Rabu, 09 Desember 2015

Melebur & Menyatukan Montessori Dengan Sistem Lain (bagian 1)


(Kisah Program Pendampingan Rumah Montessori di sebuah Prasekolah di Jakarta)

Awalnya judul di atas termasuk pertanyaan ‘most wanted’ di pelatihan saya atau sering dikenal FAQ di buku-buku petunjuk manual sebuah produk. Setiap menjawab pertanyaan tersebut selalu saya jawab enteng hanya sebatas lisan, karena saya belum menggelar fasilitas pendampingan sekolah yang ingin benar-benar ber-transformasi dari sistem yang ada menjadi sebuah sekolah yang memasukkan unsur metoda dan kurikulum montessori di dalamnya.

Memang benar, di benak saya tidak terlalu rumit apalagi jika skup sekolah tidaklah terlalu besar dan massal. Semua masih bisa diatur-atur dan digeser-geser agar pas sesuai dengan rencana dari desain sistem yang akan dilebur. Dengan catatan :

-        Sekolah memang mempunyai komitmen, niat besar dan keyakinan untuk menjalankannya. Terlebih lagi catatan khusus ini harus nempel sangat lekat di pimpro-nya alias PIC yang akan menjalankan program-nya. Jangan heran, kalau PIC-nya sendiri merasa kurang percaya diri, belum memahami benar bahwa benang merah montessori dan sistem manapun adalah serupa tapi tak sama, dan masih ‘galau’ menjalankan program ini à hasilnya juga akan keteteran, terutama dalam hal mem-booster tim gurunya yang sering terkena imbasnya. Seorang PIC harus siap menjadi ‘team player’ yang baik.

-        Sekolah rela diobok-obok jadwal rutinnya, posisi kelas, formasi gurunya, kelompok anak-nya, lay out kelas dan bahkan sampai kepada ‘manner’ atau tata krama guru-gurunya. Bila tidak rela, saya yang mundur perlahan J

Suatu hari pinangan untuk mendampingi sistem itu datang dari sebuah prasekolah di Jakarta Pusat, Bloom Islamic Preschool namanya. Sekolah ini awalnya pernah menerapkan metoda montessori dan kemudian mulai di akhir tahun 2014 kemarin berencana untuk perlahan menjalankan kembali metoda montessori ini lebih intens sebagai bagian dari sistem pembelajarannya. Terima kasih untuk kesempatan luar biasa ini, karena disinilah para guru benar-benar berjuang bersama untuk beradaptasi beralih dari sistem konvensional ke sistem montessori yang terintegrasi dengan kurikulum lainnya. Mulai dari pelatihan, menguji kemampuan guru sampai kepada observasi dan penanganan anak dan manajemen kelas di lapangan. Semua dilakukan dengan time table yang bertahap, tidak langsung membuka semua area karena guru-guru ini juga perlu diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru, SOP yang baru bahkan sampai pada tata krama menghargai anak..ternyata tampak menjadi perjuangan tersendiri bagi para pendidik J

Hari demi hari para guru menunjukkan perkembangan yang baik dan semua itu berpengaruh terhadap kondisi anak-anak yang mulai ‘normalize’ atau terbiasa dengan aturan main dari sistem yang baru.

Saya hanya bisa akui, yang masih bertahan sampai saat ini di titik sistem seperti ini terbukti sudah bahwa mereka tahan uji mental. Satu yang saya pastikan, bukanlah hal mudah untuk berjalan di atas sebuah konsep baru apalagi dengan sebuah budaya yang sudah sangat melekat sebelumnya. Terimakasih rekan-rekan Bloom atas keterbukaan hatinya, kerelaannya belajar bersama, berjuang dan senantiasa masih punya komitmen dalam menjalankan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan terus berkembang menjadi pusat pendidikan anak usia dini yang berkualitas.
 
 Foto bersama Bloom Preschool Team


 

 

 

 

Junior dan senior dengan menara merah muda

 

 

 

notes : sudah diizinkan untuk tayang dan di-posting di blog oleh owner sekolah

Selasa, 24 Februari 2015

It's Jonim Musik!

