Jumat, 20 November 2020

Kenalkan Panjang Pendek Untuk Persiapan Matematika

Nama material montessori : TONGKAT MERAH - RED RODS (LONG RODS) 

Video tutorial : https://youtu.be/enFWomY2DBo 

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 11

Yang ini kegiatannya adalah melatih visual, tactile, sensorik motor untuk konsep panjang pendek. Kegiatan long rods atau red rods atau tongkat merah ini persiapan belajar untuk matematika. 

Mengenalkan konsep panjang pendek di awal sering juga diberikan kepada anak-anak lewat worksheet atau lembar kerja dimana anak-anak hanya disuruh lihat lalu beri tanda mana benda yang panjang atau benda yang pendek, tanpa ada gerakan otot motorik yang merasakan kayak apa itu panjang dan apa bedanya dengan pendek. 

Di kegiatan ini justru anak akan diberikan pengalaman nyata tentang panjang pendek lewat seluruh indranya. Mereka bisa paham arti 'panjang' saat memegang tongkat yang paling panjang yaitu lewat gerakan otot tangannya yang mampu merasakan durasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perabaannya dari ujung tongkat ke ujung lainnya ternyata lebih lama daripada tongkat yang pendek untuk konsep 'pendek'. 

 

Konsep panjang pendek ini merupakan konsep paling dasar untuk menanamkan pemahaman terhadap jumlah lebih banyak - lebih sedikit dalam matematika nanti (khususnya di kegiatan tongkat angka atau number rods). Bukan hanya itu saja, dari memahami panjang pendek secara konkrit lewat tongkat merah inipun, anak-anak akan dipersiapkan untuk memahami konsep waktu 'lama' (= panjang) dan 'sebentar' (= pendek). 

 

Tonton video lainnya di YouTube channel rumahmontessori ya 

Selasa, 17 November 2020

Nama material montessori : INSETS FOR DESIGN - CETAKAN DISAIN 

Video tutorial : https://youtu.be/QStcSpUq2N8

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 57.



Pada awal anak usia dini mulai diarahkan ke kegiatan menulis memakai alat tulis dan berlatih memegangnya dengan benar, banyak yang langsung memberikan latihan worksheet seperti menghubungkan titik titik (following the dots), copying garis, menyalin di buku kotak dll. 

Untuk anak usia mulai 3,5 - 4 tahun yang baru dikenalkan ke arah ini, wajar jika hasil pekerjaan mereka masih keluar dari pola. 

Kadang rasa gemes melanda. Ingin pegangin tangan anaknya, ingin betulin karyanya, ingin komenin hasil kerjaannya dll.  

Padahal mereka kerja keras betul saat melakukannya. Urusan mereka masih banyak fokus di proses gerakan motorik, bukan di hasil kerja. Dari motorik kasar masih transisi ke motorik halus. Masih kerepotan mengendalikan otot tangannya untuk kapan berhenti, kapan belok, kapan maju terus. Belum lagi kondisi dimana anak seakan diminta 'hanya boleh' menyalin, mengerjakan sesuai apa yang diinstruksikan si lembar kerja. 

Lalu apa ada yang bisa membantu anak-anak ini agar memudahkan mereka melewati semua proses tak mudah di atas tadi? Ada. 

 

Salah satunya seperti yang bisa disimak di video YouTube channel rumahmontessori ini.

Yaitu memfasilitasi mereka dengan :

- Cetakan berbentuk bangun geometri yang sederhana agar otot anak mudah mengikuti arah bentuknya. 

- Adanya bentuk dan ukuran garis yang dibuat beragam serta pinggiran bingkai cetakan yang dapat membatasi gerakan tangan saat proses mencetak ini membantu anak berlatih mengendalikan otot motorik halus mereka : kapan mereka harus berhenti menggurat pensil & kapan mereka lanjut dengan dibantu batasan yang jelas. 

Hal ini penting karena saat menulis huruf nanti,  gerakan kendali otot tangan anak akan sangat variatif dan dibutuhkan keluwesannya. 

- Pemakaian pensil berwarna, membuat anak senang karena saat memasuki pra menulis ini mereka dibolehkan menggunakan warna-warna kesukaan.

