Selasa, 09 Oktober 2012

Rumah Montessori = Pelatihan Metoda Montessori Bohongan?

Sebenarnya isi dari cerita yang  mau disampaikan melalui judul di atas ini masih ada hubungannya dengan alm. Bapak Imam dari Lampung. Saat kami berkumpul dan berbincang di teras depan Rumah Montessori di hari terakhir beliau mengikuti pelatihan, beliau menyampaikan kepada saya pertanyaan-pertanyaan ‘miring’ yang sempat diutarakan kepadanya saat beliau memutuskan untuk menimba ilmu tentang Metoda Montessori di Rumah Montessori..

“Serius nih Pak Imam mau ambil pelatihan Montessori? Kan mahal sekali Pak biayanya..”
“Pelatihan dan bahan-bahannya biasanya dalam Bahasa Inggris lho Pak..”
“Sudah dicek dan yakin belum Pak, Rumah Montessori kasih materi-nya asal-asalan atau tidak?”
“Biaya nya murah gitu.. jangan-jangan ‘cuma bohongan’..  Hati-hati ah Pak”
“Alat-alatnya pasti gak lengkap..”    “Pemberi materi-nya gimana?”

Pak Imam hanya merespon semua pernyataan & pertanyaan tadi dengan keyakinan hati sambil berdoa dan berharap : mudah-mudahan RM tidak seperti yang dikhawatirkan orang-orang..

Saya hanya bisa tersenyum.. Rasanya ga penting berkata panjang lebar nyautin pertanyaan-pertanyaan miring seperti itu.. Dan pada dasarnya saya juga yakin, pertanyaan-pertanyaan dan kebimbangan yang sama seperti itu lah yang pasti muncul di benak setiap orang yang baca blog maupun Facebook saya.. hehehe.. :D *hayooo..ngaku ajaa..

Come.. See.. and Proof it !
 
Dan sang Pak Imam pun berkata menyimpulkan :
Ternyata setelah saya ikut di sini (Rumah Montessori).. Tidak ada yang bohong-bohongan dan asal-asalan di sini.. semua materi dan alat lengkap disampaikan dengan sistematis dan jelas sampai ke detilnya. Cara praktek dan tujuan alat, cara penerapan pengajaran pada anak-anak, teori dan arti filosofinya yang begitu dalam.. semua saya dapatkan.. Biaya murah pun bukan bohong-bohongan.. Sangat membantu bagi orang-orang yang kurang paham bahasa asing..

Terima kasih Pak Imam.. memang segala sesuatu itu perlu untuk dicoba dulu.. ternyata setelah terjun langsung dan mencoba, yang ‘miring-miring’ tadi jadi ‘lurus’ yaa.. Alhamdulillah J

Pertemuan Pertama dan Terakhir (2)


Dalam masa-masa duka-nya pun Pak Imam masih terus berharap masih berkesempatan bisa ikut pelatihan Montessori di Rumah Montessori..

Alhamdulillah,  waktunya masih berjodoh. Saya ternyata masih sempat untuk membuat jadwal baru : Program Liburan batch ke-2 Bulan Juli 2012. Ada rasa yang sangat kuat ingin membagikan ilmu ini untuk seseorang yang sangat bersemangat menginginkannya..

Akhirnya pelatihan ini berjalan. Pak Imam, Ibu Ati dan Ibu Citra adalah pesertanya. Pak Imam sampai dari Bandar Lampung pagi hari beberapa jam sebelum pelatihan hari pertama dimulai. Beliau datang bersama kedua putranya – sekalian liburan sekolah.

Beliau sangat bersemangat. Tapi di hari kedua, beliau hanya ikut setengah sesi – hanya sampai jam istirahat makan siang. Beliau izin untuk istirahat karena mendadak pusing. Kelelahan mungkin. Karena menurut ceritanya, beliau sebelum ke BSD juga baru saja memberikan pelatihan di suatu daerah. Benar-benar luar biasa semangatnya..

Esok paginya beliau sudah duduk di teras di RM, dan menulis di beberapa carik kertas nama, no kontak  dan alamat Institusi miliknya.. ternyata untuk dibagikan kepada kami  dan ternyata ini hari terakhir Pak Imam untuk bertemu kami dan bersama-sama belajar dengan kami.

Selang beberapa waktu sebelum kami memulai materi  hari terakhir bagi Pak Imam, kami sempat berkumpul dan berbincang-bincang ringan dan hangat.. Akhirnya beliau harus pulang langsung ke Bandar Lampung dan meneruskan begitu banyak kegiatan yang sudah menanti di sana.

