Sabtu, 21 November 2020

Makna Logo Prasekolah Rumah Montessori

 Filosofi logo Prasekolah Rumah Montessori (oleh : Ivy Maya Savitri)






Warna latar belakang putih bersih, mengandung arti spiritual : selalu ingin bersyukur sekaligus berserah diri kepada Tuhan YME.

Gambar dan kata 'rumah' ini mempunyai satu makna yaitu :

Sebuah tempat yang dapat membuat siapapun merasa aman dan nyaman. Tempat di mana semua orang tak perlu khawatir untuk menjadi dirinya sendiri. Saat anak diajak belajar dan berlatih segala aktifitas, mereka akan merasa lebih tenang dan rileks saat kita menyebut tempat itu adalah 'rumah' mereka. Tempat belajar dan beraktifitas yang selalu dirindukan dan selalu hangat menyambut saat didatangi. Sehingga mampu mengeluarkan segala potensi yang ada tanpa ragu. Tidak menjadikan sungkan dan jengah bagi siapapun yang ingin mengunjunginya. Tidak perlu terlalu formil namun tetap menjaga kuat kesantunan dan budaya. 

Sebuah rumah teduh yang mampu menentramkan jiwa siapapun. Penuh kehangatan, keceriaan dan kebahagiaan. Membangun hati dan karakter mulia serta kecerdasan ilmu pengetahuan agar mampu menjadi individu yang seimbang antara otak (kecerdasan pengetahuan), hati (welas asih, budi pekerti, penyayang, empati) dan tangan-nya (tindakan, tata krama, semangat berkarya & kreasi nyata).


(Filosofis) : Tiga daun berwarna hijau, kuning, oranye adalah knowledge, understanding, wisdom. Perbedaan warna-warna daun yang ditunjukkan sesuai step atau fase kematangan daun yang diartikan bahwa, kami mendampingi & menstimulasi anak dalam melalui semua proses perkembangannya dari mereka muda untuk bisa sampai ke fase 'matang' sesuai dengan usia tumbuh kembang, keunikan serta kecepatan belajar masing-masing anak. 

Memuat arti 3 elemen keseimbangan yang menjadi goal bagi individu Rumah Montessori yaitu kepala (otak akal pikiran) - hati – tangan (tindakan nyata). 

Memuat arti bahwa Rumah Montessori meneladani dan sangat sepakat dengan konsep pendidikan nasional sang Ki Hadjar Dewantara yaitu : Trilogi Pendidikan (ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani) dan Trisakti Jiwa (cipta, rasa, karsa) 

Memuat arti dari 3 kata motto Rumah Montessori yaitu asah - asih – asuh.

(The simply reality) : melambangkan jumlah anak kandung saya yaitu Fathya - Gavin - Hezkia ada 3 orang jadi daunnya ada 3 buah.

(Filosofis) : Atap rumah yang menaungi bulatan dan garis lurus di bawahnya diartikan sebagai gambaran anak-anak Rumah Montessori akan senantiasa kami dampingi dan stimulasi dengan menerapkan konsep 'rumah' yang membuat anak merasa nyaman seperti layaknya di rumah sehingga mampu membantu mengeluarkan dan menyalakan setiap potensi anak sesuai keunikan dan ciri khasnya. Anak tidak merasa sedang diajarkan tapi sesungguhnya mereka belajar banyak dan efektif melalui contoh dari rutinitas, lingkungan yang dipersiapkan dan fasilitator.

'Rumah' inipun harapannya akan memberikan energi positif bagi para fasilitator pendidiknya untuk senantiasa rileks, tenang, bahagia, nyaman, percaya diri dan sabar dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator pendamping anak sehingga energi positif tadi bisa ditularkan kepada anak didik yang harapannya mereka akan lebih merasa di'manusia'kan sesuai fitrah.

(The simply reality) : Atap melambangkan pelindung dan bentuk yang menyerupai kumis itu adalah simbol sosok seorang pria dewasa : suami saya Fajar. Orang di belakang layar yang selalu saya anggap penting, selalu mendukung dan memberikan rasa terlindungi, aman, nyaman, serta confident menjalankan Rumah Montessori ini. Semoga bisa berjalan bersama mengembangkan Rumah Montessori dan menjadi individu yang bermanfaat bagi orang banyak.

