Kamis, 10 Desember 2015

Makassar... Antara Pelatihan & ber-Reuni.. Ewako!

Akhirnya saya bertandang juga di Pulau Sulawesi.. Tepat di Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, sebuah sekolah yang boleh saya bilang tampak bersemangat dengan hal apapun yang dapat meningkatkan kemampuan para gurunya : Bright Star Makassar School. Sekolah ini franchise, artinya dia sudah cukup settle dengan segala sistemnya, termasuk kurikulum. Tapi kerennya, mereka tidak berhenti mengendapkan sistem yang berasal dari franschiser-nya saja. Mereka terus menggali informasi kekinian tentang sistem pendidikan dan penuh semangat untuk terus berlatih dan belajar untuk bisa meningkatkan kualitas.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Celebes ini, kentara benar bahwa saya sedang berada di belahan bumi pertiwi Sulawesi. Logat, cara bicara dan tata krama yang khas terlihat sudah identitasnya bahwa pulau ini dihuni oleh kebanyakan penduduk asli dan minim pendatang.

Tiga hari bersama para guru Bright Star Makassar School (3-4-5 Agustus 2015) diisi dengan penuh keceriaan, diskusi dan latihan yang seru. Guru-guru yang menjadi tim pengajar di sekolah ini mayoritas guru muda yang mudah-mudahan masih selalu mempunyai semangat tinggi untuk berada di bidang pendidikan.

Sukses terus untuk terbang tinggi ya, Bright Star Makassar School J
--- 
Keseruan sesi pelatihan memang tidak terlupa, tapi masih ada satu menu lagi yang tidak kalah serunya. REUNI. Emang udah berjodoh.. dengan tanggal dinas luar pulau yang sama dengan salah seorang teman ex SMA yang berprofesi dokter, akhirnya play date dimulai.. euleuh..

Beruntung kami punya teman satu lagi yang juga berprofesi dokter. Saatnya ngerjain para dokter ini ah.. Yang satu emang saat ini lagi tinggal di Makassar nyelesein pendidikan spesialisnya di Unhas, Anney Boron.. beliau harus rela jadi supir, guide, dan teman belanja oleh-oleh. Satu lagi dokter spesialis syaraf : Amanda Tiksnadi, yang datang dari Jakarta dan menjadi salah satu tim pembicara di acara Makassar.. Dia juga harus rela dibawa ‘ulin’ menikmati indahnya malam di Makassar (etapi..dia mah semangat da untuk beredar..hehehe..)

Maaf ya dokter-dokter J

Konro, pisang epe, Pantai Losari, dan oleh-oleh minyak beruang itulah menu kekinian yang harus dijajal selama di Makassar ini. Sayang cuma bisa nikmatin suasana pantai Losari malam hari, gak keliatan apa-apa euy selain hitam pekat plus lampu-lampu.

Jelang tengah malam kita harus hentikan semua keseruan ini (kaya Cinderella ya? Pulang..pulang woy!). Sang Anney harus rela lagi mengembalikan saya ke hotel. Hehehe.. terimakasih banyak ya Anney.. terimakasih Manda.. walau cuma bertiga ketemuan tapi happy pisan.. (2 tahun sekelas di SMA tapi ketemuan seru di pulau nun jauh dari sekolah asal kita itu..sesuatu banget deh.. halah..)

 
 bersama full team Bright Star Makassar School
 

 
 
 
 
 
 
 sesi praktek mandiri material montessori
 
 
 
 
 
 
 
Inilah sisi lain dari sesi pelatihan di Makassar :) 
 
 pisang epe
 
 
 
seuprit isi bandara
 
 kolestrol merajalela, mudah-mudahan ga mengendap.. karena happy
 
tiga dara ex SMAN 5 Bandung Fis 6 terdampar di Makassar
 
 area sekitar penginapan
 
 
 
A untuk Anney.. special thanks to you.. mudah-mudahan lancar segala urusan ya!
 
bareng dokter keren di depan icon Makassar
 
blaahh.. siapa ini pake tembok inisial I ? :p

Rabu, 09 Desember 2015

Melebur & Menyatukan Montessori Dengan Sistem Lain (bagian 1)


(Kisah Program Pendampingan Rumah Montessori di sebuah Prasekolah di Jakarta)

Awalnya judul di atas termasuk pertanyaan ‘most wanted’ di pelatihan saya atau sering dikenal FAQ di buku-buku petunjuk manual sebuah produk. Setiap menjawab pertanyaan tersebut selalu saya jawab enteng hanya sebatas lisan, karena saya belum menggelar fasilitas pendampingan sekolah yang ingin benar-benar ber-transformasi dari sistem yang ada menjadi sebuah sekolah yang memasukkan unsur metoda dan kurikulum montessori di dalamnya.