Note to Bu Goeti : Maafkan baru sempat ber-curcol ria setelah hampir setahun kita bertemu terakhir di Bandung (Juli 2014).. Tapi ini janji saya. Sayapun sudah minta izin dari Ibu Goeti untuk meliput semua pengalaman kita di blog ini (jiaahh..'meliput'..)
Tapi saya yakin, ini tandanya pertemuan dan semua yang saya dapatkan dari pengalaman tersebut sangat berkesan..
Buktinya? semua ingatan saya masih terjaga dengan baik **haha..alesaan..

Well haloo.. Ini juga merupakan janji saya untuk membagi dan memposting pengalaman yang selain dari montessori *walau ada hubungannya juga sih..hehe.

Semua rasa dan kesan bercampur aduk antara happy bingiits..terinspirasi..merasa beruntung dan juga salut dicampur aduk dan di mix bagai adonan kue yang enak untuk mengungkapkan pengalaman berharga yang satu ini..

Pertemuan awal dimulai dari ikut sertanya seorang Ibu Goeti Rondonuwu di kelas pelatihan montessori program liburan bulan Juni 2014 *duh udah lumayan lama atuh yah..

Ternyata ibu yang satu ini adalah pengajar musik dari mulai level baby class (10 bulan)sampai anak 15 tahun.. Tambahan : seorang dosen sastra pula.. Hihi.. Ada apa ini sangkut pautnya dengan ilmu kePAUDan? Ya nyambung banget lah ternyata..beliau kan menyelenggarakan baby music class..dari usia bayi lho.. Kebayang gak tuh apa yang diajarkan? Saya sih belum kebayang sebelum dijelaskan panjang lebar plus dapet kesempatan untuk observasi kelas musiknya di Bandung..

Wahai para pembaca..kagum aja saya dengan tahapan sekolah musik Jonim Musik ini.. Untuk kelas bayi sampai remaja tidak terlepas dengan pemberian materi sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.. Baguus banget konsepnya.. Yang bikin gak bagus cuma satu : Kenapa adanya di Bandung? Hahaha.. Kalau deket di BSD akan sangat menyenangkan sekali..

Jadi saat usia bayi, anak-anak yang masih belum disapih menyusuinya itu ditemani orang tuanya di kelas.. Fondasi awal yang dibentuk selalu sama dimana-mana, yaitu : percaya diri dan keteraturan (It sounds familiar in Montessori, right?) dan di semua lini pendidikan usia dini..


 

Banyak support, banyak pujian dan banyak latihan motorik serta sensori di kelas ini.. Adanya pentas di tempat umum untuk unjuk penampilan para anak usia dini pun dimulai dari bayi yang ditemani orang tuanya ternyata mengajarkan banyak tentang percaya diri keduabelah pihak : si anak dan orangtua..

Semua kemasan nyanyian, musik dan gerakan pun betul-betul disesuaikan dengan tahapan perkembangan masing-masing anak. Dari mulai hanya latihan menekan, menggelindingkan bola, memegang alat musik pukul sampai mengingat ketukan, instruksi, dan pengenalan alat musik sederhana untuk mempersiapkan motorik untuk mengoperasikan alat musik dan kepekaan auditorinya terhadap ritme dan nada untuk lebih jauhnya.

Yang paling menarik bagi saya memang kelas usia di bawah 2 tahun, betapa disini Bu Goeti dengan detail mensupport semua yang sedang dibutuhkan untuk anak usia di bawah 2 tahun untuk kenal dengan musik.