(The simply reality) : Bulatan hijau dan garis lurus coklat, itu ceritanya :

- model interior di Rumah Montessori didisain ada bulatan hijau di setiap daun pintunya yang berwarna coklat kayu

- simbol huruf i yg merupakan huruf depan nama saya 'Ivy' sebagai founder, pendiri, owner dari Rumah Montessori

This is it.. The History of Rumah Montessori Preschool’s Logo ! Bener-bener comes from family and home ya 😊 terinspirasi dari unsur keluarga founder-nya dan rumah (bangunan) prasekolah-nya.

Kind a truly cute and simple logo but still elegant and has a wonderful meaning, made with all my heart. Rumah Montessori untuk Indonesia.

Mudah-mudahan setiap arti positif yang terkandung dalam logo tersebut terutama arti filosofisnya tetap konsisten bisa dijalankan ya.. Aamiin


Jumat, 20 November 2020

Paham Tuntas Konsep Belasan dengan Metoda Montessori

Nama material montessori : SEGUIN BOARD A - KOTAK SEGUIN A BELASAN 11-19

Video tutorial : https://youtu.be/EKork8OT3XQ

Buku petunjuk praktek kerja : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Ilmu Alam dan Matematika., Cikal Aksara., Hal :59 - 63 



Anak-anak belajar melalui pola. Ketika mereka menemukan hal yang berulang pada sebuah konsep, lalu anak membuat kesimpulan cara mengenali sebuah materi baru versi dirinya artinya anak sudah menemukan pola untuk memahami konsep tersebut. Seperti mengenalkan konsep belasan. Bagi anak yang baru dikenalkan tahap ini, akan lebih mudah jika mereka sudah menguasai : kuantitas 1-10 beserta angka atau simbolnya dan kenalkanlah hanya 11 sampai 19 saja. 

Tidak perlu bawa 20 seperti yang banyak kita temui di buku-buku matematika yang selalu membagi tahap pengenalan berhitung seperti ini : 1-10 lalu lanjut ke 11-20.

Kenapa 20 gak diajak dalam konsep pengenalan belasan? 

Jawabannya simpel : 20 adalah dua puluh, dia bukan belasan, tidak masuk kelompok 'belasan' karena tidak ada kata belas. 

20 sudah jelas masuk kelompok puluhan.

Maka, kalau disimak di video kegiatan pengenalan belasan di YouTube channel rumahmontessori kami ini akan tampak bahwa pengenalan belasan dimulai dari 11 (sebelas) dan berakhir di 19 (sembilan belas).

Jelas sekali memudahkan anak mengingat keseluruhan konsepnya.

Mulai dari mengenal kuantitas jumlah konkritnya melalui biji-biji (beads) di video Part 1, anak melihat ada pola yang selalu sama disana yaitu : belasan itu selalu punya 1 baris biji emas (golden beads) untuk kuantitas 10 atau sepuluh dan biji berwarna warni (color beads) untuk kuantitas 1-9 atau satuannya. 

Kuantitas berupa biji-biji ini dikenalkan duluan sebelum angka, agar anak paham : belasan itu selalu terdiri dari sepuluh dan satuan. 

Sehingga ketika masuk ke video Part 2, saat mengenalkan angka mereka akan paham bahwa di simbol belasan selalu ada angka 1 depan itu adalah sepuluh bukan 1 satuan.

Anak-anak yang baru mengenal belasan ini bisa lebih mudah menyimpulkan dan cepat paham bahwa belasan ini : 11, 12, 13, 14 dst punya ciri khas selalu memiliki angka 1 di depan dan itu maknanya sepuluh serta selalu ada angka lain yang menyertai di belakangnya sebagai satuan. 

Dan setiap menemukan angka dengan ciri khas tersebut, mereka hanya tinggal melihat angka satuan di belakang lalu menambah kata 'belas'.

Semoga jelas ya, kenapa si 20 gak masuk geng belasan..   

Materi yang dikenalkan secara bertahap dan berulang ini akan memudahkan anak mengerti tentang belasan secara utuh, mulai dari konkrit seberapa banyaknya sampai penulisan identitas simbol (angka) nya. 