Kenapa tidak menggunakan spidol atau krayon? Kami mengamati bahwa dengan pencil, kita bisa melihat lebih detail kemampuan & keterampilan anak dalam menulis khususnya melalui tekanan otot mereka. Dengan pensil akan lebih terlihat tebal tipisnya hasil guratan anak. Selain itu, kelak mereka akan lebih banyak pakai pensil dalam kegiatan menulisnya. 

Penggunaan spidol yang mudah tembus, tinta bleberan serta sering membuat kertas bolong atau rusak dan krayon yang outputnya lebih banyak untuk keperluan mewarnai, kami hindari dulu saat presentasi mencontohkan kegiatan, agar anak menjalani pengalaman awal menulis ini dengan mudah dan menyenangkan. 

Spidol dan krayon tetap boleh digunakan saat mereka hendak berkreasi bebas 

- Tidak membatasi kreasi anak saat mereka mendisain cetakan harus sesuai contoh. Karena saat mereka bereksplorasi dengan guratan-guratan disain lainnya ala mereka sendiri, kami anggap itupun adalah caranya berlatih melenturkan otot tangannya untuk persiapan menulis kelak.   

 

Happy watching 🥰

 

Nama material montessori : TASTING BOTTLES - BOTOL RASA 

Video tutorial : https://youtu.be/qpKnG6y2oXQ

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 52-53



Bagaimana cara menstimulasi dan melatih indra pengecap dalam aktifitas montessori? Apakah langsung dengan menyediakan sumber penghasil rasa-nya? Seperti : menyiapkan gula atau madu untuk mengenalkan rasa manis? Bubuk garam untuk rasa asin? Ataukah buah lemon beneran untuk rasa masam? Wah.. Itu tadi semua silakan saja dilakukan, tapi di metoda ini ada kegiatan yang lebih dasar lagi dari yang tadi disebutkan untuk kebutuhan stimulasi indra pengecap anak sekaligus screening awal untuk mengetahui kemampuan indra pengecap anak berfungsi baik atau tidak. 

Dalam kegiatan dasar untuk stimulasi indra pengecap ini, yang ditekankan di awal bukan pada bisa tidaknya anak menyebutkan dengan benar apa nama rasanya.. Bukan.. Itu bisa nanti. 

Tapi yang paling mau kita ketahui adalah : mampukah anak mendeteksi mana rasa yang sama dan mana rasa yang berbeda ketika beragam jenis rasa masuk ke indra pengecapnya. Itulah yang lebih duluan dikerjakan. Jika anak mampu menyamakan dan membedakan rasa yang masuk ke indra pengecapnya (dalam hal ini : lidahnya) tanpa perlu menyebutkan nama jenis rasanya, itu artinya indra pengecap mereka bekerja dengan baik alias tidak ada masalah. 

Setelah kita tahu anak tidak bermasalah di indra pengecapnya, silakan lanjut untuk mengenalkan nama-nama rasanya. 

 

Oleh karena itulah, kegiatan stimulasi indra pengecap di video ini dikenalkan kepada anak  melalui botol-botol tertutup yang sudah diisi cairan berasa manis, asin dan masam. Hanya mengecap rasa. Tanpa informasi nama rasa-nya. 

Lalu kenapa botolnya tertutup? Karena ini adalah stimulasi indra pengecap, maka biarkanlah indra itu saja yang aktif bekerja. Kalau botolnya transparan, saat anak mencari jenis rasa yang sama nanti mereka akan melibatkan bantuan visual dan akhirnya si lidah pun jadi berkurang daya dan kinerjanya untuk mengidentifikasi rasa 

 

Selamat mencoba di rumah

Langsung simak aja selengkapnya di YouTube channel rumahmontessori ya 

Mengapa 5 Lebih Banyak daripada 2? Tongkat Angka Montessori akan Menjawab (Number Rods Montessori)

Nama material montessori : NUMBER RODS - TONGKAT ANGKA

Video tutorial : https://youtu.be/0WYbyrrMH7w

Buku Manual Praktek kerja alat : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Ilmu Alam dan Matematika., Cikal Aksara., Hal : 45




Mengenalkan kuantitas (jumlah) secara konkrit selalu didahulukan daripada mengenalkan anak pada simbol angkanya. Salah satunya melalui material montessori seperti yang ada di video YouTube channel kami ini. 

Simbol angka selalu diberikan setelah anak paham seberapa banyak kuantitasnya. Sehingga anak benar-benar fix mengerti perbandingan jumlah banyak dan sedikitnya secara konkrit dulu. 