Adanya orang tua di samping anak usia ini fungsinya bukan hanya sekadar mendampingi tapi lebih kepada membawa spirit mencintai musik dan menularkannya dengan mudah kepada anak serta memberi arahan dengan contoh perilaku - bukan sekedar perintah komando satu arah * but they did it together (saat harus joget ya joget juga ortunya.. saat harus bergerak bak anak kecil ya seperti itu pula lah mereka lakukan) -- dan ini adalah momen penting yang selalu dinanti sang buah hati untuk selalu bisa bersama..melakukan tanpa ada rasa malu.
Catatan penting : mohon dinikmati momen-momen 'fun' bersama ini dengan buah hati kecil kita ya.. Waktu berlalu begitu cepat. Suatu hari nanti udah gak lucu lagi main bersama se-happy ini bareng mereka.. Mereka juga udah ogah joget-joget dan lompat-lompat ikuti irama sederhana :')

Dan hal ini memudahkan orang tua  untuk mengajak anak usia dini cinta pada musik, karena hal yang terpenting dari momen ini adalah : orangtua mengalirkan energi positif tentang musik dan irama kepada anak-anaknya dengan sepenuh hati.

Tapi ada yang lebih penting dari semua itu, dasar yang sangat krusial untuk dibangun untuk anak telah dilakukan disini, yaitu membuat anak merasa berharga di mata orangtuanya..

 
Life should be balance.. Dan salah satunya dengan musik lah keseimbangan hidup akan kita dapatkan.

Ayo.. Yang mau belajar banyak tentang cara mengajar musik anak usia dini atau mau kenalkan musik bagi buah hatinya sedini mungkin, Ibu yang ramah dan baik hati ini sangat senang berbagi ilmunya.. Kontak beliau di Bandung yaa.. Jl. Bukit Dago Selatan 31 Bandung.
 


 
 

Minggu, 22 Februari 2015

Kencan Kilat-ku dengan Medan

Edisi latepost juga sih yang ini.. tapi mau dibuang sayang..

Saya pingin banget soalnya berbagi pengalaman tentang persinggahan tersingkat saya di luar pulau Jawa untuk mengenalkan Metoda Montessori. Duuh..mentang-mentang ntar acaranya Pengenalan Singkat, jadi beneran singkat deh berada di kota ini.. hehe sesuai judul lah..
Dan kota yang dikencani dengan kilat itu adalah Medan Sumatera Utara.. Waah..kota besar di pulau Sumatera ini sebenarnya sayang kalau cuma ditengok 1 malem **hu hu hu... tapi apa daya hari-hari berikut sudah juga diisi dengan jadwal yang padat merayap juga di tanah Serpong J
Saat tiba di Bandara Kualanamu, kagum-kagum sendiri sama disain arsiteknya, modern minimalis dan nyaman (mudah-mudahan bukan karena masih baru ya). Adanya moda transportasi kereta api yang menghubungkan langsung antara kota Medan dengan Bandara merupakan ide bagus untuk mendukung infrastruktur ini. Keren lah, Bung! Coba simak aja deh ya foto-foto di bawah ini :





 
 
Pengenalan terhadap metoda Montessori di Medan ini ternyata hal yang baru juga ya (perkiraan saya lho..sebagai orang awam yang baru juga injakkan kakinya di kota ini). Buktinya bagi sang EO – Dani –  yang kebetulan kawan adik ipar saya, dia agak kesulitan untuk sebar info ke sekolah-sekolah dan hampir rata-rata belum mengenal dan terasa asing dengan namanya. Alhasil hanya segelintir sekolah saja yang mengikuti, itupun mungkin karena beberapa gurunya sudah pernah familiar dengan metoda montessori.






Tapi salut bagi sang EO.. salut juga bagi seluruh peserta dari 2 sekolah besar di Medan : Sekolah Bina Insan Mandiri dan Sekolah Shafiyyatul Amaliyyah yang sangat bersemangat mengikuti seminar Pengenalan Metoda Montessori ini. Saat sesi tanya jawab, pertanyaan demi pertanyaan semuanya diajukan dengan penuh antusias. Senang sekali akhirnya bisa kenalkan Montessori di Medan, walaupun singkat tapi mudah-mudahan bisa membuka wawasan dan mengkonfirmasi tentang sistem Montessori yang sebenarnya itu seperti apa..
 

Terimakasih Wildani Thaharah – sang EO keren, Terimakasih para partisipan yang luar biasa, Terimakasih sudah memperkenankan saya untuk datang dan berbagi tentang apa itu Metoda Montessori. Mudah-mudahan acara 15 Juni 2014 ini jadi momentum orang Medan untuk mau kenal lebih banyak tentang Montessori.. J
Benar bahwa sesi ini pendek untuk mengenalkan montessori, tapi tidak meninggalkan kesan yang pendek bagi saya tentang Medan dan partisipannya..Okay Medan.. It's nice to meet you.. Next I'll be back!