#rumahmontessori #tutorialmontessori

#montessoriformultipleintelligences #aktivitasmontessori #matematika #decimals #montessoriuntukindonesia #materibelajarpaud #belajarbelasan #mathisfun

 

Berkenalan Dengan Indra Nociceptive

Mungkin kita sering ya ketemu sama anak-anak atau bahkan orang dewasa yang ketika mau disuntik, mereka akan menghindar jauh-jauh. Atau mereka yang suka menjaga jarak ketika bertemu dengan hewan tertentu. 

Semua bentuk respon tadi sejenis sebetulnya dengan anak-anak dalam foto ini. Diantara mereka yang sedang menggunakan pisau cukup tajam maupun setrika panas ini tampak terlihat menjauhkan posisinya dari alat-alat yang berpotensi membahayakan maupun menyakiti anggota tubuh mereka. Dan anak-anak ini melakukannya dengan spontanitas. Seperti sudah punya alert atau warning (alarm) dari dalam tubuhnya. 


          


Ini adalah cara kerja sistem sensor tubuh atau indra manusia dalam merespon sesuatu yang berhubungan dengan bahaya, rasa sakit ataupun yang 'berpotensi' menyebabkan kesakitan. 

Nama indra-nya : Nociceptive.

Indra ini merespon hal membahayakan yang diakibatkan oleh bahan kimia (misalnya, terkena bubuk cabai di mata, serbuk penyebab gatal), mekanik (seperti tersayat pisau, tertusuk duri, disuntik, terpukul, digigit), temperatur (panas dan dingin) dan polymodal (campuran kimia, mekanik, temperatur).

Kenalkan Panjang Pendek Untuk Persiapan Matematika

Nama material montessori : TONGKAT MERAH - RED RODS (LONG RODS) 

Video tutorial : https://youtu.be/enFWomY2DBo 

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 11

Yang ini kegiatannya adalah melatih visual, tactile, sensorik motor untuk konsep panjang pendek. Kegiatan long rods atau red rods atau tongkat merah ini persiapan belajar untuk matematika. 

Mengenalkan konsep panjang pendek di awal sering juga diberikan kepada anak-anak lewat worksheet atau lembar kerja dimana anak-anak hanya disuruh lihat lalu beri tanda mana benda yang panjang atau benda yang pendek, tanpa ada gerakan otot motorik yang merasakan kayak apa itu panjang dan apa bedanya dengan pendek. 

Di kegiatan ini justru anak akan diberikan pengalaman nyata tentang panjang pendek lewat seluruh indranya. Mereka bisa paham arti 'panjang' saat memegang tongkat yang paling panjang yaitu lewat gerakan otot tangannya yang mampu merasakan durasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perabaannya dari ujung tongkat ke ujung lainnya ternyata lebih lama daripada tongkat yang pendek untuk konsep 'pendek'. 

 

Konsep panjang pendek ini merupakan konsep paling dasar untuk menanamkan pemahaman terhadap jumlah lebih banyak - lebih sedikit dalam matematika nanti (khususnya di kegiatan tongkat angka atau number rods). Bukan hanya itu saja, dari memahami panjang pendek secara konkrit lewat tongkat merah inipun, anak-anak akan dipersiapkan untuk memahami konsep waktu 'lama' (= panjang) dan 'sebentar' (= pendek). 

 

Tonton video lainnya di YouTube channel rumahmontessori ya 

Selasa, 17 November 2020

Nama material montessori : INSETS FOR DESIGN - CETAKAN DISAIN 

Video tutorial : https://youtu.be/QStcSpUq2N8

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 57.



Pada awal anak usia dini mulai diarahkan ke kegiatan menulis memakai alat tulis dan berlatih memegangnya dengan benar, banyak yang langsung memberikan latihan worksheet seperti menghubungkan titik titik (following the dots), copying garis, menyalin di buku kotak dll. 

Untuk anak usia mulai 3,5 - 4 tahun yang baru dikenalkan ke arah ini, wajar jika hasil pekerjaan mereka masih keluar dari pola. 

Kadang rasa gemes melanda. Ingin pegangin tangan anaknya, ingin betulin karyanya, ingin komenin hasil kerjaannya dll.  

