Sabtu, 01 Agustus 2020

Mengapa Ada 4 Belah Ketupat di Kotak Konstruksi Segitiga Heksagon Kecil - Montessori?

Seri rangkaian Q and A - tanya jawab seputar Metoda Montessori


Notes : 
Untuk menjawab pertanyaan Q and A, sumber referensi yang dipakai dalam paparan blog ini beragam. Penulis bisa mendapatkannya dari hasil pencarian data pengetahuan yang berasal dari berbagai sumber seperti buku-buku pengetahuan terkait serta workshop dan komunitas Montessori enthusiast skala internasional dan local yang diikutinya. Bisa juga merupakan pendapat pribadi penulis hasil dari pengalaman dan pengamatannya selama dua dekade (hampir 20 tahun sebagai praktisi PAUD dan metoda Montessori) yang tetap berdasar pada data ilmu pengetahuan yang terkait, ilmu psikologi tumbuh kembang anak, metoda montessori dll. Wajar dan pasti jika ada salah dan kurang dari penulis.
Mohon diambil yang baik dan bermanfaatnya saja, semua penyimpulan dan pilihan jawaban dikembalikan kepada kebutuhan pembaca.
Para pembaca dipersilakan bahkan wajib untuk mencari pengetahuan dan informasi lainnya dari berbagai sumber sehingga dapat memperkaya wawasan.


Mengapa ada 4 belah ketupat-nya?
Pertanyaan dari orangtua dan siswa Rumah Montessori di masa online learning (PJJ) saat anak mendapat kegiatan di rumah berupa kotak konstruksi segitiga level 2 (kotak heksagon kecil). 
Terimakasih untuk pertanyaannya. Saya terbiasa untuk menjelaskan panjang lebar walau mungkin yang dibutuhkan adalah jawaban short cut nya aja 😁 Maaf ya jika kepanjangan dan boring. Tapi saya percaya, pertanyaan yang diajukan dan jawaban ini akan menjadi tambahan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Inilah foto yang menunjukkan isi dari kotak konstruksi segitiga level 2 - kotak heksagon kecil - 

Foto pertama : kumpulan segitiga sebelum digabung


 
Foto kedua : kumpulan segitiga yang sudah digabung sehingga menghasilkan bangun geometri lainnya.
Untuk video tutorial cara kerja material ini silakan klik link berikut https://youtu.be/kSSk9kvKH4M

Tampak dalam foto kedua ada 4 belah ketupat yang dihasilkan dari penggabungan segitiga : 
Sampai saat ini saya belum menemukan penjelasan yang lebih detil apalagi yang langsung dari pelopornya. Sependek pengetahuan saya, pada dasarnya kegiatan konstruksi segitiga ini bertujuan : 
1•• Supaya anak paham bahwa segitiga adalah bentuk paling dasar untuk membangun bentuk-bentuk geometri lainnya.
2•• Visual dan pemahaman anak usia dini tentang bangun geometri ini diasah dan dimatangkan melaui :
- pengulangan pengelompokkan warna (untuk mendapatkan bangun geometri tertentu : pola warna yang digabung selalu yang sama warna) 
- pengulangan gerakan motorik saat anak menggabungkan bangun segitiga
- pengulangan bentuk geometri yang dihasilkan dari penggabungan segitiga 
3•• Semua pengulangan di atas akan membantu menguatkan visual dan daya ingat anak terhadap figur si bangun geometri sehingga dalam jangka panjang akan lebih mudah dalam menyimpulkan sifat dan ciri khas sebuah bangun geometri.

Mengenai kenapa yang dipilih bangun belah ketupat, mungkin ada maksud tersendiri dari si penemu metoda ini yang saya belum tahu. Bisa saja seperti material lainnya yang kalau ditanya sampai detil kenapa warna, bahan dan bentuknya begini begitu, sepengalaman saya : saksi sejarah yang mendampingi langsung Maria Montessori sekalipun tidak juga selalu mempunyai data alasannya kenapa karena mungkin ya itu.. bisa jadi alasannya sederhana saja, mungkin 'hanya' karena memang Montessori harus memilih salah satu bentuk sebagai alat atau mediator yang perlu ada untuk membantu memudahkan pemahaman. Silakan cek artikel terkait di :

Menurut saya pribadi, belah ketupat ada 4 buah (3 berdiagonal vertikal dan 1 berdiagonal horizontal) di kotak konstruksi ini karena belah ketupat termasuk bangun segi empat sederhana yang pertama dikenalkan pada anak di kotak level 2 ini setelah sebelumnya di kotak level 1 : anak hanya bertemu dengan bangun segitiga saja. Karena dianggap merupakan sesuatu yang baru, maka dirasa butuh upaya lebih untuk mengenalkan dan mendekatkan kesan konkrit si bangun ini sesering mungkin agar terbentuk penguatan kesan, daya ingat dan pemahaman anak terhadap karakteristik sifat dan ciri khas bangun segi empat, khususnya belah ketupat ini. Sehingga nantinya anak akan lebih mudah mengidentifikasi perbedaan sifat dan ciri khas bangun segi empat lainnya seperti jajaran jenjang dll ketika anak bekerja dengan kotak konstruksi segitiga selanjutnya yaitu level 3 - kotak hexagon besar dan level 4 - kotak persegi.  
Selain itu, kita bisa menunjukkan kepada anak bahwa bangun heksagon yang merupakan tema kotak konstruksi level 2 ini ternyata bisa dibangun lewat penggabungan 3 buah belah ketupat yang sama identik.