 

Jumat, 20 Februari 2015

Berbagi Ilmu Montessori Sambil Melongok 'trending topic location'

Saat dihubungi via WA oleh pihak sekolah yang satu ini..bukan main senang hati ini. Tempat lain di Tanah Borneo akan saya kunjungi lagi untuk memastikan metoda Montessori dikenal lebih dalam di sana. Sebuah kesempatan lagi yang wajib saya kerjakan karena ada misi Rumah Montessori di sana, yaitu Montessori untuk Indonesia..makanya..sekolah yang berlokasi di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah ini benar-benar pas untuk mewujudkan sedikit demi sedikit visi dan misi Rumah Montessori tadi..bahwa Montessori harus bisa sampai ke seluruh penjuru Indonesia bahkan remote area-nya sekalipun.

Dan akhir tahun 2014 pun menjadi begitu indah dan penuh penantian untuk bisa sampai ke sana. Ditambah dengan satu agenda lainnya yaitu bertemu seorang kawan lama (eks SMP) yang tinggal di sana, rasanya ini akan menjadi momen yang bertambah penting. 24 tahun sudah kami terpisah sejak lulus SMP tanpa ada kabar dan pertemuan sekalipun baik yang disengaja maupun tak sengaja.

Saat menanti hari H, tanpa permisi munculah berita tragis. Berita yang sempat menjadi headline news di akhir tahun 2014 tentang pesawat penumpang yang jatuh di area perairan Pangkalan Bun dan sampai kini membuat nama kabupaten ini menjadi popular.. Duuh jujur ini menciutkan nyali untuk terbang ke sana..**huhuhu..padahal kan jodoh dan mati ada di tangan Tuhan yaa..** Yah..sebagai manusia normal, kekhawatiran yang datang baik dari diri sendiri maupun orang-orang sekitar kita pasti ada saja.

Namun semakin mendekati hari H nya dan mendapat support serta penguatan dari sana sini, semuanya dipasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa..hehe..

Dan akhirnya ketakutan untuk terbang itu harus dipaksa untuk dibuang jauh..mau tidak mau..komitmen sudah dibuat dan atas nama niat yang kuat untuk menjejakkan kaki di daerah kecil yang penuh semangat untuk maju ini..saya pun terbang ke Pangkalan Bun di hari Kamis 29 Januari 2015. Alih-alih kawatir ini itu, yang ada malah sekarang jadi nambah agenda kunjungannya, yaitu melongok lokasi trending topic dunia..intinya : numpang eksis di lokasi yang lagi sering-seringnya disebut pewarta dan semua stasiun TV lagi demen-demennya menayangkan bandara dan daerah perairannya..hihihi..

Berbicara tentang Pangkalan Bun, kali ini sekolah yang saya kunjungi adalah Sekolah Alam Bina Insan, hebatnya sekolah ini juga merupakan sekolah inklusi yang membantu memfasilitasi anak-anak yang mempunyai hambatan belajar dan bersosialisasi. Sekolah alam yang sederhana namun saya bisa rasa semangat guru dan alamnya yang siap menerima murid dengan segala hambatannya. Sekolah yang tidak gentar untuk menyusupkan dan mengintegrasikan metoda asing yang mungkin belum pernah terdengar oleh penduduk lokalnya - bahkan guru dan stafnya sekalipun - dengan metoda lokal internal mereka. Ada satu titik yakin di sini bahwa apapun nama dan metoda belajar nya, yang pasti semua harus dilakukan dengan berdasar pada 'kemanusiaan'.. ya iya lah..kan muridnya juga manusia..
Guru-guru rehat pelemasan otak dan otot di tengah jeda pelatihan


Berlatih presentasi Menara Merah Muda (Pink Tower)