Padahal mereka kerja keras betul saat melakukannya. Urusan mereka masih banyak fokus di proses gerakan motorik, bukan di hasil kerja. Dari motorik kasar masih transisi ke motorik halus. Masih kerepotan mengendalikan otot tangannya untuk kapan berhenti, kapan belok, kapan maju terus. Belum lagi kondisi dimana anak seakan diminta 'hanya boleh' menyalin, mengerjakan sesuai apa yang diinstruksikan si lembar kerja. 

Lalu apa ada yang bisa membantu anak-anak ini agar memudahkan mereka melewati semua proses tak mudah di atas tadi? Ada. 

 

Salah satunya seperti yang bisa disimak di video YouTube channel rumahmontessori ini.

Yaitu memfasilitasi mereka dengan :

- Cetakan berbentuk bangun geometri yang sederhana agar otot anak mudah mengikuti arah bentuknya. 

- Adanya bentuk dan ukuran garis yang dibuat beragam serta pinggiran bingkai cetakan yang dapat membatasi gerakan tangan saat proses mencetak ini membantu anak berlatih mengendalikan otot motorik halus mereka : kapan mereka harus berhenti menggurat pensil & kapan mereka lanjut dengan dibantu batasan yang jelas. 

Hal ini penting karena saat menulis huruf nanti,  gerakan kendali otot tangan anak akan sangat variatif dan dibutuhkan keluwesannya. 

- Pemakaian pensil berwarna, membuat anak senang karena saat memasuki pra menulis ini mereka dibolehkan menggunakan warna-warna kesukaan.

Kenapa tidak menggunakan spidol atau krayon? Kami mengamati bahwa dengan pencil, kita bisa melihat lebih detail kemampuan & keterampilan anak dalam menulis khususnya melalui tekanan otot mereka. Dengan pensil akan lebih terlihat tebal tipisnya hasil guratan anak. Selain itu, kelak mereka akan lebih banyak pakai pensil dalam kegiatan menulisnya. 

Penggunaan spidol yang mudah tembus, tinta bleberan serta sering membuat kertas bolong atau rusak dan krayon yang outputnya lebih banyak untuk keperluan mewarnai, kami hindari dulu saat presentasi mencontohkan kegiatan, agar anak menjalani pengalaman awal menulis ini dengan mudah dan menyenangkan. 

Spidol dan krayon tetap boleh digunakan saat mereka hendak berkreasi bebas 

- Tidak membatasi kreasi anak saat mereka mendisain cetakan harus sesuai contoh. Karena saat mereka bereksplorasi dengan guratan-guratan disain lainnya ala mereka sendiri, kami anggap itupun adalah caranya berlatih melenturkan otot tangannya untuk persiapan menulis kelak.   

 

Happy watching 🥰

 

Nama material montessori : TASTING BOTTLES - BOTOL RASA 

Video tutorial : https://youtu.be/qpKnG6y2oXQ

Buku petunjuk praktek : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Stimulasi Indra dan Bahasa., Cikal Aksara., Hal : 52-53



Bagaimana cara menstimulasi dan melatih indra pengecap dalam aktifitas montessori? Apakah langsung dengan menyediakan sumber penghasil rasa-nya? Seperti : menyiapkan gula atau madu untuk mengenalkan rasa manis? Bubuk garam untuk rasa asin? Ataukah buah lemon beneran untuk rasa masam? Wah.. Itu tadi semua silakan saja dilakukan, tapi di metoda ini ada kegiatan yang lebih dasar lagi dari yang tadi disebutkan untuk kebutuhan stimulasi indra pengecap anak sekaligus screening awal untuk mengetahui kemampuan indra pengecap anak berfungsi baik atau tidak. 

Dalam kegiatan dasar untuk stimulasi indra pengecap ini, yang ditekankan di awal bukan pada bisa tidaknya anak menyebutkan dengan benar apa nama rasanya.. Bukan.. Itu bisa nanti. 