Simbol hanya berfungsi sebagai identitas. Bagi metoda ini, seseorang yang hanya kenal dan bisa sebut simbol angka, dianggap belum sah 'paham konsep', tapi cuma mentok di 'sekedar' hafal.

.

Melalui kegiatan tongkat angka di video ini, anak akan diarahkan untuk mengerti bahwa, misalnya 5 itu fix memang lebih banyak daripada 2 (terlihat jelas real dari tongkat yang jumlah setrip merah birunya ada 5 memang lebih panjang daripada tongkat angka bersetrip 2). Bukan hanya bisa 'melihat' jelas real-nya, di tongkat angka ini bahkan anak sampai bisa 'meraba merasakan' beda panjangnya.

Atau.. 3 itu fix lebih sedikit dari 6 (tongkat angka setrip 3 memang terbukti nyata terlihat lebih pendek daripada tongkat 6) dst. 

Jadi jelas, anak dapetin konsep lebih banyak dan lebih sedikit tadi bukan berdasarkan hafalan dari urutan angka (seperti misalnya : angka 5 urutannya ada di sesudah angka 2 makanya 5 lebih banyak dan angka 3 urutannya ada di sebelum angka 6 makanya 3 lebih sedikit). Bukan. 

.

Jika ada anak punya pertanyaan ajaib & meminta kita membuktikan : Benarkah 5 itu lebih banyak daripada 2? Apa buktinya? Boleh ngga aku tuker, 2 aja yang lebih banyak daripada 5?

Hehe saya mohon orang dewasa jangan cari jawaban 'ngeles' dengan mengatakan "Udah dari sononya gitu aturan matematikanya, nurut aja ya" 

Kenapa gak ajak aja anak me-riset ulang kebenaran teori si ilmu pasti ini?

Yaitu dengan menunjukkannya lewat alat peraga edukasi tongkat angka tersebut sehingga bisa dijelaskan secara konkrit sampai anak confirmed yakin memang aturan dan teori itu : benar. Biar mereka menemukan sendiri lewat pengamatannya. 

.

Minggu, 30 Agustus 2020

Manfaat Huruf Sambung Pada Anak Usia Dini

Huruf sambung dalam Metoda Montessori

Kebanyakan anak-anak zaman sekarang, untuk urusan awal menulis mereka dikenalkan langsung ke huruf cetak mulai dari level PAUD.

Ketika anak menginjak SD kelas 1 pun masih huruf cetak yang dipakai saat awal masuk sampai pada satu masa di tengah-tengah semester ada penugasan menulis huruf tegak bersambung di pelajaran Bahasa Indonesia. 

Sering pula ditemukan anak usia dini punya masa-masa bingung ketika harus mengenal dan membedakan beberapa huruf tertentu yang mirip karena sering terbolak balik baik saat penulisan maupun saat pengucapan.

Ya betul! Biasanya kendala itu ada untuk kelompok huruf (b), (d),(p), (q).

Jika kita meninjau dari tingkat kerumitan gerakan penulisan huruf, bagi anak di level PAUD sebetulnya lebih sulit untuk menulis huruf cetak.

Salah satu solusi untuk membuat aktivitas latihan menulis huruf ini lebih mudah, menyenangkan dan dapat meminimalisir kebingungan akan bentuk huruf bagi anak pemula ini adalah dengan mengenalkan dan mengajarkannya menulis huruf sambung.

Mungkin bisa dicobalakukan oleh kita para fasilitator (orangtua dan guru) ketika kita  menemukan kasus seperti ini pada anak di lapangan sebagai pilihan dari banyak ragam upaya.

Mengenalkan cara menulis huruf sambung untuk anak-anak usia dini yang pemula inipun dikuatkan oleh Maria Montessori dalam metoda pendidikannya : 

“Must one begin with strokes? The logical answer is “No.” These require too much effort on the part of the child to make them. If he is to begin with the stroke, it should be the easiest thing to execute. But, if we note carefully, a straight stroke is the most difficult to make. Only an accomplished writer can fill out a page with regular strokes, whereas a person who is only moderately proficient can cover a page with presentable writing.” – (Dr. Maria Montessori, ‘The Discovery of the Child’, Clio Press Ltd, 193).