Inilah penampakan Sekolah Alam Bina Insan



Area Sensorial


Berlatih mengerjakan Kotak Segitiga Konstruksi


Roleplay penerapan sistem Montessori dengan anak-anak didik


Guru berlatih presentasi Tongkat Angka di depan kelompok
Terimakasih Bina Insan dan teman SMP ku Verry Farikhah..untuk mengenalkan saya pada kota kecil yang tenang tiada pernah macet ini..untuk sejenak saja saya bisa lupakan hiruk pikuk Serpong yang sudah mulai bikin penat kepala..untuk jalan-jalannya ke Pantai Kubu..untuk kuliner ikannya yang mantap dan yang terpenting semangat belajar agar selalu bisa melayani sesama dan terus menjadi lebih baik, kerasa banget menginspirasi saya dalam perjalanan kali ini..


Tiada macet, tenang, masih sepi






 Terimakasih tim hebat Bina Insan Pangkalan Bun, mudah-mudahan ilmunya bermanfaat ya

Edisi diculik asyik ke Pantai Kubu.. ha ha ha.. yang diculik happy berat!

Pantai Kubu di Kec Kumai, lokasi pencarian pesawat jatuh masih jauh ke tengah ya..


Selamat tinggal Bandar Udara Iskandar.. Next..kita masih ada utang untuk ke Tanjung Puting yaa..hahaha.. *ngidam berat jadi si bolang nih*



Selasa, 18 November 2014

The Amazing of Pink Tower - Menara Merah Muda

Baiklah pemirsah.. bertemu lagi dengan kelas tutorial online tentang alat Montessori. Kali ini saya mau berbagi tentang cara mengerjakan sebuah alat dari Area Stimuli Indera atau Sensorial yaitu :

b. Menara Merah Muda (Pink Tower)
 

1. Nama latihan                                    : Menara merah muda (Pink tower)

2. Deskripsi material                 : Sepuluh kubus merah muda dengan ukuran terkecil 1x1x1 cm

  dan terbesar 10x10x10 cm. Selisih ukuran setiap kubus 1 cm.

 3. Tujuan langsung                  : Mengembangkan persepsi visual anak pada ukuran & dimensi

                                                       Untuk mengembangkan koordinasi tangan, mata, melatih dan

                                                      memberikan pengalaman tentang urutan serta ukuran besar kecil

     Tujuan tidak langsung         : Mengembangkan kemampuan matematika/pra

                                                      berhitung, menulis

 4. Indikator kesalahan               : Visual, bila tidak benar susunannya tidak akan menjadi

                                                      menara yang baik (menara akan rubuh)

5. Bahasa                                  : balok, besar, kecil

6. Kelompok umur                    : Mulai 2,5 tahun

7. Presentasi                             : Individu /kelompok

1.      Ajak anak untuk  bermain alat. Minta anak untuk siapkan alas kerja lantai. Ambil alat dan sebutkan namanya serta cara membawanya. Lalu persilahkan anak untuk mencoba bawa dan meletakannya di atas lantai

2.      Guru duduk di sebelah tangan dominan anak. Pegang  kubus ukuran kecil dengan menggunakan 3 jari (jari tengah, telunjuk, ibu jari). Untuk kubus yang berukuran besar gunakan kedua tangan untuk memegang kedua bagian sisinya lalu bawa kubus satu persatu simpan di atas alas kerja dalam posisi acak. Katakan kepada anak bahwa kita akan membangun menara, dimulai dari kubus merah muda yang terbesar (berikan kubus terbesar dan biarkan anak meraba) sampai diakhiri dengan kubus yang terkecil (berikan kubus terkecil dan biarkan anak meraba)                                                                                                                                 

3.      Guru mulai menyusun kubus membentuk menara mulai dari balok yang terbesar sampai yang terkecil dengan cara membandingkan terdahulu kubus yang akan disimpan di menara secara berurutan.

4.      Setelah selesai turunkan kembali kubus satu per satu dan simpan secara acak di atas alas kerja.               

8. Mengundang anak untuk mencoba

9. Variasi                                  : Menggunakan kartu, menara rata samping, menara horizontal

10.Catatan tambahan                : Menara merah muda terdiri dari kubus-kubus yang sama warna

  dan berbeda ukuran, hal ini menunjukkan bahwa latihan ini

  difokuskan untuk membedakan ukuran-dimensi bukan hal lain.