Memang benar, di benak saya tidak terlalu rumit apalagi jika skup sekolah tidaklah terlalu besar dan massal. Semua masih bisa diatur-atur dan digeser-geser agar pas sesuai dengan rencana dari desain sistem yang akan dilebur. Dengan catatan :

-        Sekolah memang mempunyai komitmen, niat besar dan keyakinan untuk menjalankannya. Terlebih lagi catatan khusus ini harus nempel sangat lekat di pimpro-nya alias PIC yang akan menjalankan program-nya. Jangan heran, kalau PIC-nya sendiri merasa kurang percaya diri, belum memahami benar bahwa benang merah montessori dan sistem manapun adalah serupa tapi tak sama, dan masih ‘galau’ menjalankan program ini à hasilnya juga akan keteteran, terutama dalam hal mem-booster tim gurunya yang sering terkena imbasnya. Seorang PIC harus siap menjadi ‘team player’ yang baik.

-        Sekolah rela diobok-obok jadwal rutinnya, posisi kelas, formasi gurunya, kelompok anak-nya, lay out kelas dan bahkan sampai kepada ‘manner’ atau tata krama guru-gurunya. Bila tidak rela, saya yang mundur perlahan J

Suatu hari pinangan untuk mendampingi sistem itu datang dari sebuah prasekolah di Jakarta Pusat, Bloom Islamic Preschool namanya. Sekolah ini awalnya pernah menerapkan metoda montessori dan kemudian mulai di akhir tahun 2014 kemarin berencana untuk perlahan menjalankan kembali metoda montessori ini lebih intens sebagai bagian dari sistem pembelajarannya. Terima kasih untuk kesempatan luar biasa ini, karena disinilah para guru benar-benar berjuang bersama untuk beradaptasi beralih dari sistem konvensional ke sistem montessori yang terintegrasi dengan kurikulum lainnya. Mulai dari pelatihan, menguji kemampuan guru sampai kepada observasi dan penanganan anak dan manajemen kelas di lapangan. Semua dilakukan dengan time table yang bertahap, tidak langsung membuka semua area karena guru-guru ini juga perlu diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru, SOP yang baru bahkan sampai pada tata krama menghargai anak..ternyata tampak menjadi perjuangan tersendiri bagi para pendidik J

Hari demi hari para guru menunjukkan perkembangan yang baik dan semua itu berpengaruh terhadap kondisi anak-anak yang mulai ‘normalize’ atau terbiasa dengan aturan main dari sistem yang baru.

Saya hanya bisa akui, yang masih bertahan sampai saat ini di titik sistem seperti ini terbukti sudah bahwa mereka tahan uji mental. Satu yang saya pastikan, bukanlah hal mudah untuk berjalan di atas sebuah konsep baru apalagi dengan sebuah budaya yang sudah sangat melekat sebelumnya. Terimakasih rekan-rekan Bloom atas keterbukaan hatinya, kerelaannya belajar bersama, berjuang dan senantiasa masih punya komitmen dalam menjalankan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan terus berkembang menjadi pusat pendidikan anak usia dini yang berkualitas.
 
 Foto bersama Bloom Preschool Team


 

 

 

 

Junior dan senior dengan menara merah muda

 

 

 

notes : sudah diizinkan untuk tayang dan di-posting di blog oleh owner sekolah

Selasa, 24 Februari 2015

It's Jonim Musik!

Note to Bu Goeti : Maafkan baru sempat ber-curcol ria setelah hampir setahun kita bertemu terakhir di Bandung (Juli 2014).. Tapi ini janji saya. Sayapun sudah minta izin dari Ibu Goeti untuk meliput semua pengalaman kita di blog ini (jiaahh..'meliput'..)
Tapi saya yakin, ini tandanya pertemuan dan semua yang saya dapatkan dari pengalaman tersebut sangat berkesan..
Buktinya? semua ingatan saya masih terjaga dengan baik **haha..alesaan..