Manfaat dan pentingnya menulis huruf sambung bagi anak usia dini :

1. Gerakan natural yang mudah

Ayunan tangan pada penulisan huruf sambung adalah gerakan natural yang mudah dilakukan oleh anak usia dini yang masih kesulitan dalam membuat guratan garis, lingkaran sempurna, membuat gerakan tangan terputus-putus saat penulisan berlangsung (seperti pada gerakan menulis huruf cetak). Gerakan natural ini banyak berdasar dari gerakan melingkar dan "coretan bebas". 

Hal ini akan membuat anak menjadi tidak terbebani karena gerakan ini merupakan pengembangan alami dari gerakan tangan yang mengalir bebas.

2. Rileks dan nyaman

Saat gerakan menulis sambung berlangsung, anak-anak jauh lebih tampak rileks dan mengalir karena ini adalah gerakan naturalnya. Seperti layaknya dia menggambar dan melukis. 

3. Mengenal huruf lebih mudah

Dalam huruf sambung, untuk beberapa huruf yang sering membuat anak bingung dan tertukar seperti huruf (b), (d), (p), (q) : gerakan arah penulisannya dibedakan satu sama lainnya sehingga dapat membantu memudahkan anak dalam mengingat perbedaan karakteristik bentuk huruf tersebut. 

4. Membantu dan meringankan kesulitan anak dengan kecenderungan disleksia

Anak-anak yang memiliki kecenderungan hambatan belajar ini, mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengenal huruf-huruf (terutama huruf cetak) bahkan mungkin lebih berat dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Dengan mengajarkan mereka menggunakan huruf sambung paling tidak kesulitan yang dihadapi bisa terbantu dan diringankan karena mendapat intervensi dini untuk urusan persiapan baca tulisnya.

5. Mengenal kata secara utuh

Dalam menulis kata menggunakan huruf cetak, karena setiap hurufnya ditulis terputus-putus seringkali kita kesulitan menemukan pemisah (spasi) dalam sebuah barisan kata yang ditulis. Antara satu kata dengan kata lainnya serta semua huruf yang menyusun kata-kata tersebut tampak melebur jadi satu sehingga sulit membaca kata per kata utuh yang mengandung arti tertentu. 

Namun dalam huruf sambung, anak menghubungkan huruf satu dengan huruf yang lainnya tanpa terputus menjadi sebuah kata. Mereka akan lebih mudah melihat dan membedakan satu kata dengan kata lainnya karena jelas terlihat pemisahan bagiannya. Satu kata ditandai oleh satu rangkaian huruf yang saling tersambung dan akan dipisahkan oleh spasi untuk kata berikutnya. 

Hal ini juga akan memudahkan orang lain dalam mengenali setiap kata yang terpisah saat membaca tulisan anak.

6. Tidak akan sulit pindah ke huruf cetak

Mengenalkan menulis huruf sambung di awal saat anak usia dini, tidak akan menyulitkan anak untuk pindah ke huruf cetak atau ketika mereka masuk sekolah umum nantinya. Justru sistem ini banyak membantu memudahkan anak dalam mengurangi kebingungan dan kesulitan dalam mengenal dan menuliskan huruf untuk persiapan bacanya. 

Walau huruf sambung terdengar kuno, jadul atau ketinggalan zaman ditambah lagi sekarang sudah zamannya semua didominasi huruf cetak, tidak perlu khawatir dengan kesulitan beradaptasi di masa depannya. 

Pastikan kita yakin saat memutuskan memilih untuk mengenalkan menulis huruf sambung di awal untuk anak usia dini kita, dengan mengingat semua manfaat dan benefit di atas.

Kita memang hidup di dunia yang penuh dengan huruf cetak. Kita dikelilingi olehnya. Huruf cetak ada dimana-mana. Setiap manusia tentu akan mempelajari dan butuh menguasai huruf cetak. 

Namun, dengan mengajarkan huruf sambung terlebih dahulu, anak-anak ini seperti sedang ditawarkan salah satu dari sekian banyak upaya pengenalan yang akan membuat mereka lebih lancar dan mudah untuk masuk ke dunia bahasa.

Huruf sambung di Rumah Montessori 

Walau kami tahu serta paham tentang benefit dan manfaat mengenalkan huruf sambung bagi anak usia dini, namun di Prasekolah RumahMontessori kami menerapkan 'jalan tengah'. Kami sepanjang ini masih berkompromi dengan sistem yang mudah-mudahan tetap bisa membantu memudahkan anak-anak dalam persiapannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SD. Sekolah-sekolah di negeri ini umumnya masih menerapkan penggunaan huruf cetak.

