Senin, 29 Juli 2013

Rumah Montessori, sebuah Rumah tempat anak belajar untuk hidup

Baiklah pemirsa.. kalau memang ini lebih cocok untuk dikatakan promosi, ya monggo.. Tapi, in my simple mind, saya di sini hanya mencoba untuk berbagi informasi bahwa di Tangerang Selatan - lebih spesifik lagi di Jl. Kencana Raya J5/7 Kencanaloka BSD City Sektor 12 sudah ada Preschool untuk anak usia 2-6 th yang menerapkan metoda Montessori di dalamnya.

Saya masih berkesempatan untuk terjun langsung mengajar anak-anak luar biasa ini karena saya merasa dari merekalah saya banyak belajar dan menambah wawasan. Bahkan untuk dibagi ke peserta pelatihan saya sendiri pun saya harus banyak meng-update kekini-an tingkah polah anak-anak usia dini ini. Walau jam terbang mengajar bisa dikatakan tidak sedikit tapi apalah guna kalau tidak ada update.. ( makin update..makin eksis :) ).

Di sinilah saya ingin bersentuhan kembali dengan anak-anak usia dini.. Ingin rasanya juga ikut belajar bersama dengan para orang tua zaman sekarang sambil terus meng-edukasi mereka yang ada di garis 'galau' dalam hal mendidik anak.

Mudah-mudahan wahana Rumah Montessori ini bisa membantu membekali anak bukan hanya untuk sekolah/belajar tapi juga untuk 'hidup'.


 
 

 

The Great Trip : Singkawang-West Borneo


Daerah berikutnya yang dikunjungi di Pulau Kalimantan setelah Samarinda untuk Inhouse Training Metoda Montessori adalah Singkawang.. Area ujung Barat Pulau Borneo yang harus ditempuh sekitar 4 jam lamanya lewat jalan darat dari Ibukota Kalimantan Barat yaitu Pontianak.

Tugas training kali ini benar-benar 'bermuka dua' :) antara kewajiban menyebar semangat Montessori dan berwisata.. Pengalaman yang tak terlupa.. Setelah usai pelatihan di bulan Maret (28 s.d 31 Maret 2013), seakan menjawab keinginan untuk kembali.. akhirnya Rumah Montessori-pun kembali di awal bulan Juni (8-9 Juni 2013).

Perjalanan yang tak pernah membosankan, selalu ditemani keindahan alam Indonesia, dan teman-teman yang ramah dan hangat *walau kadang harus terdiam saat mereka bercakap-cakap dalam bahasa 'Khek' - yang merupakan bahasa asli penduduk setempat.

Kota Seribu Klenteng ini bukan hanya sebutan yang tiada bukti.. memang benar adanya. Sepanjang jalan meninggalkan Pontianak mata saya dimanjakan oleh pemandangan beragam macam bentuk bangunan klenteng. Dari yang hanya sekedar tempat sesembahan di depan rumah yang lebih mirip 'mushola'-nya orang muslim, sampai yang klenteng yang berukuran kolosal ada semua. Setiap radius kurang dari 200m selalu ada.. *kalau di BSD patokan setiap 200m adalah swalayan-swalayan waralaba berinisial A***mart dan I***mart..hehehe..

Bahagia rasanya mendapatkan kesempatan untuk berbagi Metoda Montessori dengan harapan bisa diimplementasikan di Bumi Singkawang ini. Di sekolah Budhis Asokaputra dengan jaringan sekolahnya Asoka Widya dan Sivaliputta, kita sama-sama belajar mengenai metoda yang mungkin baru kali ini mereka kenal lebih dekat.

Dengan SDM para pengajar yang masih muda, pemuda-pemudi aktivis Budhis yang kebanyakan mendedikasikan tenaganya untuk anak Singkawang rasanya kesempatan ini jangan sampai luput dan dibiarkan tak berbekas.