Beberapa minggu kemudian, kiriman SMS dari beliau mulai aktif kembali. Beliau begitu sangat ingin melengkapi dan menyelesaikan materi yang terlewat. Beliau benar-benar setengah memaksa bahwa sebelum bulan puasa tahun 2012 ini ingin bertemu untuk satu hari saja demi berdiskusi materi pelengkapnya. Begitu kuat komitmen beliau untuk menerapkan metoda ini – walau hanya filosofi dan cara me-respect anak saja (belum sampai ke alat-alat Montessori yang lengkap) ..*bentaaarr..hapus air mata yang ngembeng duluu

Saya tunggu kontak dari Pak Imam untuk mengetahui tanggal pasti untuk melanjutkan pelatihan.. Entah mengapa saya pun tidak mengontak dan bertanya duluan ke beliau.. sampai pada akhirnya setelah dua minggu berselang dari SMS beliau yang terakhir, saya mendapat SMS dari no beliau..

Ya Allah.. takdir-mu benar-benar tidak ada yang bisa menolak (sekali lagi saya tulis ini..) sederet kalimat mengejutkan dan menyedihkan terbaca di hp saya : Pak Imam Santoso – bapak yang penuh semangat – bapak yang penuh kebersahajaan ini telah wafat 2 hari setelah setelah SMS terakhir dari beliau untuk saya.. Tertegun saya, sebelum langsung menghubungi istri almarhum..

Innalillaahi..

Selamat jalan Pak Imam.. semoga tenang dalam haribaan-Nya.. Kerja keras dan cita-cita mulia-mu pastilah akan dikenang dan diteruskan..

Ternyata.. Pertemuan pertama kita adalah merupakan pertemuan terakhir.. Terima kasih untuk inspirasinya.. Terima kasih untuk kepercayaan penuh-nya untuk memilih Rumah Montessori sebagai tempat berbagi ilmu.
 
Pak Imam (berbatik merah) semangat mengikuti pelatihan
 
Pak Imam (berjaket coklat) di hari terakhir pelatihan

Senin, 08 Oktober 2012

Pertemuan Pertama dan Terakhir (1)



Wah.. sebenernya banyak banget pengalaman yang ingin saya ceritakan di sini. Banyak cerita yang sudah lumayan basi alias waktu-nya gak up date lagi :D

Tapi baiklah..satu-satu  mumpung saya masih bisa mengingat dan menuangkannya dalam bentuk narasi di blog ini akan saya coba korek lagi dari memori..

PERTEMUAN PERTAMA DAN TERAKHIR (1)

Menjelang liburan sekolah bulan Juni-Juli 2012, Rumah Montessori punya jadwal pelatihan Program Liburan. Ada beberapa peminat program ini yang berasal dari luar Jawa sana. Sengaja mereka memilih di waktu liburan sekolah agar kegiatan mengajar tidak terganggu dan pelatihan dapat dilaksanakan padat-setiap hari.. Iya lah..hemat biaya hidup di tempat orang..

Sudah dari jauh-jauh hari  calon peserta pelatihan ini saling bekontak ria dengan saya.. Saya senang bukan kepalang saat mereka memutuskan untuk jadi ikut pelatihan di Bulan Juni 2012.

Setelah tiba waktunya buat anak-anak untuk libur panjang, saya dan suami mengantar mereka ke Bandung ke rumah nenek-kakeknya dan berencana menghabiskan liburan sekolah mereka di sana. Kami berdua harus kembali pada hari yang sama karena kegiatan masing-masing.

Sehari sebelum ke Bandung, peserta dari TK Imannuel Pontianak Kalimantan Barat terus berkontak ria dengan intens. Ya.. ini kali pertama mereka berkunjung ke BSD.. Alhamdulillah mereka akhirnya sampai dengan selamat di penginapan. Welcome Miss Erny Law and Miss Jeanny !

Peserta dari Semarang dan Bandung juga sama.. Mba Nana dari Semarang sudah men-survey lokasi sehari sebelum pelatihan. Mba Iza dari Bandung, walaupun rencana mensurvey lokasi sehari sebelumnya gagal tapi beliau mempunyai kerabat yang tinggal dekat area BSD dan sudah siap di sana sehari sebelumnya juga.