Pada akhirnya, sampai detik ini kami masih menerapkan pengenalan menulis bentuk huruf cetak namun penggunaan gerakan motorik untuk arah penulisan semua bentuk huruf cetak di prasekolah kami tetap mengambil gerakan dasar yang sesuai dengan kaidah gerakan menulis huruf sambung. Suatu hari nanti, prasekolah kami pun tidak menutup kemungkinan untuk mengajarkan huruf sambung full pada siswa-siswinya. Seperti biasa, kami mah mengalir sesuai kebutuhan saja, entah itu kebutuhan individual atau bisa jadi kebutuhan regulasi. Semua akan diupayakan yang terbaik tentunya 😉

Bagaimana cara prasekolah kami mengenalkan gerakan arah menulis bentuk huruf melalui 'jalan tengah' ini, dapat disimak di video YouTube kami, silakan klik link berikut : 

https://youtu.be/G-meEQI-fZM

Untuk mendapatkan informasi cara pelafalan (pengucapan) setiap hurufnya dengan sistem fonik, silakan klik link berikut :

https://youtu.be/ANNc5vIc08w

Mudah-mudahan bisa menjadi tambahan pengetahuan dan wawasan.

Hanya sekedar ingin berbagi versi kami, selebihnya silakan tentukan sendiri yang terbaik dari sekian banyak ragam pengetahuan lainnya. 

Salam Hangat

Ivy Maya Savitri

Founder Rumah Montessori

Berikut beberapa link terkait dengan topik blog kali ini, semoga bermanfaat.. 

https://www.montessoriinreallife.com/home/2019/11/1/a-montessori-introduction-to-the-alphabet

https://montessori.org.au/what-rationale-cursive-writing

https://www.wbms.org/blog/handwriting-montessori-why-teach-cursive-vs-print

https://baandek.org/posts/cursive-in-montessori/

 

Sabtu, 01 Agustus 2020

Kenapa Ada 4 Belah Ketupat di Kotak Konstruksi Segitiga? Penjelasan Versi Untuk (level) Anak

Nama siswa RumahMontessori yang bertanya diwakili dengan nama Anakku di paparan ini. 

NOTES Penting :
Sebelum menyampaikan paparan jawaban di bawah ini ke anak-anak pastikan orangtua atau fasilitator membaca dulu penjelasan lengkap versi untuk umum  terkait pertanyaan Anakku ada di link : 
Silakan dibaca sampai tuntas untuk tambahan wawasan pengetahuan. 

Penyampaian penjelasan khusus untuk Anakku (level anak) atas pertanyaannya adalah sebagai berikut :

Terimakasih untuk pertanyaannya, Anakku  🥰
*Mengapa ada 4 belah ketupat?* dalam kotak konstruksi segitiga 2 - heksagon kecil - yang sedang dipinjam Anakku? : 

Ibu Ivy coba jawab pertanyaan Anakku ya.. 

1•• Di kotak heksagon kecil ini, Anakku sedang mulai dikenalkan pada bentuk segi empat yang terbangun dari gabungan segitiga, salah satunya bangun belah ketupat
2•• Di kegiatan ini, karena belah ketupat termasuk bangun segi empat yang baru dikenalkan maka dibuat lebih banyak supaya Anakku terbantu untuk lebih kenal dan mengingat lebih kuat tentang bentuk ini. Anakku bisa lihat dengan berulang kali ya : belah ketupat ini ternyata selalu menunjukkan kedua segitiganya selalu sama besar, garis hitamnya yang tegak dan lurus ke samping membelah dan membagi belah ketupat menjadi dua bagian segitiga yang selalu sama besar (orangtua bisa tunjukkan garis hitam pada belah ketupat) 
Selain itu kita bisa membangun segi enam atau heksagon kaya wadah kotak konstruksi ini dengan menggabungkan 3 belah ketupat yang sama persis bentuk rupanya. Kamu bisa coba sendiri melakukannya

(lanjutkan memberi anak pemahaman lewat kehidupan sehari-hari)
Inget kan.. Kalau Anakku melakukan sesuatu diulang-ulang dan sering maka Anakku akan semakin ingat, cepat bisa, cepat mengerti caranya. Misalnya mandi, makan sendiri atau naik sepeda. 
Begitu juga kalau bunda atau bu guru ngingetin sesuatu ke Anakku berulang kali, Anakku pasti akan lebih cepat ingat karena sering dengar atau lihat. Tapi kalau terlalu sering diingatkan kadang jadi bosan juga ya 😁