Mereka cerdas, mudah untuk mengingat dan masih memiliki energi besar untuk 'berubah'. Mudah-mudahan mereka mampu membawa kondisi pendidikan di tanah tinggalnya untuk menjadi lebih baik.


Singkawang memang terkenal sebagai daerah wisata bagi orang-orang kota Pontianak. Saat berada di sana, etnis Tionghoa memang benar-benar kental. Serasa berada di Hongkong atau China, itu benar sekali adanya.

Sudut-sudut kotanya, penduduk aslinya dan tentunya bahasa yang mereka gunakan.

Minuman favorit selama berada di sana adalah air jeruk besar yang tanpa tambahan gula pun sudah manis rasanya.. Indonesia selayaknya berbangga dan bersyukur punya aset hasil bumi sebaik 'jeruk pontianak' ini. Air jeruk yan melimpah ruah dan manis.. Heaven!

Teman-teman yang baik hati di Singkawang ini tak akan pernah saya lupakan. Bersama mereka, seakan tak lelahnya menawarkan untuk berkeliling Singkawang dan menjamu dengan beragam kulinernya.

Sungguh-sungguh saya jatuh cinta pada kunjungan training yang satu ini.

Singkawang I'm in love with you.

Tetaplah menjadi bagian Indonesia terindah yang selalu menjaga kerukunan umat multikultur dan multi-agama-nya. Perbedaan itu berwarna-warni.. dan berwarna-warni itu indah..
 
Pijakan pertama di Bumi Khatulistiwa 


Hari pertama pelatihan di Sekolah Asokaputra
 

Potret khas pedalaman belantara Kalimantan
 

Keindahan Vihara Ambavana Arama yang terletak di tengah hutan


Di salah satu ruang tempat retret di Vihara Ambavana Arama
 

Look at their eyes.. The joy of teaching is in there :)
 

Sebuah potret kebersahajaan di salah satu sudut Vihara Kaisar Langit yang kental dengan etnik Tionghoa.
Vihara ini terletak di atas sebuah bukit.
Sungguh tempat yang sempurna untuk melepas segala urusan hiruk pikuk duniawi 
 

Berfoto bersama Bhikku Thitayanno Thera dari Vihara Vimala Chanda Arama
dan Pak Neky dari Sekolah Sivaliputta Pontianak
 

Foto bersama seluruh guru peserta pelatihan Montessori Singkawang
 

Bacalah dengan seksama isi pengumuman di papan hijau di atas.
Dapat dibayangkan betapa beruntungnya saya dapat mencapai tempat tertinggi di Bumi Singkawang : Puncak Rindu Alam
 

Suasana pelatihan lanjutan. Kunjungan kedua kalinya ke Singkawang di bulan Juni 2013.
 

Inilah target wisata kuliner ter-populer di Singkawang : Bakmi 68.
Tempat sederhana ini menjadi luar biasa karena telah dicambangi oleh banyak orang terkenal.
 

Membangun kata dengan kotak huruf berpindah (moveable alphabet)
 

Pose-pose saat pelatihan berkhir di tanggal 8 Juni 2013.
Siap untuk membawa kenangan indah ini kembali ke BSD keesokan harinya..
 

Minggu, 26 Mei 2013

Rumah Montessori Tour de Java (Jan - Feb 2013)

Dear my blog..

Catatan perjalanan saya yang belum di-update di sini adalah saat saya diminta share Metoda Montessori  oleh sebuah produsen susu anak di 5 kota besar di Pulau Jawa.. Di Facebook, saya ngasih judulnya Tour de Java. Kota yang akan saya kunjungi adalah Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya.