Foto di bawah ini menunjukkan isi dari kotak konstruksi segitiga level 3 - kotak heksagon besar -



Tampak di foto bahwa dalam kotak level 3 ternyata ketemu lagi ya dengan belah ketupat merah (sebagai reminder atau pengingat akan bangun segiempat yang pertama anak temui adalah 4 buah belah ketupat di kotak level 2) dan ada pengenalan bangun segi empat yang 'baru' yaitu : jajaran genjang abu-abu yang diharapkan anak akan mudah paham dan peka akan adanya perbedaan pada kedua bangun tersebut diantaranya dengan melihat garis diagonal hitam dan kesimetrisan segitiga yang tampak pada belah ketupat dan jajaran genjang. Setelah anak selesai dengan kotak heksagon besar level 3 akan dilanjutkan ke level 4 - kotak persegi untuk ketemu all about segi empat lainnya seperti persegi panjang, bujursangkar, trapesium dan aneka versi jajaran genjang. 

Foto di bawah ini menunjukkan isi dari kotak konstruksi segitiga level 4 - kotak persegi panjang -


Di kotak ini, jajaran genjang dikenalkan dalam berbagai versi bentuk dan ukuran (lihat bangun warna hijau - yang bukan segi empat sama sisi - dan 3 bangun warna kuning). Anak diajak untuk mengenal bahwa bagaimanapun bentuk dan arah garis hitam diagonalnya jika semua memenuhi persyaratan karakteristik sebuah jajaran genjang yaitu : memiliki 2 pasang sisi yang sejajar dan sama panjang, ada 2 pasang sudut yang berhadapan sama besar, memiliki dua diagonal yang saling berpotongan, kedua diagonal pada jajaran genjang tidak sama panjang, maka bangun tersebut tetap bernama jajaran genjang (parallelogram).

Notes khusus dan penting untuk diingat : 
- Kemampuan anak dalam mencerna, memahami dan belajar sesuatu melalui pola mengulang, membedakan, menyamakan dan mengelompokkan akan terus berkembang alias tidak akan stuck atau berhenti. Percayalah kemampuan berpikir mereka akan terus meningkat sampai pada titik paham, seiring bertambah usia dan stimulasi mereka
- Mengapa sampai se-detil ini tahapannya? Terkesan banyak menunjukkan pengulangan bangun geometri sehingga terasa boring bagi orang dewasa yang mengamati padahal anak mungkin bisa saja cepat paham walau tanpa adanya pengulangan bentuk di setiap level kotak konstruksi. 
Karena : mohon digaris bawahi bahwa setiap cara kerja alat edukasi di metoda montessori ini dibuat pada awalnya adalah untuk anak yang mempunyai hambatan belajar sehingga dibutuhkan tahapan yang seperti ini. Namun secara fitrahnya, semua individu baik yang punya atau tidak punya hambatan belajar, tetap butuh pengulangan untuk menguasai sesuatu, hanya saja berbeda di kecepatan waktu untuk memahami.
- Jikalau pun ada yang berminat membuat material yang terinspirasi seperti kotak konstruksi segitiga-nya Montessori ini lalu dibuat dengan warna, bentuk, isi dan jumlah ragam bangun yang berbeda dari alat montessori originalnya (misal menyederhanakan jumlah belah ketupat di kotak level 2 menjadi hanya 1 saja dll), silakan.. tidak ada yang melarang dan sah-sah saja. Selama semua alat ini dipakai tanpa mengurangi esensi dalam proses pembelajaran yang respectful the child dan diyakini tetap dapat membantu mengantarkan anak pada pemahaman materi belajarnya.


Inti dan esensi yang saya dapatkan di kegiatan konstruksi segitiga dan ada pengulangan bentuk belah ketupat ini (ini pendapat pribadi berdasarkan pengetahuan tumbuh kembang, psikologis, konsep pengajaran, pengalaman dan data pengamatan saya) adalah :
- adanya ragam warna dan bentuk serta beberapa pengulangan bentuk bangun yang sama dalam kotak konstruksi segitiga ini akan membuat kegiatan ini lebih menarik untuk anak, baik secara visual maupun motoriknya yang memang sedang aktif bergerak 
- anak secara fitrahnya senang kegiatan yang mengulang-mengulang
- anak butuh pengulangan untuk paham, untuk mastering, untuk menguatkan keyakinan, untuk pembuktian serta menyimpulkan hasil pengamatan dari pengulangannya.
(montessori banyak menggiring anak ke arah mental scientist : kegiatan berulang akan membuat anak lebih aware dan mengamati lebih sering, sehingga timbul pertanyaan rasa ingin tahu atau bahkan bisa sampai menemukan sendiri jawaban kenapanya - ini bonus besar. Hal ini juga akan mengajak anak dan fasilitator menuju ke riset yang lebih mendalam)


Pengetahuan tambahan :
Di kotak level 2 yang sedang anak kerjakan ditemukan 4 belah ketupat, artinya anak akan tahu bahwa :
** Ada 3 belah ketupat bisa dibangun dari 2 buah segitiga sama kaki yang ketika digabung, garis hitamnya menunjukkan bagian simetris kiri kanan karena akan terlihat garis vertikal hitam yang tampak membelah kedua segitiga sama kaki di kiri dan kanan yang sama besar. 


** Ada 1 belah ketupat yang juga bisa dibangun dari 2 buah segitiga sama sisi yang ketika digabung, garis hitamnya menunjukkan bagian simetris atas bawah karena akan terlihat garis horizontal hitam yang tampak membelah kedua segitiga sama sisi di atas dan bawah yang sama besar. 