              Mulai diajarkan 3 langkah pembelajaran

1.      Tunjukkan kubus yang terbesar : “Ini kubus besar”. Tunjukkan kubus terkecil : “Ini kubus kecil”. 

2.      Tunjukkan keduanya lalu minta anak menunjukkan mana kubus yang besar dan mana yang kecil “Tolong tunjukkan mana yang besar?”

3.      Tunjukkan kubus satu persatu dan tanyakan kepada anak, mintalah untuk menyebutkan ukurannya “Apa ini?”.



Susunan basic Menara Merah Muda

Variasi dari Menara Merah Muda
Dengan bentuk kreasi lain yang tetap berpijak pada konteks aturan dasar/basic (ukuran kubus terbesar ada di bawah)
menjadikan menara dalam bentuk pada gambar ini sekalipun tidak akan rubuh karena berfondasi kuat dan kokoh.
Begitulah anak kita diajarkan, kelak saat mereka membuat kreasi apapun tetap berpijak pada ilmu dasarnya, tidak asal buat kreasi, tidak membangun sesuatu yang tak berlandaskan dari persiapan yang matang.
Kreatifitas yang dibangun adalah sebuah karya atau masterpiece yang bermakna, yang ada manfaat,
yang berfungsi maksimal.. bukan yang asal jadi dan tanpa guna :)

Pengembangan material Menara Merah Muda

Cara membawa kubus berukuran besar
Persepsi tentang ukuran, dimensi dan berat dirasakan oleh indera : visual dan taktil
serta mengaktifkan sensori motorik anak
Pengenalan tentang ukuran 'besar-kecil' tidak didapat hanya melulu dari memilih gambar yang dicentang pada lembar kerja

Cara menyusun setiap kubus menjadi sebuah menara


Cara memegang kubus kecil : dengan menggunakan 3 jari pensil grip
Selain melatih motorik halus untuk persiapan memegang pensil saat menulis juga untuk menguatkan persepsi anak
terhadap ukuran dan dimensi kecil, ringan.. lagi-lagi menggunakan dobel indera : visual dan taktil
 
 
Note penulis :
Alat ini dibuat dengan satu warna yaitu merah muda semuanya.. bukan yang berwarna-warni seperti yang dijual di toko-toko mainan, karena jelas tujuan alat ini hanya untuk pengenalan ukuran dan dimensi saja.. bukan ditujukan untuk warna. Anak akan fokus memilah ukuran ketika visualnya tidak di'repot'kan dengan warna-warni.. sungguh membantu konsentrasi dan fokus anak, apalagi untuk ABK.
 
Alat ini terbuat dari kayu yang padat dan ber-massa atau memiliki berat, bukan dari plastik yang ringan. Karena alat ini juga akan mengenalkan persepsi berat pada sensori motor anak serta memberikan latihan muskular (otot) pada anak-anak yang semua bagian tubuhnya sedang aktif berkembang.
 
Alat ini merupakan persiapan matematika. Bentuk konkrit dari konsep pangkat 3, karena setiap sisi dari kubus merah muda ini berubah ukurannya pada setiap ukuran dari terkecil ke terbesar (setiap kubus dari yang terkecil sampai yang terbesar selisihnya sebesar 1 cm untuk panjang x lebar x tinggi).
Jadi yang terkecil berukuran 1cm x 1cm x 1 cm (1 pangkat 3 = 1 buah kubus kecil), naik satu tingkat yang lebih besar kubusnya berukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm (2 pangkat 3). Jika kita potong-potong kubus berukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm ini menjadi kubus berukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm akan menghasilkan 8 buah kubus kecil berukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm.
Bukti konkrit bahwa 2 pangkat 3 = 8.
Begitulah seterusnya.. sampai pada ukuran kubus terbesar yaitu 10 cm x 10 cm x 10 cm atau 10 pangkat 3 yang artinya akan ada 1000 buah kubus kecil berukuran 1 cm3 didalamnya.. Konsep volume 1000 cm3 = 1 dm3 = 1 liter..
 