Salut dengan ide kreatif dari si produsen susu ini, mereka memberikan sebuah loyalty kepada para pelanggan setianya dengan memberikan rewards berupa kesempatan mendapatkan layanan edutainment secara gratis. Di sentra-sentra edutainment ini, fasilitas yang diberikan tidaklah main-main.. tidak juga setengah-setengah. Dari mulai sumber daya manusianya, lokasi – bangunan - palyground nya, alat-alat edukasinya bahkan sampai metodanya pun mereka berikan yang terbaik bagi sang buah hati. Anak-anak yang ber-edutainment di sentra ini diajarkan banyak hal sesuai dengan kelompok usianya. Berbagai stimulasi diberikan untuk menunjang kecerdasan anak.

Bangga dan bahagia rasanya, masih ada yang peduli untuk memberikan pendidikan berkualitas tanpa membebani orang tua dengan biaya  yang berlebihan.. *smile..

Kota pertama yang akan saya kunjungi adalah sentra Bandung. Wah.. ini sih judulnya pulang kampung euy.. Rencana nginep juga di rumah mertua hehehe.. Berangkat dari BSD subuh by travel ditemani dengan hujan yang ga pernah habis sampai di tempat tujuan yaitu Bandung. Tim yang didominasi ku urang Sunda.. Ini dia foto Tim Bandung.


Kota kedua adalah Jakarta.. Dekat lah dari BSD mah.. Sesi ini saya gak perlu nginep-nginepan, masih bisa bolak balik pake transportasi umum. Kadang naik taxi, naik angkot, sampe nebeng tetangga – yang ternyata salah satu tim pengajar sentra Jakarta pun dijabanin.. *Thanks Ms. Adis. Dari mulai pelatihan di Bandung, cuaca memang sudah tidak bersahabat. Kalau gak banyak-banyak nge-doping pake suplemen, vitamin dan air putih plus nge-set otak supaya kuat dan tidak tumbeng.. pfhh.. udah bablas deh kayaknya.. Cuaca oh cuaca.. atau my body oh my body..? Dan.. inilah  dia foto bareng dengan Tim Jakarta usai pelatihan.

 
Lanjoot.. kota ketiga adalah Yogyakarta. Weitss.. salah satu kota favorit untuk tujuan wisata. Tapiii.. ini teh tugas neng Ipiii… lagi diness.. lagi kerjaa.. hahahaa..*berupaya keras mengenyahkan segala hal berbau ‘senang-senang’.. Jadwal padat merayap..  Tim Sentra Yogyakarta ini sepertinya telah mempersiapkan segalanya dengan baik sehingga pelaksanaan pelatihan disini ikutan ‘rapi’ dan  lancar karena semua sudah tersedia sebelumnya. Foto kegiatannya.. silakan disimak
 
Kota keempat adalah Semarang.. Hihihi..jujur..belom pernah ke Ibu Kota Jawa Tengah ini.. Makanya seneng bisa langsung menginjakkan kaki di kota ini. Kota berhawa hangat ini juga se-hangat orang-orangnya. Mudah-mudahan kru di sentra ini tambah solid yaa..Ini dia foto mereka
 
Terakhir adalah kota Surabaya..Jawa Timur.. Wah kota besar dengan kru sentra tersedikit tapi kompak.. Seneng banget bisa mampir di kota yang dulu pernah ‘dilewati’ sekilas-sekilas aja.. Foto dengan tim dulu nih..
 
Akhirnya selesai sudah rangkaian kerja melatih para teacher di seluruh sentra. Senang melihat semangat mereka, generally mereka sudah memiliki sosok yang baik untuk mengarahkan anak. Saya percaya, jika dilakukan dengan sepenuh hati professionalism yang tinggi pasti akan menghasilkan output generasi yang baik pula.
Kagum dengan program perusahaan ini, dimana sisi terpenting untuk tumbuh kembang dan kecerdasan anak tidak diabaikan dengan hanya menempatkan produk barangnya di tempat teratas. Ada hal lain yang mereka lakukan untuk mendukung anak supaya menjadi generasi tangguh dan cerdas di segala aspek. Keseimbangan dan kesinambungan Asah-Asih-Asuh inilah yang dipersembahkan oleh mereka untuk anak-anak Indonesia.