Melalui kedua tampilan konkrit belah ketupat di atas, anak akan paham karakteristik, sifat utama dan ciri khas sebuah belah ketupat dari hasil pengulangan pengamatan visual dan gerakannya.
Apa sajakah itu? 
- Memiliki 4 buah sisi yang sama panjang dan sejajar
- Memiliki 2 pasang sudut yang berhadapan dan sama besar
- Memiliki 2 diagonal yang saling berpotongan tegak lurus. Satu diagonal membagi diagonal lain sama panjang
- Memiliki 2 simetri lipat dan 2 simetri putar 
Silakan saja ajak anaknya diskusi, tapi mohon tanpa ekspektasi akan keluar kalimat ilmiah dari mulut sang anak usia dini ya.. Saya percaya, anak bisa menjabarkannya dengan kata dan kalimatnya sendiri dari hasil 'riset'nya selama ini. Bisa jelaskan secara sederhana apa yang dia lihat saja sudah hebat, tinggal kita bantu saja untuk mengarahkan ke kesimpulan karakteristik bangun geometrinya.

Sebagai cross check antara teori dan kesimpulan pengamatan anak melalui media konkrit yang didapatkan dari kotak konstruksi tentang sifat dan ciri khas bangun belah ketupat ini silakan klik link berikut https://rumuspintar.com/belah-ketupat/

Setelah cek link tadi, bayangkan.. dulu kita belajar tentang karakteristik setiap bangun geometri hanya lewat gambar abstrak dan tekstual teori narasi yang dihafal, mengandalkan bayangan tanpa ada data atau media konkrit untuk membuktikan apakah teori yang diajarkan itu benar atau tidak. 

Ah sudahlah.. 😊



Why The Short Beads Stair is Colorful?

(Seri rangkaian Q and A seputar Metoda Montessori)


Do you have any thoughts about why the (beads) color's different today? 

Dr. Philip Snow Gang said : "Well.. No.. I think this is much prettier in the all colors."








His answer is quick and simple in his presentation.

Hmm.. Kadang gak semua warna di material montessori harus ada alasan kenapanya. Kalaupun ada mungkin itu udah dikembangkan para penerusnya. 




Jawabannya bisa sesederhana ini aja : to make the materials beautiful, pretty and people will love & exciting to see and use it. Or just to make people aware of the material's identity.

Lalu siapakah Dr. Philip Snow Gang ini? 

Dr. Philip had a close relationship with Montessori family. 

When he research about Montessori he had several her hand written manuals (album). 


Philip had another 'treasure' : some pre World War II montessori material. He said : "It's a set of beads, it's quite interesting cause it has different colors but they're gorgeous beads."

For Dr. Philip, Bringing Montessori Back to Montessori means : We came from nature and will be back to the nature.

We have to unlock the children from nature. It's a primary things. Love of nature is love of yourself.

You can not love yourself without love nature. 

Mengembalikan fitrah anak-anak ke alam adalah kebutuhan utama mereka, sejak dulu Maria Montessori menerapkannya (tampak dalam foto-foto sejarahnya).

Thank you very much for the powerful presentation, Dr. Philip 🥰 

So many lovely insight from a wise man.

 


#rumahmontessori

#onlinecourse #montessoricourse #keeplearning

#wisdomjourney

 











Rabu, 01 April 2020

Oh NO! Kelas Montessori-ku Amburadul! Help Me..



Pernah punya pengalaman pegang  kelas atau berada di kelas montessori yang hampir seluruh siswanya tidak bekerja dengan alat montessori?

Jawaban kami : pernah.

Karena merasa RumahMontessori adalah sekolahnya manusia, maka kami tidak selalu mulus menerapkan metoda dan melaksanakan segala rencana pembelajaran se-rapi dan se-sempurna sebuah pabrik.


Sering kami menemukan masa di mana anak-anak kebanyakan maunya main bareng teman-temannya terus. Maunya ada di area pojok sambil ngamatin kelas. Maunya alat montessori dikerjain seenak udel-nya ajah. Maunya selalu dibacain buku cerita lalu lanjut ambil kertas buat gambar-gambar. Maunya selalu role play bikin drama bertema 'mama-papa-anak' tiap hari dan gak ketinggalan alat montessori jadi property drama mereka.. 
Duh kebayang amburadul sekali ya.. (terutama bagi yang berjiwa perfecto.. hehe..)

Kalau ada drone atau CCTV infrared terpasang di langit-langit kelas, mungkin bisa kelihatan tanduk-tanduk emosi tumbuh subur di kepala para guru, plus bonus keluar asap deh dari ubun-ubun saking nahan beban emosi dan ekspektasi.. Hahaha.. Terima aja.. Gak usah denial.. Hihihi..

Saat montessori time, semua juga pasti pinginnya kelas selalu tertib, anak-anak mengerjakan peralatan montessori sesuai aturan dan tanpa cela. Sesuai harapan.

Jangan terlau percaya apa yang diposting di medsos, yang pastinya udah lolos audisi seleksi video atau foto terbaik dong.. karena memang tujuannya agar pemirsa terinspirasi hal baik dan positif dari kita. Hehehe..

See.. You're not alone! Toss dulu.. 



Catatan yang dibagikan kali ini adalah pengalaman perjalanan tim RumahMontessori dalam menghadapi dan melalui masa-masa ‘amburadul’ ini. Yang pada suatu masa kami sadar, lalu menyimpulkan : ini bukan kelas amburadul. Lho kok bisa? Baca aja sampai tuntas ya J

Semuanya merupakan hasil observasi kami selama mendapatkan kelas dengan siswa yang isinya mayoritas berusia satu level walau kami menerapkan kelas lintas usia (usia campur 2,5 - 6 tahun dalam satu kelas). 

Kami tidak mengklaim sudah menang dan mampu melalui masa-masa ‘amburadul’ itu, karena pada kenyataannya kami selalu mendapatkan pembelajaran baru setiap harinya. Kadang setelah mampu handling pun, selalu ada kasus baru yang lebih hebat dan membuat kami harus kalah sejenak lalu berstrategi kembali untuk berjuang maju lagi.  