Well haloo.. Ini juga merupakan janji saya untuk membagi dan memposting pengalaman yang selain dari montessori *walau ada hubungannya juga sih..hehe.

Semua rasa dan kesan bercampur aduk antara happy bingiits..terinspirasi..merasa beruntung dan juga salut dicampur aduk dan di mix bagai adonan kue yang enak untuk mengungkapkan pengalaman berharga yang satu ini..

Pertemuan awal dimulai dari ikut sertanya seorang Ibu Goeti Rondonuwu di kelas pelatihan montessori program liburan bulan Juni 2014 *duh udah lumayan lama atuh yah..

Ternyata ibu yang satu ini adalah pengajar musik dari mulai level baby class (10 bulan)sampai anak 15 tahun.. Tambahan : seorang dosen sastra pula.. Hihi.. Ada apa ini sangkut pautnya dengan ilmu kePAUDan? Ya nyambung banget lah ternyata..beliau kan menyelenggarakan baby music class..dari usia bayi lho.. Kebayang gak tuh apa yang diajarkan? Saya sih belum kebayang sebelum dijelaskan panjang lebar plus dapet kesempatan untuk observasi kelas musiknya di Bandung..

Wahai para pembaca..kagum aja saya dengan tahapan sekolah musik Jonim Musik ini.. Untuk kelas bayi sampai remaja tidak terlepas dengan pemberian materi sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.. Baguus banget konsepnya.. Yang bikin gak bagus cuma satu : Kenapa adanya di Bandung? Hahaha.. Kalau deket di BSD akan sangat menyenangkan sekali..

Jadi saat usia bayi, anak-anak yang masih belum disapih menyusuinya itu ditemani orang tuanya di kelas.. Fondasi awal yang dibentuk selalu sama dimana-mana, yaitu : percaya diri dan keteraturan (It sounds familiar in Montessori, right?) dan di semua lini pendidikan usia dini..


 

Banyak support, banyak pujian dan banyak latihan motorik serta sensori di kelas ini.. Adanya pentas di tempat umum untuk unjuk penampilan para anak usia dini pun dimulai dari bayi yang ditemani orang tuanya ternyata mengajarkan banyak tentang percaya diri keduabelah pihak : si anak dan orangtua..

Semua kemasan nyanyian, musik dan gerakan pun betul-betul disesuaikan dengan tahapan perkembangan masing-masing anak. Dari mulai hanya latihan menekan, menggelindingkan bola, memegang alat musik pukul sampai mengingat ketukan, instruksi, dan pengenalan alat musik sederhana untuk mempersiapkan motorik untuk mengoperasikan alat musik dan kepekaan auditorinya terhadap ritme dan nada untuk lebih jauhnya.

Yang paling menarik bagi saya memang kelas usia di bawah 2 tahun, betapa disini Bu Goeti dengan detail mensupport semua yang sedang dibutuhkan untuk anak usia di bawah 2 tahun untuk kenal dengan musik.

Adanya orang tua di samping anak usia ini fungsinya bukan hanya sekadar mendampingi tapi lebih kepada membawa spirit mencintai musik dan menularkannya dengan mudah kepada anak serta memberi arahan dengan contoh perilaku - bukan sekedar perintah komando satu arah * but they did it together (saat harus joget ya joget juga ortunya.. saat harus bergerak bak anak kecil ya seperti itu pula lah mereka lakukan) -- dan ini adalah momen penting yang selalu dinanti sang buah hati untuk selalu bisa bersama..melakukan tanpa ada rasa malu.
Catatan penting : mohon dinikmati momen-momen 'fun' bersama ini dengan buah hati kecil kita ya.. Waktu berlalu begitu cepat. Suatu hari nanti udah gak lucu lagi main bersama se-happy ini bareng mereka.. Mereka juga udah ogah joget-joget dan lompat-lompat ikuti irama sederhana :')

Dan hal ini memudahkan orang tua  untuk mengajak anak usia dini cinta pada musik, karena hal yang terpenting dari momen ini adalah : orangtua mengalirkan energi positif tentang musik dan irama kepada anak-anaknya dengan sepenuh hati.

Tapi ada yang lebih penting dari semua itu, dasar yang sangat krusial untuk dibangun untuk anak telah dilakukan disini, yaitu membuat anak merasa berharga di mata orangtuanya..