*special thanks dedicate to Miss Yessy Lofarti dan Ibu Ati.. kangeen..

Jumat, 12 April 2013

Neo Rumah Montessori


Hai blog yang kucintai.. Apa kabarnya.. widiih..lama ya gak nulis nulis disini.. Kesibuk-an amat siihh.. Sampe pergantian tahun pun tak tersentuh..

Padahal bisa kalau mau nyempetin curhat mah.. hehehe..
Sebelum nyeritain tentang ‘kemana aja si saya’ selama ini, mau cerita dulu tentang Rumah Montessori yang sudah pindah nempatin lokasi baru dulu yaa..

Lokasi baru : Jl. Kencana Raya J5/7 Kencana Loka BSD Sektor 12 Tangerang Selatan

Ini cerita seru lho..dan saya mau keep di blog ini..
Setelah “memastikan diri” (bukan dipastikan orang ya.. karena keputusan dan masalah memastikan ini harus saya ambil cepat sehubungan dengan banyaknya rencana yang akan dan harus dilakukan dengan target waktu yang sudah ditentukan oleh si saya) bahwa lokasi lama tidak dapat diperpanjang lagi masa sewanya.. saya buru-buru hunting untuk cari lokasi baru dengan sekian kriteria yang sudah ada di kepala. Mulai dari harus di lokasi strategis, layak huni, minim renovasi, dekat dengan rumah (euleuh manja pisan..mani ga mau jauh-jauh dari rumah.. hahaha..) dan dengan budget blablabla..

Mulai dari minta info ke agen-agen yang sudah kenal, searching di internet sampai survey langsung ke area TKP yang diminati. Akhirnyaa…dapeeett..! Semua kriteria tadi dapeet lhoo.. Alhamdulillah.. tapi beneran deh ini perjuangan banget, dari mulai gak yakin bakalan dapetin, ngelunasin bahkan nge-renov-nya sesuai dengan keinginan hati.. duh ya Allah.. darimana uang-nya? Karena pingin bikin Rumah Montessori ini jadi sekolah rumah-an juga.. sebuah Rumah Belajar yang bermetoda Montessori berbahasa Indonesia. Yang tadinya cuma buat kursus, mau dong bisa jadi ‘sekolah’.

Terimakasih yang sebesar-besarnya terutama kepada Tuhanku – Allah SWT.. atas kehendakNya, saya dibantu dan ditolong oleh seseorang yang tidak asing..dia adalah kakak kandung saya.. Hatur nuhun Kang :’) Tanpa dirinya, saya gak mungkin bisa mewujudkan salah satu ‘mimpi’ saya ini..

Dan pihak-pihak lain yang ngga bisa saya jembreng satu-satu di blog ini. Pokonya mah nuhuuunn!

Cerita berlanjut.. sebuah proses renovasi dijalanin dengan target waktu yang cukup kenceng, karena merasa gak mau rugi waktu. Wuih..banyak banget cerita di balik ‘perombakan’ Rumah Montessori baru ini.. Mulai dari deal dengan tukang borongan yang ternyata bisa berubah jumlah dana yang dimintanya di awal, sedikit ada bersitegang dengan tukang, si saya yang jadi orang super heboh bin rewel karena kerjaan engga bener (money talk berlaku banget euy!), anak sulung masuk rumah sakit, disambi dengan jadwal super ketat pelatihan ulang-alik luar kota.. heeuuupp! Ngetiknya juga sampe hah heh hoh..capee..tarik nafas dulu yah.. Tapii..sekali lagiii.. Saya percaya banget sama kata-kata mantan pacar : You can because you think you can!

