Kamis, 10 Desember 2015

Gerakan Peduli Tim CSR Rumah Montessori


Ada yang kurang rasanya bila yang diceritakan di sini adalah HANYA kegiatan gerakan peduli berbagi ilmu montessori maupun CSR project nya Rumah Montessori untuk wilayah Serpong dan sekitarnya. Tidak sesederhana demikian, karena momen ini mempunyai makna lebih dari itu. Selain Rumah Montessori bertanggung jawab sekaligus ingin bahwa keberadaannya mempunyai manfaat bagi  sekitarnya, kami pun ingin bahwa tidak hanya kami sendirian yang membagi ilmu.
Akhirnya Rumah Montessori berhasil mengundang sekaligus mengumpulkan para montessorian alumnus Bandung Montessori School untuk membagi apa yang bisa dibagi kepada teman-teman kami : PAUD wilayah Serpong dsk, beberapa peserta independent serta aktivis sosial peduli anak jalanan daerah Jakarta. Mereka bersama tim guru Rumah Montessori dengan sukarela menjadi pemateri pelatihan, memberikan kontribusinya berupa pengalaman dan ilmu yang dipunya -apapun itu- untuk menambah wawasan kepada para peserta yang kami undang untuk ikuti sesi diskusi dan latihan tentang metoda montessori PAUD di Rumah Montessori secara cuma-cuma alias tak berbayar selama 3 hari pertemuan selama bulan Ramadhan yang lalu di tahun 2015 ini. Di sini kami hanya ingin sampaikan pesan penting saja bahwa siapapun berhak untuk mendapatkan ilmu tentangnya (montessori). Mudah-mudahan program ini bisa rutin kami jalankan ya.. tidak hanya untuk yang lokasinya dekat tapi bisa memberi kesempatan pula untuk yang berasal dari luar Jabodetabek.. Aamiin..
Terimakasih untuk tim burgundy guru-guru Rumah Montessori (sudah saatnya sedikit-sedikit ilmu kita dibagikan ya untuk yang lain), Mela Mellina (Karawaci – sukses ya Bumi Abdi Montessori-nya..), Mia Tania (jauh-jauh dari Bandung hanya untukku-untukmu-untuknya..hehe), Diyah Subekti (semangat dari Bogor untuk ketemu suhu kita), Miss IA (Jakarta – si suhu sakti kita) untuk kesediaannya datang dan jadi pemateri ..mudah-mudahan berkah untuk semua.

Sesedikit apapun yang dibagi menurut kita, bisa menjadi arti yang besar bagi orang lain yang menerimanya J
terimakasih Diyah Subekti

terimakasih suhu sakti bin keren ada di tengah kita, Miss IA


terimakasih Mela Mellina
 





terimakasih Mia Tania
 






terimakasih tim burgundy guru-guru Rumah Montessori-ku
 
terimakasih semuanya.. :)

 

Makassar... Antara Pelatihan & ber-Reuni.. Ewako!

Akhirnya saya bertandang juga di Pulau Sulawesi.. Tepat di Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, sebuah sekolah yang boleh saya bilang tampak bersemangat dengan hal apapun yang dapat meningkatkan kemampuan para gurunya : Bright Star Makassar School. Sekolah ini franchise, artinya dia sudah cukup settle dengan segala sistemnya, termasuk kurikulum. Tapi kerennya, mereka tidak berhenti mengendapkan sistem yang berasal dari franschiser-nya saja. Mereka terus menggali informasi kekinian tentang sistem pendidikan dan penuh semangat untuk terus berlatih dan belajar untuk bisa meningkatkan kualitas.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Celebes ini, kentara benar bahwa saya sedang berada di belahan bumi pertiwi Sulawesi. Logat, cara bicara dan tata krama yang khas terlihat sudah identitasnya bahwa pulau ini dihuni oleh kebanyakan penduduk asli dan minim pendatang.

Tiga hari bersama para guru Bright Star Makassar School (3-4-5 Agustus 2015) diisi dengan penuh keceriaan, diskusi dan latihan yang seru. Guru-guru yang menjadi tim pengajar di sekolah ini mayoritas guru muda yang mudah-mudahan masih selalu mempunyai semangat tinggi untuk berada di bidang pendidikan.

Sukses terus untuk terbang tinggi ya, Bright Star Makassar School J
--- 
Keseruan sesi pelatihan memang tidak terlupa, tapi masih ada satu menu lagi yang tidak kalah serunya. REUNI. Emang udah berjodoh.. dengan tanggal dinas luar pulau yang sama dengan salah seorang teman ex SMA yang berprofesi dokter, akhirnya play date dimulai.. euleuh..

Beruntung kami punya teman satu lagi yang juga berprofesi dokter. Saatnya ngerjain para dokter ini ah.. Yang satu emang saat ini lagi tinggal di Makassar nyelesein pendidikan spesialisnya di Unhas, Anney Boron.. beliau harus rela jadi supir, guide, dan teman belanja oleh-oleh. Satu lagi dokter spesialis syaraf : Amanda Tiksnadi, yang datang dari Jakarta dan menjadi salah satu tim pembicara di acara Makassar.. Dia juga harus rela dibawa ‘ulin’ menikmati indahnya malam di Makassar (etapi..dia mah semangat da untuk beredar..hehehe..)