Satu lagi peserta dari luar kota yang belum pergi menuju BSD, Bapak Imam Santoso dari PAUD Titah Bunda Bandar Lampung (titahbundakarakter.blogspot.com). Larut malam, saat saya dalam perjalanan ke BSD sehabis mengantar anak-anak ke Bandung, Pak Imam intens kontak-kontakan dengan saya. Dari mulai beliau hendak pergi, sampai keputusan mendadak malam itu juga yang mengharuskan beliau untuk membatalkan ikut pelatihan di Rumah Montessori.. Siapa yang ingin.. siapa yang bisa menolak takdir Tuhan.. saat beliau dalam perjalanan ke BSD, kabar duka datang dari kampung halamannya : Ayahanda tercinta telah berpulang. Seketika itu juga, beliau berbalik haluan dan langsung menuju Jawa Timur-rumah duka.. Rasanya begitu cepat saya harus menyesuaikan hati dengan kejadian ini.. Kebayang kan..rencana yang sudah berbulan-bulan, pelatihan yang sangat didambakan.. tapi saat tiba hari yang dinanti, berbarengan dengan suasana duka yang membuat pilu hati..

“Tabah, kuat dan tawakal ya Pak Imam, ayahanda tercinta sudah di tempat yang terbaik”..begitu saya sampaikan ucapan duka untuk beliau lewat SMS.

Selasa, 26 Juni 2012

Bekal untuk hidup, sebuah arti dari lingkungan yang dipersiapkan di Kelas Montessori



Hai..

Tulisan ini saya buat ketika saya sedang m-e-n-u-n-g-g-u..

Menunggu saat-saat kepergian saya ke Bandung.. he he he

Jadi inget kejadian kemarin banget saat saya menunggu sang tukang servis mesin cuci yang bilang di telpon : “perkiraan.. saya akan datang setelah jam makan siang ke sore”..

Hmm.. hi hi saya gak nanya juga ya jam berapa tepatnya.. Padahal kan “setelah jam makan siang ke sore”  itu panjaanngg dan bisa laaammaa.. Itungannya mulai dari jam 1 siang sampai ke jam 6 sore.. ffuih.. Tapi.. saya sangat pengertian (nge-les..) bahwa si tukang servis ini saat mengontak saya, dia masih punya 2 klien lagi yang harus dikunjungi dan dilayani.. Dan itu artinyaa… kita memang gak bisa memprediksi waktu yang diperlukan oleh masing-masing klien. Dari mulai perjalanan menuju ke tempat-tempat klien tersebut sampai ke penanganan keluhan mereka dan parahnya kerusakan alat-alat mereka.. weleeh.. sungguh memang harus pake embel-embel “perkiraan” J

Jam demi jam saya lalui.. satu – dua jam masih keluyuran di dalam rumah, tiduran.. buka laptop.. *masih sabar..

Menjelang menunggu jam ke 3 udah gatel.. waaa.. saya langsung  cuci-cuci piring, nyetrika dan beres-beres baju, sapu-sapu halaman.. dan akhirnya siram taman.. Lagi nyiram taman begitu.. kucluk..kucluk.. datang deh si tukang servis.. haha..banyak kali pekerjaan rumah yang sudah saya kerjakan dan beres sampai tibanya si sang tukang servis ini.. Alhamdulillah.. tinggal istirahat..

Merenung dari kejadian hidup kita sehari-hari seperti ini selalu menjadi inspirasi bagi saya untuk membagikannya saat saya mengajar dan melatih partisipan tentang arti dan filosofi Metoda Montessori..

Ya..

Dari sini, kita bisa mendapat penjelasan  tentang arti : Mengapa alat-alat di kelas Montessori hanya tersedia masing-masing satu buah?

Artinya itu banyak dan penting sekali.. di balik disain lingkungan yang telah dipersiapkan ini  - sungguh -  sangat dalam artinya bagi kehidupan si kecil kelak..

Arti : Mengapa alat-alat di kelas Montessori hanya tersedia masing-masing satu buah?

Montessori menyiapkan kebutuhan anak yang keinginannya pasti berbeda-beda karena setiap anak adalah unik..

Montessori menyiapkan anak untuk belajar bertanggung jawab dan berdisiplin diri : menyelesaikan tugasnya sampai tuntas dulu sebelum mengambil alat/kegiatan yang lain

Montessori menyiapkan anak untuk selalu empati dan pengertian terhadap teman/orang-orang sekitarnya : bahwa dengan dia mengembalikan alat yang telah digunakan, berarti dia memberikan kesempatan anak-anak lain atau teman-temannya untuk boleh memakai alat yang tadi dia sudah pakai.. Tidak untuk dimiliki sendiri dan tidak untuk dikuasai sendiri

Montessori menyiapkan anak untuk berlatih bergiliran..