Yang jelas bangunan ini saya otak-atik sesuai inginnya si saya, pemirsah! Dan inti dari blog saya kali ini.. teruslah kejar dan wujudkan mimpi-mu satu demi satu, jika gagal jangan pernah berhenti dan mengubah mimpinya tapi ubahlah strateginya (copas dari orang bijak ini mah..)
Satu lagi.. infotainment ini mah : memang yaa..kalau kepepet plus keukeuh, orang teh bisa aja cari jalannya sampe dapet ;)
 

Silakan dilihat-lihat.. siapa tahu ada yang tertarik buat daftarin anak-anaknya ke Rumah Montessori.. ditungguu banget.. diajar oleh saya langsung lhoo.. hehehe..*kegatelan pingin deket sama anak-anak terus tuh.. (Yes! Because they're so amazing..) Ga pa pa yaa sekalian promosi..

 



 









 

 

Minggu, 09 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 3) - SELESAI


Ketika posisi guru Montessori berada dalam lingkup yang lebih luas yaitu dalam kelas, hal yang diharapkan darinya adalah :

-          Menjadi panutan yang baik bagi para anak didiknya (good role model). Anak-anak dalam masa emasnya mempunyai kecepatan menyerap informasi dan pengetahuan yang tinggi. Dia pun akan dengan otomatis mudah mencontoh apa yang dilihatnya. Sebagai guru Montessori tentu harus berhati-hati baik dalam bersikap dan berbicara, karena anak-anak akan meniru semua itu.

-          Konsisten dan tegas dalam menerapkan disiplin di kelas. Berbahasa yang sopan dan berbicara dengan nada lembut juga diperlukan ketika menghadapi anak-anak secara personal.

-          Guru Montessori akan menjaga agar lingkungannya selalu aman, tenang, damai, rapi, teratur, dan bersih. Anak-anak juga akan mengamati dan belajar untuk ikut serta mewujudkan kondisi seperti itu.

-          Guru Montessori akan terlihat selalu dekat, bergerak dan sibuk dengan anak-anak. Dia tampak selalu berada dekat dengan anak-anak serta siap untuk melayani dan mengarahkan jika diperlukan. Itulah mengapa di kelas Montessori tidak ditemukan meja guru atau papan tulis di depan kelas, karena semua kegiatan belajarnya terpusat pada aktivitas anak-anak.

-          Guru Montessori tak pernah berhenti mengamati aktivitas anak-anak, karena memang tugasnya yang terpenting adalah mengamati setiap perkembangan mereka.

 

Mungkin ada sebersit pertanyaan mengenai judul essai “Menjadi Guru Montessori Ideal” ini. Mengapa penulis menambahkan judul essai yang dianjurkan pelatih dengan menambah kata “menjadi” ? Sebab menurut penulis, judul ini rasanya lebih tepat dengan paparan yang diungkapkan di sini. Karena dalam tulisan ini selain penulis menguraikan hal-hal yang berbau teoritis, ada hal yang ingin penulis sampaikan secara persuasif kepada siapapun yang menginginkannya untuk dapat bersama-sama melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Menjadi” adalah sebuah kata yang menunjukkan sebuah proses. Di dalamnya sarat akan makna ‘perjalanan’ menuju kesempurnaan karena kita sebagai manusia walaupun berprofesi seorang guru sekalipun bukanlah makhluk yang sempurna. Kita hanya dapat berusaha untuk menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Jadi, menurut Mochtar Buchori (2007) : bahwa menjadi guru ideal pada umumnya, apapun itu metodenya, merupakan proses melakukan usaha secara terus-menerus untuk :

  • Meningkatkan pengetahuan serta meningkatkan penguasaan terhadap materi pembelajaran
  • Meningkatkan kemampuannya menyampaikan materi pembelajaran secara efektif, edukatif, dan dialogis
  • Meningkatkan kualitas ‘hubungan pedagogis’ dengan para siswa, yakni menjalin hubungan pribadi dengan siswa yang didasarkan atas kepercayaan (trust)

Jika usaha untuk menjadi guru ideal dijadikan sebagai acuan guru-guru di Indonesia, saya percaya mereka akan berhasil membentuk para peserta didiknya menjadi manusia yang berkualitas.
 