Sebagai manusia biasa, ego dan emosi kami juga dibuat naik turun. Walau sudah punya basic menjadi pribadi yang tenang tapi jujur aja kami tetap merasa butuh penguatan dan ketenangan jiwa untuk memastikan bahwa kami bisa tetap waras dan bermental sehat saat membersamai anak di lapangan. Itu yang membuat kami terus berupaya belajar, menggali pengetahuan, serta mencari info tips and tricks lebih banyak. 
Perlahan kami berproses, mulai dari mengamati, mencari tahu ilmunya, mengumpulkan data, meminimalisir penilaian (judging), menahan diri untuk tidak menyalahkan sana sini, menerima rasa gundah dan kecewa kami sendiri sampai pada akhirnya kami menerima (memaklumi) situasi yang ada di hadapan kami. Lalu bertahap semakin membaik dan membuat kami semakin yakin saat menjalankan tindakan solutif untuk menanganinya.

Silakan petik manfaat dan hal baik nya saja ya..

Adalah pemandangan yang biasa ketika awal bergabung di sekolahan dengan usia sekira 2,5-3 tahunan biasanya anak-anak masih rajin mengerjakan peralatan montessori dengan penuh antusias, bahkan sesuai instruksi. Beberapa ada yang mengerjakannya berulang kali seperti layaknya kegiatan favorit. Kelas tertib. Karena sesuai ekspektasi, guru rileks dan damai. 

Pada saat anak-anak ini sampai di usia 4-5 tahun dan pertemanan sekelas sudah terjalin semakin lekat hingga bisa jadi salah satu alasan semangat ke sekolah. Simpel aja sih, mereka ingin ketemu untuk bermain seru-seruan bersama. Belum tentu juga tanpa konflik. Tapi mereka menikmatinya.
Ide baru makin banyak nyantol di kepalanya, lalu diungkap dan dieksekusi. Latihan untuk terampil bernegosiasi, bertoleransi, saling memahami dan memaafkan, tarik ulur mendekat dan menjauhi  teman yang sedang bermasalahpun makin intensif dilakukan. Ego untuk melakukan sesuatu sa'karepe dewek (seenaknya sendiri) yang makin menjadi pun harus banyak dikelola dan ditahan dengan banyak dibenturkan pada realita bahwa ruang sosial punya aturan yang harus disepakati demi kebaikan bersama.

Dan ada satu hal yang biasanya paling bikin stress dan gemesh para fasilitator yaitu : peralatan montessori di rak mendadak jadi tidak laku dipakai.. Kalaupun dipakai, kebanyakan dikerjakan berdasar ide out of the box mereka. Tampak ngelantur dari kaidah teoritikal metodanya, tapi basic rules tanggung jawab membereskan dan tidak merusak alat biasanya masih aman. Mendadak mereka enggan menyentuh dan seperti tidak punya alat montessori favorit saat itu. Kalaupun masih punya, paling cuma dikerjakan sebagai formalitas, karena merasa kegiatan itu hanyalah pengulangan.

Mendadak pula guru di lapangan harus setting kadar ketegasan lebih tinggi dari sebelumnya. Ya, karena anak-anak usia 4-5 tahun ini sudah paham bagaimana triknya mengelak dari instruksi atau men-skip aturan dengan sejuta alasan karena kemampuan bahasa dan logikanya meningkat pesat. Semakin jagoan dalam mendapatkan sesuatu yang dimau. Sekaligus sebagai sinyal bahwa anak-anak usia ini sebetulnya sedang butuh lebih banyak berlatih tahu tentang sebab akibat terutama dalam norma sosial. Jadi memang sudah sewajarnya dan sudah saatnya anak-anak yang mulai paham banyak hal ini harus digiring (diarahkan) lebih tegas dan jelas pada hal-hal yang benar di kehidupan nyata. 

Maka adalah wajar jika di setiap kelas pelatihan kami, selalu banyak terungkap dari para guru kelompok usia 4-5 tahun atau setingkat TK A yang curhat karena gemes pingin banget jadi guru galak saat menghadapi bubar jalannya sistem kegiatan montessori di level ini. Dunia montessori time tak lagi damai seperti teorinya, kata mereka.. Hehehe.. Jangan stress ah.. Kalian tidak sendirian mengalaminya. Ini tantangan keren buat para fasilitatornya.

Anak-anak ini gak bersalah.. Emang fase nya aja lagi butuh banyak belajar di banyak aspek.

Untuk memahami perkembangan anak-anak usia 4-5 tahun lengkap dengan tips parentingnya silakan mampir di link berikut : https://raisingchildren.net.au/preschoolers/development/development-tracker/4-5-years 


Karena untuk menangani masalah ini dengan bijak dan tetap waras, salah satunya adalah mampu mendeskripsikan, paham dan memang terlibat langsung dengan peristiwa atau pengalaman milestone mereka.

Lalu karakter yang bagaimana sajakah yang perlu diketahui agar bisa mengukur diri tingkat mindfulness kita masing-masing? Alias supaya bisa berupaya tetap bijak dan keep calm sebelum mengambil tindakan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi? 

Silakan lihat foto di bawah ini ya.. Mudah-mudahan terbantu.




Kalau upaya untuk tetep mindful tersebut sudah diupayalakukan, seharusnya sih tindakan solusinya efektif, tepat sasaran dan yang terpenting adalah mampu menenangkan jiwa. Karena memang tujuan mindfulness ini lebih condong kesana. Jika gurunya sehat mental maka anak-anak pun akan sama, semua pihak akan terimbas. 