Nah sama, di kegiatan kotak konstruksi segitiga 2 ini, mata penglihatan dan ingatan Anakku sedang diulang terus agar semakin ingat dan cepat mengerti tentang ciri khusus dari belah ketupat, karena nanti ke depannya Anakku akan ketemu dengan beberapa bentuk segi empat lain yang berbeda ciri khasnya dengan belah ketupat ini. Berbeda ciri karakter bangunnya tapi masih sama-sama kelompok segi empat.
Nanti deh kita minta bu guru ya minggu depan, supaya Anakku bisa dapat kotak konstruksi segitiga berikutnya yaitu kotak heksagon besar. 
Di kotak itu Anakku akan ketemu dengan yang mirip belah ketupat tapi namanya jajaran genjang, sebab punya ciri karakter yang berbeda dengan belah ketupat. Terus nanti juga akan ketemu lebih banyak segi empat lainnya di kotak konstruksi segitiga 4 - kotak persegi. 
Nah karena Anakku sudah berulang diingatkan sampai 4× bikin belah ketupat di kegiatan kotak konstruksi segitiga 2 ini, InsyaAllah Anakku akan semakin mudah mengerti di mana perbedaan tersebut, supaya gak ketukar nama bangun geometri dan lebih mudah mengenal ciri khasnya. 

Kalau Anakku bertanya lagi :
Kenapa gak dibikin lebih banyak lagi saja belah ketupatnya supaya tambah cepat lagi kita ingat dan bisanya? 
Bisa dicoba dengan respon seperti ini : Mungkin menurut si pembuat metoda ini, 4 buah sudah cukup. Beliau menetapkan bahwa 4 belah ketupat tersebut adalah hasil terbaik dari sebuah proses penelitian yang cukup panjang. 
Kalau kebanyakan, anak-anak nanti akan bosan (seperti Anakku yang akan merasa bosan kalau terlalu keseringan dibilangin orang hehe) dan gak semangat merhatiin atau tanya tanya karena lelah. Tapi kalau terlalu sedikit, misalnya cuma 1-2 buah belah ketupat saja itupun dirasa akan kurang menarik bagi anak-anak.

Nah.. Itu saja penjelasannya dari Ibu Ivy. Semua jawaban ini boleh diterima atau tidak oleh siapapun. Bahkan kalau mau dikaji ulang sendiri sekalipun untuk penguatan kebenarannya, silakan.. Karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan memang dinamis dan harus terus berkembang.

Salam Hangat dari Ibu Ivy 🥰🙏



Dalam Fonik : Mengapa Huruf Vokal Dibunyikan Dengan Tambahan Suara Desah 'h'?

Seri rangkaian Q and A - tanya jawab seputar Metoda Montessori PAUD

Notes :

Untuk menjawab pertanyaan Q and A, sumber referensi yang dipakai dalam paparan blog ini beragam. Penulis bisa mendapatkannya dari hasil pencarian data pengetahuan yang berasal dari berbagai sumber seperti buku-buku pengetahuan terkait serta workshop dan komunitas Montessori enthusiast skala internasional dan local yang diikutinya. Bisa juga merupakan pendapat pribadi penulis hasil dari pengalaman dan pengamatannya selama dua dekade (hampir 20 tahun sebagai praktisi PAUD dan metoda Montessori) yang tetap berdasar pada data ilmu pengetahuan yang terkait, ilmu psikologi tumbuh kembang anak, metoda montessori dll. Wajar dan pasti jika ada salah dan kurang dari penulis.

Mohon diambil yang baik dan bermanfaatnya saja, semua penyimpulan dan pilihan jawaban dikembalikan kepada kebutuhan pembaca.

Para pembaca dipersilakan bahkan wajib untuk mencari pengetahuan dan informasi lainnya dari berbagai sumber sehingga dapat memperkaya wawasan. 

Mengapa huruf vokal selalu dibunyikan dengan tambahan suara desah 'h' dalam lagu fonik yang dinyanyikan di Rumah Montessori? 

Pertanyaan yang berasal dari orangtua siswa Rumah Montessori di masa PJJ online learning ketika anak-anaknya mendapat materi pengenalan huruf dalam sistem fonik lewat lagu Anak Ayam.