S E L E S A I :)



REFERENSI

Buchori, Mochtar. Handout Seminar Menjadi Guru yang Profesional. 11 April 2007

Rachman, Arief DR. MPd.. Handout Seminar Membentuk Guru yang Kreatif dan Inovatif Menghadapi Era Globalisasi.

Gettman, David. Basic Montessori Learning Activities for Under Fives. New York. St.
Martin Press. 1997.

Hainstock, Elizabeth G. Essential Montessori Updated Edition. New York. Plume Printing. 1986.
 
Lillard, Paula Polk. Montessori A Modern Approach. New York. Schocken Books. 1972.

Module I Montessori Philosophy

Pengalaman pribadi penulis sebagai anak didik sebuah sekolah pada zamannya

Pengalaman pribadi penulis sebagai guru di Pra sekolah Bandung Montessori School

 

Selasa, 04 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 2)


Guru ideal yang diperlukan dalam sistem pembelajaran dengan metoda Montessori adalah guru yang mengajar hanya sedikit, tetapi banyak mengamati dan hanya mengarahkan anak untuk melakukan latihan-latihannya sendiri. Dia lebih banyak pasif daripada aktif . (Lillard, 1972).
 
Yang perlu dilakukan dalam melaksanakan tugasnya sebagai fasilitator ketika menghadapi anak secara perseorangan dalam kegiatan belajar :
 
-        Pandanglah anak dengan sungguh-sungguh dengan melakukan kontak mata yang baik dan samakan ketinggian kita dengannya ketika berbicara. Berbicara dengan lembut dan berada benar-benar di dekatnya membuat semua komunikasi menjadi efektif dan efisien.
 
-        Guru dan anak didik diharapkan dapat saling belajar dan bekerja sama. Jangan pernah sungkan untuk belajar dari anak didik dan jangan pernah ‘gengsi’ untuk mengatakan tidak tahu maupun mengakui kesalahan. Anak didik berperan sebagai subjek dan objek dalam kegiatan belajar mengajar. Guru Montessori bukan pusat perhatian kegiatan belajar, melainkan anak didik yang menjadi pusat perhatian kegiatan belajar. (Lillard, 1972)
 
-        Dalam mengajarkan sesuatu, guru Montessori mempunyai tahapan-tahapan terstruktur yang dimulai dari mengenalkan, mengerjakan, menyelesaikan sampai pada tahap memberi kesempatan kepada anak didik untuk mencoba. Hal yang penting untuk diketahui adalah, ketika anak mempelajari hal tersebut bukanlah semata-mata belajar langsung dari gurunya tetapi justru dia belajar melalui kemampuan pengamatannya sendiri. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986)
 
-        Untuk itu, sebagai guru Montessori jangan pernah bosan untuk mengulang terus memberi tahu anak bagaimana cara mengerjakan latihannya dengan benar karena dengan latihan yang dikerjakan berulang-ulang itulah yang membuat kemampuan pengamatan si anak akan meningkat sehingga cepat atau lambat anak akan menemukan sendiri kesalahannya. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986)
 
-        Ketika anak tengah bersemangat mengerjakan latihannya sendiri, guru Montessori sebaiknya tidak melakukan interupsi. Kunci suksesnya adalah ketika anak mulai berkonsentrasi penuh, berlakulah seakan-akan seperti anak tidak ada. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986). Biarkanlah anak mengerjakan latihannya dengan cara dan kemampuannya sendiri. Karena jika interupsi dilakukan, maka konsentrasi anak akan terganggu. Konsentrasi anak adalah hal terpenting dalam aktivitasnya.
 
-        Ketika anak selesai mengerjakan latihannya hal yang perlu diingat seorang guru Montessori adalah jangan pernah membuat anak merasa dia telah berbuat kesalahan. (Absorbent Mind dalam Hainstock, 1986). Karena hal inilah yang dapat menjadi penyebab ‘pembunuh’ terbesar dalam keinginannya untuk belajar dan mencoba. Membiarkan anak puas dengan apa yang telah dikerjakannya sendiri akan lebih baik untuk perkembangan rasa percaya dirinya.
 