Yes, we can say it's hard but it doesn't mean impossible :) 
Happy terus semuanya yaa.. 
Semoga kita semua selalu diberi sehat dan selamat

#edisikangen anak-anak RumahMontessori

 

Rabu, 21 November 2018

Ketika Mempersiapkan dan Menentukan Usia Kematangan Anak Masuk SD Bak Menentukan Kesiapan Sebuah Pernikahan

Sebuah tulisan penuh cinta kasih untuk para orang tua yang saya sayangi.. Tulisan ini dibuat berdasar hasil pengamatan dari pengalaman saya selama hampir 20 tahun di dunia PAUD dan pengalaman nyata sebagai ibu dari 3 anak yang saat masuk SD nya berbeda usia (ada yang terlalu cepat, mateng banget, mateng tanggung.. hehehe..). Plus berdasar pula beberapa teori dari para ahli psikolog tentang usia perkembangan anak dan beragam sumber tulisan parenting. Teori memang tidak selalu seindah praktek di lapangannya. Tapi untuk kasus kali ini, ternyata pengalaman saya menunjukkan bahwa teori-teori tersebut saya akui hampir 95% benar semua adanya.


Tulisan ini mungkin juga akan lebih pas untuk para orang tua yang mengincar dan berencana memilih SD yang berkurikulum nasional dan bermetoda konvensional (belajar klasikal, bermurid banyak dengan guru terbatas dan fasilitas pelayanan belajar yang non individual).


Tulisan ini juga dibuat untuk memaparkan alasan yang sejelas-jelasnya tentang mengapa Rumah Montessori selalu konsisten menjawab usia 7 tahun saat masuk SD bagi yang bertanya usia berapa anak matang dan siap masuk SD. Dengan catatan : SD yang ditujunya yang bersistem klasikal konvensional bermurid massal lho ya.. Opini kami bisa berubah menyesuaikan keberadaan kondisi dan usia anak serta sekolah dasar yang dituju bukanlah sekolah dasar bersistem konvensional klasikal.


Kami hampir gak nyentuh bicara tentang kemampuan calistung anak karena itu bukan tiket paling penting bagi kami untuk seorang anak yang masuk SD konvensional. Selain sekolah-sekolah sekarang cukup banyak yang gak pake tes calistung dan mereka akan menerima tanpa ba bi bu saat anak sudah berusia 7 tahun saat masuk SD, juga karena sekolah-sekolah dasar itu pun (sekolah yang baik dan support tentunya) akan siap membantu anak belajar calistung dari tingkat dasar sekalipun. Bagi kami, Rumah Montessori : tiket dan modal yang paling penting untuk bisa masuk ke SD bukan hanya di hi-lite di kemampuannya yang sekedar sudah bisa ngomong dan berdiskusi banyak, duduk anteng, ngerti instruksi dan kecerdasan akademik lainnya. Itu semua penting, tapi hal terpenting yang masih sering dilewat itu adalah bekal modal memastikan sudah terbentuknya ‘mental health’ yang akan membuat anak tidak terpapar mental hectic saat usia sekolah nanti.


Mari kita mulai bercerita ya..


Dear orang tua siswa Rumah Montessori yang kusayang.. 
(orangtua laen boleh juga kok ikut baca.. hehe)


Bulan ini, tepatnya mungkin mulai bulan Oktober an lah ya.. disebut bulan galau sejagat mama (bukan maya ya.. hehe) yang buah hatinya mulai jelang masuk usia nanggung untuk masuk SD atau tidak di setiap tahunnya. Galau itu juga kumat kala banyak berseliweran spanduk open house beserta promo penerimaan siswa baru di SD-SD terdekat. Saat sudah mulai datang berondongan pertanyaan dari sekeliling terutama keluarga dekat yang mempertanyakan atau lebih ngenes lagi ‘judging’ dengan statement : “Eh.. tahun depan adik masuk SD kan ..?” Euleuh.. baru aja 2-3 bulan masuk sekolah tahun ajaran baru.. baruu aja bayar-bayar..  mamak nya sendiri aja belom sempet mikirin karena baru rehat dari keriweuhan back to school nya si anak, ini udah ditodong lagi haha.. ampuuunn..

Santeiii.. Gak apa-apa atuh ih.. itu namanya ‘care’.. perhatian tanda sayang ya Bu.. Pak.. Kuncinya tetep ada di kita, tetap tenang karena itu hanya sebuah colekan lembut pengingat, bukan api penyulut kebakaran. Jangan disalahartikan ya.. Kalau sudah ada yang mengingatkan, step berikutnya adalah tetap tenang supaya keputusan yang diambil tetap objektif dan berdampak baik ke depannya untuk buah hati kita. Bukan baik hanya untuk kita lho ya.. bukan hanya untuk sekedar menyenangkan si penanya.. bukan hanya sekedar menjadikan lebih cepat masuk SD lebih baik dan keren plus dapet julukan si pintar.. bukan hanya karena nyamain dengan kakaknya yang kemaren masuk SD di usia muda gak ada masalah (it’s exactly different! Historis mereka berbeda walau lahir dari satu rahim yang sama sekalipun).. please don’t do that.

Tolong yang dipikirin adalah dampak 10-15 tahun kemudian pada anak terhadap mentalitas nya dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan rutinitas dengan tugas nya sebagai pelajar. Kita, para orang tua  adalah support system yang harus beneran membekali dan mendukung dengan segala fasilitas yang terbaik.



Bentar.. bentar.. Bu, itu judulnya gak salah? Perasaan gak nyambung.. jauh teuing deh kayaknya.. haha..



Enggak laa.. dua-duanya sama-sama ada dalam fase kehidupan manusia (walau tidak semua ya..) dua-duanya juga suka dikampanyekan pemerintah dalam hal usia kesiapan. Masuk SD 7 tahun dan masuk KUA 25-27 tahun. Tapi beneran mirip deh case nya. Benang merahnya : tentang komitmen dan bagaimana supaya bisa mempertahankannya dengan baik.