Montessori menyiapkan anak untuk bersabar menunggu

Montessori menyiapkan anak menghargai waktu dengan menggunakan waktu sebaik-baiknya

Naa.. dua poin terakhir inilah… yang nyambung banget dengan kejadian cerita saya di atas.. hehe..

Saat seorang anak dalam kelas Montessori menginginkan material yang sedang dikerjakan anak lainnya, dia pasti akan menunggui anak tersebut sampai selesai dengan material tersebut.. Lhaa? Kapan selesainya juga belum tau? Ini kan juga tidak bisa diprediksi.. karena Montessori juga menghargai si anak yang sedang mengerjakan sesuatu tanpa harus dibatasi waktu yang sempit.. karena pembatasan waktu artinya akan membatasi anak untuk mengeksplorasi dan mendapat banyak pelajaran dari material-nya.

Kita sebagai pengarah di dalam kelas Montessori  bisa mengarahkan anak yang sedang menantikan material ‘dambaan’nya tersebut untuk mengerjakan hal dan material lain yang masih banyak tersedia untuk dipilih dan dikerjakan daripada duduk  menunggu..

Dengan mengerjakan alat/kegiatan lain, dia jadi bisa mendapatkan pelajaran lebih banyak lagi sambil menunggu temannya selesai dengan material dambaannya tadi.. Tanpa terasa waktu berlalu dan anak tadi bisa segera menemui material dambaannya. Menunggu yang tadinya bisa menjadi sesuatu yang membuat kita kesal dan marah, terlewati sudah..


Inilah konsep menghargai waktu.. sambil menunggu, kalau gak ada yang dikerjakan rasanya akan menjadi sebuah siksaan dan hal yang menyebalkan.. Iya ga tuh?

Naa.. dengan mengerjakan something else.. itu berarti banget lhoo.. healing.. bisa sedikit mengalihkan kekesalan kita dalam menunggu.. Ada sesuatu yang bisa kita kerjakan saat menunggu..

Benefitnya banyak.. Menjadi lebih sabar? Iya.. Pekerjaan lain terselesaikan? Iya juga.. Gak pake uring-uringan dan sebal sama yang ditunggu? Juga iya.. Lumayaannn.. ngurangin stress dan dosa ha ha ha.. *kata yang terakhir hanya Tuhan yang tau yaaa.. sstt.. J

Minggu, 10 Juni 2012

Montessori ERDKINDER in Indonesia? Yes.. We have !

Hai semua..!

Saya lagi pingin posting hal yang menarik hari ini. Semua ini berawal dari ketidaksengajaan saya membaca (kembali) modul Montessori Philosophy-nya LMC Section 7 'From Childhood to Adolescence'.. tenaang.. nanti saya akan kutip apa katanya yang tertera disitu.. he3

Perjalanan saya sebagai trainer metoda Montessori membawa saya untuk banyak bertemu dengan orang-orang yang hebat.. orang-orang yang luar biasa..
Saya bisa ketemu dengan guru-guru sekolah, orang tua (biasanya sih ibu-ibu), ibu asrama panti asuhan, pemilik-pemilik sekolah, remaja fresh graduate, bahkan sampai ketemu dengan seorang 'hero'. walaah.. ada pahlawan ikut belajar metoda Montessori di Rumah Montessori..? hmm siapa atuuh si 'hero' teh..? He he he..

Sebentar.. 'melayang' dulu sedikit ke belakang yaa..
Suatu hari, sang mantan pacar nunjukin di YouTube : seseorang yang membuat dia kagum dan takjub. Seorang pilot Indonesia asli yang mendapat penghargaan CNN Heroes 2009 atas perjuangan mulia-nya..
Pasti pada komen.. 'widiihh.. telaatt... award-nya 2009.. tau-nya 2011' hahaha.. iya ya..
Gak pa pa.. masih anget lah..

Dan bapak yang dapetin award ini adalah Captain Budi Soehardi.. yang setelah saya kontak by email, beliau dengan semangat menyambut baik undangan program pelatihan Montessori gratis dari Rumah Montessori.

Sampai pada waktunya, si bapak 'hero' ini sempat ikutan pelatihan Montessori bersama sang istri dan anak-anak panti-nya di Rumah Montessori BSD. Beliau sedang mempersiapkan sebuah sekolah TK di Kupang.