 
Life should be balance.. Dan salah satunya dengan musik lah keseimbangan hidup akan kita dapatkan.

Ayo.. Yang mau belajar banyak tentang cara mengajar musik anak usia dini atau mau kenalkan musik bagi buah hatinya sedini mungkin, Ibu yang ramah dan baik hati ini sangat senang berbagi ilmunya.. Kontak beliau di Bandung yaa.. Jl. Bukit Dago Selatan 31 Bandung.
 


 
 

Minggu, 22 Februari 2015

Kencan Kilat-ku dengan Medan

Edisi latepost juga sih yang ini.. tapi mau dibuang sayang..

Saya pingin banget soalnya berbagi pengalaman tentang persinggahan tersingkat saya di luar pulau Jawa untuk mengenalkan Metoda Montessori. Duuh..mentang-mentang ntar acaranya Pengenalan Singkat, jadi beneran singkat deh berada di kota ini.. hehe sesuai judul lah..
Dan kota yang dikencani dengan kilat itu adalah Medan Sumatera Utara.. Waah..kota besar di pulau Sumatera ini sebenarnya sayang kalau cuma ditengok 1 malem **hu hu hu... tapi apa daya hari-hari berikut sudah juga diisi dengan jadwal yang padat merayap juga di tanah Serpong J
Saat tiba di Bandara Kualanamu, kagum-kagum sendiri sama disain arsiteknya, modern minimalis dan nyaman (mudah-mudahan bukan karena masih baru ya). Adanya moda transportasi kereta api yang menghubungkan langsung antara kota Medan dengan Bandara merupakan ide bagus untuk mendukung infrastruktur ini. Keren lah, Bung! Coba simak aja deh ya foto-foto di bawah ini :





 
 
Pengenalan terhadap metoda Montessori di Medan ini ternyata hal yang baru juga ya (perkiraan saya lho..sebagai orang awam yang baru juga injakkan kakinya di kota ini). Buktinya bagi sang EO – Dani –  yang kebetulan kawan adik ipar saya, dia agak kesulitan untuk sebar info ke sekolah-sekolah dan hampir rata-rata belum mengenal dan terasa asing dengan namanya. Alhasil hanya segelintir sekolah saja yang mengikuti, itupun mungkin karena beberapa gurunya sudah pernah familiar dengan metoda montessori.






Tapi salut bagi sang EO.. salut juga bagi seluruh peserta dari 2 sekolah besar di Medan : Sekolah Bina Insan Mandiri dan Sekolah Shafiyyatul Amaliyyah yang sangat bersemangat mengikuti seminar Pengenalan Metoda Montessori ini. Saat sesi tanya jawab, pertanyaan demi pertanyaan semuanya diajukan dengan penuh antusias. Senang sekali akhirnya bisa kenalkan Montessori di Medan, walaupun singkat tapi mudah-mudahan bisa membuka wawasan dan mengkonfirmasi tentang sistem Montessori yang sebenarnya itu seperti apa..
 

Terimakasih Wildani Thaharah – sang EO keren, Terimakasih para partisipan yang luar biasa, Terimakasih sudah memperkenankan saya untuk datang dan berbagi tentang apa itu Metoda Montessori. Mudah-mudahan acara 15 Juni 2014 ini jadi momentum orang Medan untuk mau kenal lebih banyak tentang Montessori.. J
Benar bahwa sesi ini pendek untuk mengenalkan montessori, tapi tidak meninggalkan kesan yang pendek bagi saya tentang Medan dan partisipannya..Okay Medan.. It's nice to meet you.. Next I'll be back!


 

Jumat, 20 Februari 2015

Berbagi Ilmu Montessori Sambil Melongok 'trending topic location'

Saat dihubungi via WA oleh pihak sekolah yang satu ini..bukan main senang hati ini. Tempat lain di Tanah Borneo akan saya kunjungi lagi untuk memastikan metoda Montessori dikenal lebih dalam di sana. Sebuah kesempatan lagi yang wajib saya kerjakan karena ada misi Rumah Montessori di sana, yaitu Montessori untuk Indonesia..makanya..sekolah yang berlokasi di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah ini benar-benar pas untuk mewujudkan sedikit demi sedikit visi dan misi Rumah Montessori tadi..bahwa Montessori harus bisa sampai ke seluruh penjuru Indonesia bahkan remote area-nya sekalipun.

