Brain (mulai 4 tahun)

Perkembangan dari sistim limbik. Di masa ini anak mulai mengenal cara bersosialisasi dengan baik. Mereka mulai suka bermain secara berkelompok, menciptakan aturan main serta  mencoba melakukannya bersama teman-temannya, bernegosiasi, bertukar ide serta mulai memilah pertemanan sesuai kenyamanan. Kalau mau contoh nyata : perhatikan saja anak-anak di kelas mulai TK A.

4.   Cerebral Cortex (mulai usia 3,5 - 4 tahun baru 90%)

Lapisan terluar otak yang fungsinya terbentuk sempurna bila batang otak dan sistim limbik sudah sempurna. Di bagian otak inilah fungsi-fungsi kognitif atau intelektual berkembang termasuk kemampuan baca tulis hitung atau calistung.

Kalau ditanya bisakah anak di bawah usia 3 tahun diajarkan membaca dan apakah mereka akan mampu? Jawabannya : tentu bisa dan akan mampu. Hanya saja, kalau kita perhatikan lagi tahapan perkembangan otak anak di atas, kebutuhan hidup mereka bukan hanya calistung semata. Perlu sekali untuk melatih kematangan fase perkembangan otak sebelumnya dan aspek tumbuh kembang lainnya.

Anak usia di bawah 3 tahun bisa saja diajarkan membaca, namun walaupun disampaikan dengan cara bermain, nutrisi yang diterima oleh anak akan membantu otak untuk bekerja keras menyempurnakan fungsi cerebral cortex-nya. Akibatnya akan ada bagian otak lain yang ‘dikorbankan’ alias tidak berfungsi dengan sempurna dan biasanya bagian reptile brain dan mammals brain. Mungkin inilah alasan dari mengapa orang-orang yang sangat pintar umumnya kurang terampil bersosialisasi, temperamental (emosional) dan  kurang mampu menyelesaikan konflik.

Ibarat buah mangga yang dipetik belum matang benar lalu di-karbit atau diberi perlakuan khusus untuk disegerakan matang siap santap. Maka akan ada beberapa tahap yang tidak tuntas seperti proses penyempurnaan kematangan rasa, tekstur dan aroma. Bagian rasa dan aromanya tidak akan semanis dan seharum mangga yang dibiarkan matang pohon, tekstur daging buahpun kurang juicy. Kenikmatan saat kita menyantapnya kurang sempurna karena buah tersebut tidak sempat menyempurnakan fase-fase yang seharusnya tidak dilewati.

BERSAMBUNG ke bagian 2

Minggu, 10 Januari 2021

Memaknai kata ‘cerdas’ dalam Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Sumber : Buku Montessori For Multiple Intelligences oleh Ivy Maya Savitri (Hal 2-3) – Bentang Pustaka


Tipikal anak yang ‘cerdas’ dan pintar versi orang memang beda-beda. Namun, jika dibuat semacam benang merah, tetap saja definisi cerdas yang disimpulkan oleh kebanyakan orang itu tidak jauh dengan hal yang berkaitan dengan :

-      ❤ Cepat hafal istilah, nama dan hal lainnya

-     ❤ Pandai menghitung angka-angka, menyelesaikan soal matematika

-     ❤ Bisa membaca dan menulis di usia yang lebih cepat dari anak lain pada umumnya

-      ❤ Terampil menyelesaikan kepingan puzzle

-      ❤ Nilai-nilai yang tinggi di bidang akademik di sekolah

Masih tampak jelas bahwa cerdas juga masih sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau akademik atau pelajaran sekolah seperti matematika, bahasa, sains, pengetahuan social dan lain-lain. Masih erat kaitannya juga dengan urusan nilai ujian yang bagus dan peringkat atau ranking.

Ditambah dengan adanya tes IQ yang sudah sangat lama digunakan para ahli untuk mengukur seberapa cerdas seseorang. IQ adalah ukuran tentang bagaimana nilai tes kecerdasan seseorang. Materi yang dites masih seputar bagaimana seseorang memecahkan soal-soal matematika, mendefinisikan kata-kata, menciptakan rancangan-rancangan, mengulang angka-angka dan ingatan serta mengerjakan tugas-tugas lainnya. Yang sudah pernah menjalani tes IQ pasti paham.

Tes IQ memang bukan jawaban segalanya atas ukuran kecerdasan seseorang, namun tetap bisa dijadikan acuan untuk melengkapi kebutuhan menilai kecerdasan seseorang  secara menyeluruh dari sudut pandang kecerdasan majemuk.

Menurut saya, nilai tes IQ yang diperoleh cukup untuk diketahui sewajarnya saja tanpa harus menjadikannya penilaian mutlak yang berpotensi membatasi kita untuk berkembang lebih. Jika nilai tes IQ adalah satu-satunya patokan dan kita terpaku di sana, akan banyak kesempatan yang terlewat untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yang tidak terukur dalam rangkaian tes IQ. Sesungguhnya masih terdapat banyak indikator lain yang menunjukkan kecerdasan-kecerdasan setiap individu.

Tokoh yang populer menentang ide bahwa IQ merupakan satu-satunya ukuran intelegensi yang terbaik adalah seorang psikolog sekaligus professor pendidikan dari Harvard University bernama Dr. Howard Gardner. Kini para ahli mempunyai pendapat, ide dan wawasan yang lebih luas dalam memaknai istilah ‘kecerdasan’.

“Tes IQ itu umumnya berfokus pada kepandaian dengan kata-kata atau angka-angka tetapi mengabaikan hal-hal penting lainnya seperti musik, seni, alam dan kemampuan emosi sosial.” (Thomas Armstrong)