Material cantik yang sangat pandai bukan..?
Beautiful and smart material, isn't it?
 







 








 

Sabtu, 01 November 2014

Tinggalkan Three Periods Lesson.. (Whaatt...??)

Anak luar biasa telah memperbaharui konsep Three Periods Lesson

He he.. saya bisa ditimpuk seluruh penghuni jagad Montessori nih kalau buat blog dengan judul super syerem seperti ini..
Ha ha.. tenaannngg.. itu trik marketing.. jangan sembarang dan percaya aja sama berita doongg.. Masa masih gak move on juga di zaman banyak berita hoax begini.. tambah pinter yuk!
Baca dulu.. cermati dulu blog saya.. Marii..

Yg pernah terlibat dalam ke-Montessori-an pasti akrab dg Three Periods Lesson, sebuah sistem pengenalan konsep baru kepada anak usia dini di mana :
Tahap 1 (pengenalan nama konsep) ...

contoh : mengenalkan konsep simbol angka
Guru menyebutkan sambil menunjukkan angka : "Ini angka satu.. Ini angka dua.."

Tahap 2 (berlatih)
Guru meminta anak menunjukkan angka : "Coba tunjukkan mana angka dua? Kalau angka satu yang mana?"

Tahap 3 (menyebutkan nama konsep)
Guru bertanya sambil menunjukkan angka : "Ini angka berapa?"
Langkah di atas benar-benar efektif dan terjadi ideal tanpa hambatan untuk anak-anak yang memang butuh layanan khusus..


Tapi e tapi...tidaklah mudah diterapkan bagi anak-anak hebat zaman sekarang.. yang aktif.. yang kecepatan belajar nya luar biasa.. yang gurunya kadang-kadang kehabisan cara untuk mengarahkan (dan biasanya stuck bin keukeuh sama cara lama-nya Montessori plus nge-hang alias gak move on nyari cara lain)
Hehehe..du du du.. metoda tersebut sudah waktunya di-upgrade..
Seringkali guru kena di-cuek-in..atau tidak diperhatikan..

Beginilah The latest version of Three Periods Lesson di kelas untuk anak-anak hebat kami dan mereka lah inspirator-nya :
Saat anak asik bekerja dan tiba-tiba mereka bertanya benda atau materi yg dipegangnya (misalnya kartu angka 1, 2, 3 dst) : "Bu guru ini apa?"
Bersiaplah masuk ke momen berharga ini, yaitu menjawab dengan antusias, jangan bosan ditanya.. tetaplah menjawab : "Satu" "Dua" "Tiga" dst.. (sesuai dengan materi yg ditanyakan)
Karena sebenarnya di saat anak bertanya itulah, kita sedang melakukan Tahap 1 dari Three Periods Lesson yaitu : pengenalan nama konsep..
Beda-nya...komando tidak ada pada guru tapi anak yang menginginkan Tahap 1 ini dilaksanakan : sekarang juga..

Luar biasa bukan..tak perlu ber-tegang-tegang ria meminta anak memperhatikan..karena disini anak yang menunjukkan sendiri kesiapannya untuk menerima sebuah pembelajaran tentang konsep baru..

Kadang kita gak nyadar..sudah terlalu banyak instruksi untuk menyetir anak supaya sesuai dengan kehendak orang dewasa, jadi wajar ketika kita ajak anak untuk mengenali sesuatu - respon yg diberikan belum tentu sesuai harapan/antusias karena merasa lagi-lagi orang dewasa yg atur.. tak jarang maunya si material tadi malah dijadiin mainan suka-suka dia.. guru stress karena merasa harus sampai materinya..

Wahai guru..rileks-lah sejenak..ada saatnya kau akan mendapatkan momen Three Periods Lesson ini dalam kemasan yang berbeda..hehe..
Walau tak diulang ucap apa yg kita katakan, semua sudah tersimpan rapi di memory chip nya mereka.. Suatu hari mereka akan me-recall kembali data tersebut..


Believe me.. They listen