Bersambung..

Sabtu, 01 Desember 2012

Menjadi Guru Montessori Ideal (Bag 1)

 
Pengalaman pribadi penulis di saat mengenyam pendidikan di sekolah dulu meninggalkan kesan yang khusus untuk para gurunya dan mungkin bagi sebagian orang yang sezaman, mereka akan mengangguk setuju ketika membaca tulisan ini.
Sosok ‘guru’ yang masih melekat di benak penulis ketika itu adalah sosok yang tidak pernah salah, pusat perhatian dalam kegiatan pembelajaran, ada perbedaan ‘strata sosial’ yang cukup jelas, komunikasi satu arah dan kadang tidak mau didebat ataupun diajak berdiskusi apalagi ‘belajar’ bersama (sharing) dengan peserta didik. Hmm.. sungguh-sungguh guru yang ‘sempurna’ ya.. pikir penulis hari ini.
Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan-kemajuan di segala aspek kehidupan, pemikiran pun sepertinya ikut ‘terbuka’ dan lebih berani dalam melakukan perubahan. Perubahan untuk menjadi lebih baik saya kira itu bagus, khususnya pada bidang pendidikan. Sosok ‘guru’ yang penulis uraikan di atas tadi, berangsur-angsur sudah sulit ditemukan. Terlebih lagi ketika penulis diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengalami sendiri menjadi guru yang ‘berbeda’ dari guru pada zamannya dulu.
Inilah kiranya titik awal penulis untuk bertekad melakukan perubahan pengajaran untuk menjadi lebih baik.
Di awal perkenalannya dengan metoda pengajaran Montessori dan sampai saat paparan ini ditulis, penulis banyak menganggukkan kepala tanda sepakat untuk hampir keseluruhan pemikiran yang terdapat di dalamnya.
Dalam Montessori Philosophy Module I, ide dasar metoda Montessori adalah spontaneous activity and independent learning, dimana sosok guru yang melekat di benak penulis saat bersekolah dulu tidak diperlukan lagi di alam pembelajaran seperti ini.
Guru yang harus ‘muncul’ untuk metoda yang berbasis seperti ini adalah seorang guru yang mampu menjadi fasilitator. Dia diharapkan mampu mencapai tujuannya yaitu :
-          Menggali dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak
-          Mengantarkan dan mengarahkan kemampuan intelektual, moral, dan budaya anak didik pada tingkat yang tertinggi.
Menurut pandangan saya, yang diharapkan dimiliki oleh seorang guru Montessori dari sisi kepribadiannya (personality) adalah :
-          Semangat yang tinggi
-          Penuh keikhlasan dan kesabaran menghadapi anak didik
-          Mengajar dengan sepenuh hati
-          Pantang menyerah
-          Selalu ingin belajar lebih banyak
-          Optimis dalam menghadapi anak didik, selalu percaya bahwa anak didiknya akan berhasil
-          Selalu terlihat ceria dan senang hati
Sedangkan kemampuan teknis yang diharapkan seperti yang tercantum dalam Montessori Philosophy Module I adalah :
-          Pengetahuan tentang metoda Montessori
-          Pengetahuan mengenai perkembangan anak
-          Kreatif dan penuh inspirasi dalam menstimulasi anak
-          Kapasitas pengetahuan yang layak
-          Kemampuan mengamati
Tapi menurut Maria Montessori sendiri bahwa kemampuan teknis bukanlah segalanya tetapi yang lebih penting dibangun dalam diri seorang guru adalah semangatnya.
It is my belief that the thing which we should cultivate in our teachers is more the spirit than the mechanical skill of the scientist. (Maria Montessori dalam Hainstock, 1986)
 
Bersambung...