Yang satu berkomitmen dengan sebuah sekolah yang bakal ‘mengikat’ kita sebagai orang tua dengan pihak sekolah dasar dan dengan segala SOP, tuntutan dan kewajiban di dalamnya. Dibutuhkan individu-individu tangguh bermental baja, bukan sekedar pandai calistung dan akademik lainnya walau itupun termasuk factor yang penting. Karena bukan hanya sekedar anak bisa menguasai pelajaran saja yang akan anak hadapi di sekolah dasar nanti. Tapi akan bermunculan silih berganti masalah-masalah anak usia sekolah 7-9 tahun seperti dikutip dari buku Parents Guide Growing Up 7 – 9 tahun :

-          KEBOSANAN PADA RUTINITAS

Orang dewasa aja sering bosan jalani rutinitas, sama ya anak juga. Ini gak akan lama terjadi saat anak sudah memiliki kematangan karena mereka punya cukup kesadaran bahwa ini tugasnya dan dia akan berupaya menciptakan kondisinya sendiri agar bisa melewatkan kebosanannya. Kalau anak yang belum matang, mereka belum terampil bangun sendiri kendali bosannya karena masih ingin main dan belum sadar tugasnya. Bukan nakal, hanya belum menyadari penuh. Nah jadilah upaya orangtua disini agak berat karena kita juga dituntut tekanan sistem sekolah sedangkan anaknya masih berlatih untuk bisa kooperatif. Lama-lama semakin terus dipaksa anak pun akan semakin malas dan menolak. Sudah mah bosan karena belum tertarik untuk diajari, ditambah pakai acara dipaksa sekolah. Bisa berujung mogok sekolah berkelanjutan dan biasanya orangtua suka berbagi stress ke anak dengan membawa seruan : sudah bayar mahal-mahal kamu gak mau sekolah, itu keterlaluan! Hahaha.. bener apa nggaakk..

-          MOOD SWING (mood belajar on off karena ketidaknyamanan ataupun ketidakseruan sistem pengajaran maupun gurunya) dan histori keterlambatan perkembangan sebelumnya.

-          HAMBATAN PEMAHAMAN : belajar itu susah banget sih!

Karena di bawah usia 7 tahunan belum seutuhnya siap diajari.. belum teachable. Dunia bermainnya masih on.

-          GANGGUAN PERTEMANAN (bullying)

-          MENGKHAWATIRKAN PENAMPILAN FISIK DAN PEER PRESSURE (TEKANAN DARI TEMAN SEBAYA)

Akan ada masalah cukup serius saat di sekolah dasar, dikarenakan masih tersisanya sifat egosentris saat anak terlalu muda masuk ke SD. Ditambah lagi jika saat masa-masa prasekolahnya merasa kurang diterimakan kehadirannya secara apa adanya. Di SD anak akan bertemu teman-teman baru berlatar belakang, berpola pengasuhan dan berasal dari lembaga didik yang lebih beragam dan anak harus dapat segera beradaptasi. Tapi, anak harus dilatih juga untuk berupaya menjadi individu yang mempunyai pendirian pada hal-hal yang baik.

Walau seringkali di cover dengan baik oleh orangtua di rumah, tapi apakah lantas langsung aman di luar sana dari ocehan para manusia spontan? Itu sudah pasti terlanjur duluan masuk ke hati sebelum kita filter.. karena kita gak 24 jam bisa jadi pengawal pribadi buah hati kita.. jiwa  yang harus sudah siap menapaki : menyadari inilah hidup yang sejujurnya..

-          BAPER-AN, EMOSIONAL

Melatih kendali emosi akan perlu waktu lebih lama saat di usia sebelumnya pernah ada riwayat speech delay atau keterlambatan perkembangan lainnya. Ketidakmatangan dalam emosi akan menghambat anak dalam interaksi sosialnya, karena sulit dipahami dan tidak mau memahami.

-          MENGHADAPI PERSAINGAN, NILAI DAN KENAIKAN KELAS

-          BERTEMU KEGAGALAN DAN PENCAPAIAN PRESTASI

Banyak ya masalah anak kita di luar akademiknya? Dan dalam menjalani masalah-masalah di atas, banyak juga yang mengeluh bahwa tingkat stress nya berpindah ke fisik : sakit perut, mual dan pusing-pusing yang berujung gak mau sekolah. *duh ikut mules gak tuh orangtua..



Mirip kan sama persiapan jelang pernikahan.. hehe.. Kalau di sini, individunya gak cukup hanya punya saling cinta terhadap pasangan, walau itu juga bahan dasar yang penting.. Ibarat masuk SD gak cuma bisa calistung lah ya, walau mampu calistung juga perlu.. Pernikahan yang dipersiapkan dengan pembekalan dan modal yang matang dan baik, kemungkinan ikatan pernikahan bisa langgeng-nya lebih lama. Pastinya sudah harus berbicara tentang persiapan kematangan di mental, keimanan, visi misi, pemahaman tugas masing-masing, financial, emosi dan jiwa. Ukuran kematangan seseorang untuk semua aspek ini ditentukan pula salah satunya oleh usia. Semakin matang, biasanya berbanding lurus dengan segala kesiapan jiwa dan mentalnya untuk mengarungi bahtera pernikahan yang komitmen nya lebih serem di sini : bukan sekadar 6 tahun seperti sekolah dasar tapi seumur hidup ya Buuu.. Paak.. hehe.. Naah.. semoga sekarang paham ya nyambungnya ke mana si judul tulisan ini teh..