Untuk mengetahui bagaimana pengenalan alfabet melalui lagu fonik dalam Bahasa Indonesia versi Rumah Montessori silakan klik link berikut : https://youtu.be/ANNc5vIc08w


Terimakasih untuk pertanyaannya, saya coba jawab ya.. 😊

Saat bernyanyi lagu fonik anak ayam versi RumahMontessori memang semua huruf yang dinyanyikan terdengar seperti ada semacam desah huruf 'h', termasuk untuk huruf vokal (contoh huruf 'a' dibunyikan = 'ah', huruf 'e' dibunyikan = 'eh', huruf 'u' dibunyikan ='uh' dst). Beberapa yang memperhatikan mungkin menganggap bahwa tambahan bunyi desah 'h' tersebut tidaklah perlu ada karena nama dan bunyi huruf vokal dalam Bahasa Indonesia tiada berbeda. Ada kemungkinan pula bisa memberikan kebingungan saat proses awal membaca.

Alasan dari sudut pandang kami sederhana saja, yaitu untuk memberikan sedikit perbedaan terhadap 'identitas' antara yang mana nama huruf dan yang mana bunyi huruf atau foniknya ☺

Yang pasti, tidak semua lagu fonik seperti itu, tapi kami memilih yang seperti biasa dinyanyikan.

Jadi tidak ada masalah dan silakan saja bagi siapapun untuk memilih lagu fonik yang ada desah 'h' atau tanpa 'h'. OK aja kok kita mah kalau ada yang merasa lebih mudah dengan bunyi 'a - i - u - e - o' (tanpa 'h') dan bukan dengan 'ah - ih - uh - eh - oh'  saat mengenalkan huruf vokal Bahasa Indonesia dengan sistem fonik. Karena betul juga, toh saat diterapkan dalam proses baca kata nanti, desah 'h' dalam bunyi huruf vokal tadi pasti ditiadakan. 

Ada satu catatan penting yang perlu kita ketahui : tidak perlu khawatir semua anak bakal bingung atau salah permanent dalam membaca kata. Misalnya untuk kata 'ratu', anak akan membacanya jadi 'rah-tuh' akibat dari mengenal huruf lewat lagu fonik tadi dan mungkin berlaku sama untuk kata lainnya yang mengandung huruf hidup pula seperti kata 'kayu' akan dibacanya menjadi 'kah-yuh' dsb. 

Ada memang beberapa anak akan mengalami itu di awal sekali ia mulai belajar membaca, tapi tidak akan permanent karena dengan sendirinya seiring waktu berjalan akan secara otomatis terbenahi. Percayalah, anak itu luar biasa cerdas dan mampu membuat simpulan analisa lewat pengalaman belajarnya sendiri. 

Buktinya, sebagian besar anak-anak RumahMontessori saat mulai belajar baca, hampir semuanya tidak menyebutkan bunyi 'h' lagi ketika ketemu huruf vokal atau membaca kata-kata lainnya.  

Mereka aman-aman saja bacanya. Padahal di sekolah, sudah tentu mereka sekelas mengenal dan menyanyikan lagu anak ayam versi kami dari guru. Tapi dalam membaca kata, mereka semua baik-baik saja tampaknya.

Hanya sedikit sekali kasus anak yang melalui kendala, itupun hanya di awal dan sebentar saja. Setelah itu, mereka lancar membaca tanpa salah eja.

Khusus bagi anak-anak yang sudah bisa membaca, lalu mereka tidak menyertakan suara desah 'h'-nya saat menyanyikan huruf-huruf pada lagu fonik, ya.. tidak apa-apa - tidak usah dibetulkan atau disuruh ulang harus sama dengan lagu kami. 

Justru menurut pengamatan kami, itu artinya mereka yang sudah bisa baca sudah sangat paham dan mampu membedakan antara mana bunyi huruf dan nama huruf. Mereka sepertinya sudah paham dan merasa tidak perlu lagi memberikan 'h' dalam lagu fonik setiap membunyikan huruf vokal karena memang mereka aware hal tersebut tidak pernah diaplikasikan ketika mereka membaca kata.

Silakan cek saja kemampuan anak-anak dalam membaca kata-kata yang ada huruf hidupnya, kami percaya.. mereka tidak kesulitan dan sudah benar.

🥰

Salam Hangat dari Ibu Ivy