Tapi yang paling mau kita ketahui adalah : mampukah anak mendeteksi mana rasa yang sama dan mana rasa yang berbeda ketika beragam jenis rasa masuk ke indra pengecapnya. Itulah yang lebih duluan dikerjakan. Jika anak mampu menyamakan dan membedakan rasa yang masuk ke indra pengecapnya (dalam hal ini : lidahnya) tanpa perlu menyebutkan nama jenis rasanya, itu artinya indra pengecap mereka bekerja dengan baik alias tidak ada masalah. 

Setelah kita tahu anak tidak bermasalah di indra pengecapnya, silakan lanjut untuk mengenalkan nama-nama rasanya. 

 

Oleh karena itulah, kegiatan stimulasi indra pengecap di video ini dikenalkan kepada anak  melalui botol-botol tertutup yang sudah diisi cairan berasa manis, asin dan masam. Hanya mengecap rasa. Tanpa informasi nama rasa-nya. 

Lalu kenapa botolnya tertutup? Karena ini adalah stimulasi indra pengecap, maka biarkanlah indra itu saja yang aktif bekerja. Kalau botolnya transparan, saat anak mencari jenis rasa yang sama nanti mereka akan melibatkan bantuan visual dan akhirnya si lidah pun jadi berkurang daya dan kinerjanya untuk mengidentifikasi rasa 

 

Selamat mencoba di rumah

Langsung simak aja selengkapnya di YouTube channel rumahmontessori ya 

Mengapa 5 Lebih Banyak daripada 2? Tongkat Angka Montessori akan Menjawab (Number Rods Montessori)

Nama material montessori : NUMBER RODS - TONGKAT ANGKA

Video tutorial : https://youtu.be/0WYbyrrMH7w

Buku Manual Praktek kerja alat : Ivy Maya Savitri., 2019., Aktivitas Montessori Ilmu Alam dan Matematika., Cikal Aksara., Hal : 45




Mengenalkan kuantitas (jumlah) secara konkrit selalu didahulukan daripada mengenalkan anak pada simbol angkanya. Salah satunya melalui material montessori seperti yang ada di video YouTube channel kami ini. 

Simbol angka selalu diberikan setelah anak paham seberapa banyak kuantitasnya. Sehingga anak benar-benar fix mengerti perbandingan jumlah banyak dan sedikitnya secara konkrit dulu. 

Simbol hanya berfungsi sebagai identitas. Bagi metoda ini, seseorang yang hanya kenal dan bisa sebut simbol angka, dianggap belum sah 'paham konsep', tapi cuma mentok di 'sekedar' hafal.

.

Melalui kegiatan tongkat angka di video ini, anak akan diarahkan untuk mengerti bahwa, misalnya 5 itu fix memang lebih banyak daripada 2 (terlihat jelas real dari tongkat yang jumlah setrip merah birunya ada 5 memang lebih panjang daripada tongkat angka bersetrip 2). Bukan hanya bisa 'melihat' jelas real-nya, di tongkat angka ini bahkan anak sampai bisa 'meraba merasakan' beda panjangnya.

Atau.. 3 itu fix lebih sedikit dari 6 (tongkat angka setrip 3 memang terbukti nyata terlihat lebih pendek daripada tongkat 6) dst. 

Jadi jelas, anak dapetin konsep lebih banyak dan lebih sedikit tadi bukan berdasarkan hafalan dari urutan angka (seperti misalnya : angka 5 urutannya ada di sesudah angka 2 makanya 5 lebih banyak dan angka 3 urutannya ada di sebelum angka 6 makanya 3 lebih sedikit). Bukan. 

.

Jika ada anak punya pertanyaan ajaib & meminta kita membuktikan : Benarkah 5 itu lebih banyak daripada 2? Apa buktinya? Boleh ngga aku tuker, 2 aja yang lebih banyak daripada 5?

Hehe saya mohon orang dewasa jangan cari jawaban 'ngeles' dengan mengatakan "Udah dari sononya gitu aturan matematikanya, nurut aja ya" 

Kenapa gak ajak aja anak me-riset ulang kebenaran teori si ilmu pasti ini?

Yaitu dengan menunjukkannya lewat alat peraga edukasi tongkat angka tersebut sehingga bisa dijelaskan secara konkrit sampai anak confirmed yakin memang aturan dan teori itu : benar. Biar mereka menemukan sendiri lewat pengamatannya. 

.