Bagi yang udah ngejalanin pernikahan yang usianya udah hitungan tahunan, pasti ngerti deh dimana kita sebagai makhluk dewasa matang ini akan menggunakan modal-modal kesiapan/kematangan psikologis kita demi mempertahankan apa yang kadung sudah jadi komitmen kita bersama pasangan.. Seru kan ya? Hehehe.. Kalau gak sabar-sabar amat mah udah mundur.. Kalau gak inget ibadah mah udah bubar jalan.. Kalau ego sudah jauh lebih besar memanggil dan gak ada rem kedewasaan berpikir mah udah putus nyambung putus nyambung puluhan kali.. Kalau cinta ada tapi mental belum siap karena dulu kecepetan nikah di usia muda yang masih rentan-labil-pendek mikir, ngaruhnya bisa ke susah bangun lagi ketika jatuh terpuruk karena perkataan, laku dan apapun itu dari pasangan maupun sekeliling kita. Karena sebagai makhluk dewasa, kita udah dituntut harus siap ngadepin apa-apa sendiri, nelen sendiri, nyelesein sendiri, berubah dan bangun sendiri.. yang laen cuma bisa bantu ngoceh, kepo sama doa doang..



Hampir sama lah yaa sama kebutuhan kematangan anak yang mau jalanin SD di atas.. hehe.. Cuma enaknya, anak SD masih ada support system yaitu orang tuanya. 
Jadi, orang tuanya juga harus ikutan matang jiwa di sini :
- Gak emosian, gak stress-an
- Tenang dan lebih fokus mikir solusi saat ngadepin masalah-masalah anak sekolah yang tersebut di atas daripada memberondong anak dengan labeling negatif yang malah bikin anak merasa semakin buruk
- Pantang menyerah mencari dan  mencoba trik yang smart dalam menghadapi beribu alasan dan ulah
- Punya semangat dan kepercayaan pada kemampuan diri yang jauh lebih besar dari si anak itu sendiri
- Sabar, gak gampang kesulut omongan sana sini tentang anak 
- Selalu punya kasih yang tak habis 
- Terampil bikin happy anak 
Itu beberapa persyaratan khusus bagi sang support system : para orang tua.. 
Sedikit berbagi, saya punya 3 anak.. kebayang energi dan porsi stressful nya berbeda-beda, sedangkan sebagai orangtua harus lebih kuat dan tenang di lapangan. Intinya jangan sampai jatuh sakit baik fisik maupun mental.

Caranya?

Redakan tingkat stress kita dengan membuat kondisi dimana permasalahan anak-anak kita di sekolah tidak akan menghasilkan stress tambahan. Inget yo Mam, urusan dan masalah pemicu stress kita bukan hanya dari anak-anak.. hehe.. masih banyak yang lain! Agak longgar rasanya hidup ini, ketika memiliki anak yang sudah matang dan cukup usia untuk siap belajar di SD.

Kenapa?

Calistung bisa dikejar, tapi jujur aja sejauh pengalaman saya menunjukkan bahwa pada usia-usia di atas 6 tahun 7 bulan, anak biasanya sudah menguasai yang dasar. Ini penting, sehingga mereka akan merasa lebih percaya diri ketika mengikuti semua materi pelajaran sekolah yang mungkin sudah tidak akan didampingi secara individual seperti di Rumah Montessori karena tipikal sekolah yang anak masuki yang bersistem klasikal konvensional, sudah riweuh dengan urusan kurikulum dan target sekolah, bukan perkembangan anak yang lebih penting. Ini merugikan potensi anak-anak kita. Yang sebetulnya ada dan bagus tapi gak bisa kegali hanya karena gak kepegang, akibat kebanyakan anak dan urusan lain.

Lalu apa lagi?

Timbulnya masalah-masalah yang kerap terjadi pada anak usia sekolah 7-9 tahun yang sudah diurai di atas tadi lebih mudah dihadapi dan cepat diselesaikan, karena anak sudah mempunyai modal mental dasar yang cukup untuk ‘bangun sendiri’ atau cukup kuat dengan sendirinya dalam rangka menjalani komitmen belajarnya di sekolah dasar nanti.

Apa sajakah modal mental itu ?

Motivasi internal nya sudah nyala banyak sehingga lebih peka dan sadar pada posisi dan tugas hidup untuk anak seusianya adalah belajar, seperti : sudah gak banyak lagi butuh main mainan, (seharusnya) sudah terpenuhi banyak kebutuhan bergeraknya, jiwanya sudah masuk lebih banyak ke tahap sadar, sudah mau dan siap untuk diajari (teachable), sudah mengerti perasaan ‘malu’ dan sudah banyak mengenal dan mulai berlatih mengendali diri dan emosi yang nantinya penting saat anak berinteraksi bersosialisasi.

Mungkin ada yang ingat, siapa dulu di antara kita alesan gak mau atau males masuk sekolah hanya karena lagi sebel sama temen dan lagi gak mau ketemuan sama dia gara-gara sempet dikatai hal yang tak enak.. hehe.. lalu, kemampuan calistung kah yang bisa menyelesaikan masalah jenis itu?

Pertanyaan lainnya : coba kita analisa, apakah semua masalah di luar akademik tadi bisa diatasi anak lewat kehandalannya dalam calistung? Bisakah baper-an nya dihentikan dengan sekadar anak sudah jagoan berdiskusi tentang banyak hal pengetahuan umum? Bisakah bullying dihadapi hanya dengan modal anak yang sudah bisa jawab soal matematika tingkat tinggi?

Mau sepintar apapun, se-gifted apapun anak, jika mentally, emosi sosial dan kejiwaannya tidak berimbang dengan intelektualitas, individu tersebut tak akan mampu mencapai goal menjadi manusia yang bermanfaat. Kepintarannya hanya akan dipeluk sendirian, yang tahu dia pintar cuma dia, orang lain gak bisa mengerti dia karena emosian, gak tenggang rasa, menutup diri gak mau bergaul, nyiptain apa-apa sendiri, egois dll. Lalu buat apa pinternya? Bukankah ilmu itu untuk diamalkan? Bukankah tugas manusia di muka bumi ini adalah menjadi makhluk yang bermanfaat baik bagi sesama maupun semua makhluk ciptaanNya?