Dan akhir tahun 2014 pun menjadi begitu indah dan penuh penantian untuk bisa sampai ke sana. Ditambah dengan satu agenda lainnya yaitu bertemu seorang kawan lama (eks SMP) yang tinggal di sana, rasanya ini akan menjadi momen yang bertambah penting. 24 tahun sudah kami terpisah sejak lulus SMP tanpa ada kabar dan pertemuan sekalipun baik yang disengaja maupun tak sengaja.

Saat menanti hari H, tanpa permisi munculah berita tragis. Berita yang sempat menjadi headline news di akhir tahun 2014 tentang pesawat penumpang yang jatuh di area perairan Pangkalan Bun dan sampai kini membuat nama kabupaten ini menjadi popular.. Duuh jujur ini menciutkan nyali untuk terbang ke sana..**huhuhu..padahal kan jodoh dan mati ada di tangan Tuhan yaa..** Yah..sebagai manusia normal, kekhawatiran yang datang baik dari diri sendiri maupun orang-orang sekitar kita pasti ada saja.

Namun semakin mendekati hari H nya dan mendapat support serta penguatan dari sana sini, semuanya dipasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa..hehe..

Dan akhirnya ketakutan untuk terbang itu harus dipaksa untuk dibuang jauh..mau tidak mau..komitmen sudah dibuat dan atas nama niat yang kuat untuk menjejakkan kaki di daerah kecil yang penuh semangat untuk maju ini..saya pun terbang ke Pangkalan Bun di hari Kamis 29 Januari 2015. Alih-alih kawatir ini itu, yang ada malah sekarang jadi nambah agenda kunjungannya, yaitu melongok lokasi trending topic dunia..intinya : numpang eksis di lokasi yang lagi sering-seringnya disebut pewarta dan semua stasiun TV lagi demen-demennya menayangkan bandara dan daerah perairannya..hihihi..

Berbicara tentang Pangkalan Bun, kali ini sekolah yang saya kunjungi adalah Sekolah Alam Bina Insan, hebatnya sekolah ini juga merupakan sekolah inklusi yang membantu memfasilitasi anak-anak yang mempunyai hambatan belajar dan bersosialisasi. Sekolah alam yang sederhana namun saya bisa rasa semangat guru dan alamnya yang siap menerima murid dengan segala hambatannya. Sekolah yang tidak gentar untuk menyusupkan dan mengintegrasikan metoda asing yang mungkin belum pernah terdengar oleh penduduk lokalnya - bahkan guru dan stafnya sekalipun - dengan metoda lokal internal mereka. Ada satu titik yakin di sini bahwa apapun nama dan metoda belajar nya, yang pasti semua harus dilakukan dengan berdasar pada 'kemanusiaan'.. ya iya lah..kan muridnya juga manusia..
Guru-guru rehat pelemasan otak dan otot di tengah jeda pelatihan


Berlatih presentasi Menara Merah Muda (Pink Tower)


Inilah penampakan Sekolah Alam Bina Insan



Area Sensorial


Berlatih mengerjakan Kotak Segitiga Konstruksi


Roleplay penerapan sistem Montessori dengan anak-anak didik


Guru berlatih presentasi Tongkat Angka di depan kelompok
Terimakasih Bina Insan dan teman SMP ku Verry Farikhah..untuk mengenalkan saya pada kota kecil yang tenang tiada pernah macet ini..untuk sejenak saja saya bisa lupakan hiruk pikuk Serpong yang sudah mulai bikin penat kepala..untuk jalan-jalannya ke Pantai Kubu..untuk kuliner ikannya yang mantap dan yang terpenting semangat belajar agar selalu bisa melayani sesama dan terus menjadi lebih baik, kerasa banget menginspirasi saya dalam perjalanan kali ini..


Tiada macet, tenang, masih sepi






 Terimakasih tim hebat Bina Insan Pangkalan Bun, mudah-mudahan ilmunya bermanfaat ya

Edisi diculik asyik ke Pantai Kubu.. ha ha ha.. yang diculik happy berat!

Pantai Kubu di Kec Kumai, lokasi pencarian pesawat jatuh masih jauh ke tengah ya..


Selamat tinggal Bandar Udara Iskandar.. Next..kita masih ada utang untuk ke Tanjung Puting yaa..hahaha.. *ngidam berat jadi si bolang nih*