Maaf ya dokter-dokter J

Konro, pisang epe, Pantai Losari, dan oleh-oleh minyak beruang itulah menu kekinian yang harus dijajal selama di Makassar ini. Sayang cuma bisa nikmatin suasana pantai Losari malam hari, gak keliatan apa-apa euy selain hitam pekat plus lampu-lampu.

Jelang tengah malam kita harus hentikan semua keseruan ini (kaya Cinderella ya? Pulang..pulang woy!). Sang Anney harus rela lagi mengembalikan saya ke hotel. Hehehe.. terimakasih banyak ya Anney.. terimakasih Manda.. walau cuma bertiga ketemuan tapi happy pisan.. (2 tahun sekelas di SMA tapi ketemuan seru di pulau nun jauh dari sekolah asal kita itu..sesuatu banget deh.. halah..)

 
 bersama full team Bright Star Makassar School
 

 
 
 
 
 
 
 sesi praktek mandiri material montessori
 
 
 
 
 
 
 
Inilah sisi lain dari sesi pelatihan di Makassar :) 
 
 pisang epe
 
 
 
seuprit isi bandara
 
 kolestrol merajalela, mudah-mudahan ga mengendap.. karena happy
 
tiga dara ex SMAN 5 Bandung Fis 6 terdampar di Makassar
 
 area sekitar penginapan
 
 
 
A untuk Anney.. special thanks to you.. mudah-mudahan lancar segala urusan ya!
 
bareng dokter keren di depan icon Makassar
 
blaahh.. siapa ini pake tembok inisial I ? :p

Rabu, 09 Desember 2015

Melebur & Menyatukan Montessori Dengan Sistem Lain (bagian 1)


(Kisah Program Pendampingan Rumah Montessori di sebuah Prasekolah di Jakarta)

Awalnya judul di atas termasuk pertanyaan ‘most wanted’ di pelatihan saya atau sering dikenal FAQ di buku-buku petunjuk manual sebuah produk. Setiap menjawab pertanyaan tersebut selalu saya jawab enteng hanya sebatas lisan, karena saya belum menggelar fasilitas pendampingan sekolah yang ingin benar-benar ber-transformasi dari sistem yang ada menjadi sebuah sekolah yang memasukkan unsur metoda dan kurikulum montessori di dalamnya.

Memang benar, di benak saya tidak terlalu rumit apalagi jika skup sekolah tidaklah terlalu besar dan massal. Semua masih bisa diatur-atur dan digeser-geser agar pas sesuai dengan rencana dari desain sistem yang akan dilebur. Dengan catatan :

-        Sekolah memang mempunyai komitmen, niat besar dan keyakinan untuk menjalankannya. Terlebih lagi catatan khusus ini harus nempel sangat lekat di pimpro-nya alias PIC yang akan menjalankan program-nya. Jangan heran, kalau PIC-nya sendiri merasa kurang percaya diri, belum memahami benar bahwa benang merah montessori dan sistem manapun adalah serupa tapi tak sama, dan masih ‘galau’ menjalankan program ini à hasilnya juga akan keteteran, terutama dalam hal mem-booster tim gurunya yang sering terkena imbasnya. Seorang PIC harus siap menjadi ‘team player’ yang baik.

-        Sekolah rela diobok-obok jadwal rutinnya, posisi kelas, formasi gurunya, kelompok anak-nya, lay out kelas dan bahkan sampai kepada ‘manner’ atau tata krama guru-gurunya. Bila tidak rela, saya yang mundur perlahan J

Suatu hari pinangan untuk mendampingi sistem itu datang dari sebuah prasekolah di Jakarta Pusat, Bloom Islamic Preschool namanya. Sekolah ini awalnya pernah menerapkan metoda montessori dan kemudian mulai di akhir tahun 2014 kemarin berencana untuk perlahan menjalankan kembali metoda montessori ini lebih intens sebagai bagian dari sistem pembelajarannya. Terima kasih untuk kesempatan luar biasa ini, karena disinilah para guru benar-benar berjuang bersama untuk beradaptasi beralih dari sistem konvensional ke sistem montessori yang terintegrasi dengan kurikulum lainnya. Mulai dari pelatihan, menguji kemampuan guru sampai kepada observasi dan penanganan anak dan manajemen kelas di lapangan. Semua dilakukan dengan time table yang bertahap, tidak langsung membuka semua area karena guru-guru ini juga perlu diberi kesempatan untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru, SOP yang baru bahkan sampai pada tata krama menghargai anak..ternyata tampak menjadi perjuangan tersendiri bagi para pendidik J

Hari demi hari para guru menunjukkan perkembangan yang baik dan semua itu berpengaruh terhadap kondisi anak-anak yang mulai ‘normalize’ atau terbiasa dengan aturan main dari sistem yang baru.

Saya hanya bisa akui, yang masih bertahan sampai saat ini di titik sistem seperti ini terbukti sudah bahwa mereka tahan uji mental. Satu yang saya pastikan, bukanlah hal mudah untuk berjalan di atas sebuah konsep baru apalagi dengan sebuah budaya yang sudah sangat melekat sebelumnya. Terimakasih rekan-rekan Bloom atas keterbukaan hatinya, kerelaannya belajar bersama, berjuang dan senantiasa masih punya komitmen dalam menjalankan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan terus berkembang menjadi pusat pendidikan anak usia dini yang berkualitas.
 
 Foto bersama Bloom Preschool Team


 

 

 

 

Junior dan senior dengan menara merah muda

 

 

 

notes : sudah diizinkan untuk tayang dan di-posting di blog oleh owner sekolah