Selain itu anak yang SD nya berusia mulai 6,5 tahun ke atas juga sudah kenyang main dan bergerak dalam melakukan segala kegiatannya karena kebutuhan sensori motoriknya ikut terpenuhi disini. Catatan penting : tolong garis bawahi juga darimana asal KB-TK anak berasal. Kabar baiknya, Rumah Montessori mudah-mudahan mengakomodir kebutuhan itu semua. Dari mulai sistem pembelajarannya sampai ke masalah : hati anak harus happy alias bahagia pada zamannya (masa kecilnya yang gak bakalan balik), kebebasan bergerak saat menjelajah belajar dan bekerja, merasa dihargai dan diakui keberadaannya karena pilihan dan pendapatnya selalu disimak, difasilitasi dan diarahkan bukan dipaksakan, pembentukan karakter perilaku dan tata krama yang tersupervisi karena fungsi fasilitator yang lebih banyak mengamati dan mengarahkan dibanding riweuh ngajarin dan ngebetul-betulin hasil kerjaan murid (karena kami yakin anak bisa berlatih belajar, mengkoreksi diri dan melakukan aktifitas-aktifitas tertentu secara mandiri).

Ketika anak bermain, belajar, bekerja, dan bertumbuh kembang bersama kami di Rumah Montessori, ingin kami pastikan bahwa anak mempunyai kesan dan penilaian terhadap kegiatan belajar dan bekerja itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan tanpa tekanan berat karena mereka sendiri yang ukur semua itu. Ini kunci penting yang akan dibawa di usia-usianya sebelum mengenal sekolah formal. 
Mereka tidak akan kaget, mereka hanya akan beradaptasi perlahan, mindset mereka sudah di block : bahwa belajar itu menyenangkan jadi ketika di sekolah dasar, perasaan itulah yang akan terbawa dan selalu ada di kepala mereka. Kalau sudah happy, otak akan menjadi rileks.. nerima materi apa aja akan lebih mudah terserap masuk.

Sebagai contoh kontroversial yang real : salah satu anak saya menjalani aktivitas KB-TK yang sangat sarat akademik (dari mulai usia 3 tahun nya) serta masuk SD cepat alias terlalu muda, tak membantu banyak ketika dia di SD dan akhirnya harus bertemu sapa dengan semua permasalahan anak usia sekolah dasar di atas tadi. Luar biasa perlu waktu panjang dan cukup rumit untuk dibenahi kembali. Kebutuhan bermain yang belum kenyang disertai dengan kebosanan dan keengganan berpikir focus karena dari mulai 3 tahun, sudah itu-itu terus makanan hariannya : akademik. Padahal soal kecerdasan tidak menjadi masalah. Orangtua stress, anak stress, mungkin juga gurunya ikut stress sebetulnya.. hahaha.. sekarang mah anaknya sudah tenang sentausa dan jiwanya mulai menapak sadar pada tugasnya sabagai pelajar di usianya. Ini yang paling penting. Memiliki otak yang pintar tak akan ada manfaat selama dia belum matang tentang memahami kebutuhan dia belajar itu untuk apa. Tak ada semangat dari dalam diri untuk mencari tahu, tapi hanya demi suruhan orang lain yang tidak banyak berkepentingan pada kehidupannya kelak.



Please do your best decision. Ini semua tentang masa depan putra-putri para orangtua yang saya sayangi. Semua ini bukan hanya untuk jangka pendek, dampaknya akan memanjang sampai belasan tahun kemudian. Kami hanya menyampaikan apa yang wajib disampaikan dari hati tulus kami yang terdalam, bahwa visi misi kami sudah jelas yaitu dalam mengupayakan membentuk individu yang bahagia, tangguh, santun dan cerdas. Kewajiban kami juga untuk mengedukasi para orangtua dan masyarakat melalui jawaban yang kami upayakan sejelas dan sedetil mungkin agar bisa dipahami.



Pada akhirnya..

You are free to choose but you are not free from the consequence. Pilihan ada di tangan masing-masing para orangtua. Bebas pilih mau yang mana.. mau cepet-cepet SD boleh.. mau mateng boleh.. mau nanggung juga boleh.. Semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing, silakan untuk bersiap menjalaninya.



Begitulah, para orangtua murid Rumah Montessori ku yang tersayang..

Sekali lagi tidak ada tendensius dari kami tim Rumah Montessori atau maksain putra-putrinya untuk masuk usia SD sesuai dengan opini dan paparan kami di atas ya..

Kami hanya ingin mencerahkan dan membantu memudahkan kalian semua dalam berperan sebagai orangtua supaya siap, matang juga tenang dalam mendampingi anak dengan minim stress agar kehidupan kita tetap berjalan penuh kebermanfaatan, sehat, bahagia dan tetap positif. Mudah-mudahan, kelak putra-putri kitapun bisa menjadi manusia seperti itu adanya.

Life should be balance.. Makin bertambahnya usia kita, masalah makin banyak datang tanpa diundang. Mudah-mudahan kita bisa mengatur untuk sedikit rileks dan mengurangi tumpukan masalah, salah satunya mungkin dengan mendampingi anak yang minim stress saat usia sekolah mereka agar tetap tersedia ruang gerak bagi masalah penting lainnya untuk bisa kita tangani dengan baik pula.



Ayolah.. Jangan lupa bahagia ya.. 

Remember please, life is good.. please be in it..  
by : Ivy Maya Savitri