Bapak ini bersama sang istri Peggy Soehardi membangun sebuah Panti Asuhan di Kupang NTT namanya Yayasan Kasih Roslin Orphanage.. Mereka menyulap generasi penerus bangsa yang 'terabaikan' bangsa-nya sendiri menjadi individu yang siap untuk menjalani hidup dengan segala kebutuhan yang layak.
Yang membuat saya kagum, mereka mendidik anak-anak asuhnya dengan kasih --mulai dari kesehatan, sandang, pangan, papan, pendidikan serta pembentukan karakter--

Mereka berdua tidak tanggung-tanggung memberikan yang terbaik untuk anak-anak asuhnya.. Mereka mengerti bahwa Montessori masih banyak dinikmati oleh golongan orang berpunya .. Tapi mereka memutuskan, bahwa anak-anak Kupang ini pun harus mendapatkan pendidikan yang terbaik supaya 'manner' dan karakter mereka bisa menjadi lebih baik. Setiap manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapat pendidikan yang terbaik.. 
Makanya.. untuk TKnya nanti mau pakai metoda Montessori..
Wiii... Montessori ke Kupang euy !! Hebaaatt..

Ini tambahan ceritanyaaa...
Mereka membuka Christati Hotel http://www.roslinorphanage.org/christati-hotel.html , serta lahan-lahan pertanian dan peternakan yang semua dikelola dan dikerjakan oleh penghuni panti yang beranjak remaja. Mereka membekali anak-anak tersebut dengan keterampilan bekerja di lapangan yang dijalankan dalam sebuah lingkungan yang dipersiapkan.. Tentunya anak-anak panti yang menjelang dewasa ini diharapkan untuk jadi terampil dan siap untuk berhadapan dengan dunia kerja..dunia nyata..dan kondisi lapangan.

Dan ternyataaa...
Sistem lingkungan yang 'dibuat' Panti Asuhan Roslin ini sangat benar-benar 'Montessori'.
Woow... Kenapa?

Hasil pengamatan Montessori terhadap perkembangan anak, bahwa anak-anak yang berada dalam tahap 12 - 15 tahun (Puberty - level SMP) dan 15 - 18 tahun (Adolescence - level SMA) adalah tahap yang cukup sulit bagi seorang anak. Karena mereka mengalami perubahan yang begitu cepat dalam segi fisik dan psikologis.
Ini adalah masa transisi : dari seorang anak yang harus hidup dalam keluarga MENJADI seorang individu yang harus siap terjun ke masyarakat.
Pada tahap usia 15 - 18 tahun (Adolescence) Montessori menyatakan bahwa masalah yang perlu untuk dipertimbangkan adalah masa persiapan untuk ke dunia masyarakat yang lebih luas untuk siap bekerja dan kemandirian.

Montessori menyarankan bahwa penanganan di tahap-tahap sulit ini anak-anak seusia 15 - 18 tahun sebaiknya dibiarkan mandiri dengan menempatkannya ke area/lingkungan yang damai di sebuah tempat yang jauh dari keluarga dan sangat dekat pada alam. Di mana anak tersebut akan mendapatkan ruang gerak yang cukup di alam terbuka dengan udara yang masih segar dan individual care. Montessori menggambarkan lingkungan yang ideal untuk anak-anak tahap ini adalah dengan sebutan 'Erdkinder'

WHAT'S ERDKINDER? (From Montessori Philosophy Modul)

An Erdkinder is an institution in the country where the children can live, study and work together. The children were referred to as 'land-children' because they were learning to work the land. The importance of this is that the children not only learn how to be independent an experience the dignity of manual work but that they progress from adolescence to adulthood treading the same path as civilisation beginning with an agricultural existence.

The Erdkinder should also be run like a country hotel with the children taking part in the management and administration and so preparing them for hotel-keeping.

Another feature of the Erdkinder is that it should have a shop which could be regarded as a revival of the medieval exchange where not only goods were exchanged but where social interaction took place.

Although some of these ideas may seem inappropriate today the general concept is a good one and there are Erdkinder established in the United States and Australia. The Philosophy behind this idea is that society should be offering a far more practical preparation for life to the adolescent and should not be forcing them to stay in schools where they are pressurised to study subjects that are often of very little interest to them.

Jadiii...
Mungkin bukan hanya Panti Asuhan Roslin yang berbuat seperti ini.. saya yakin masih banyak lagi institusi-institusi lain yang mengerjakan hal ini..
Ini sih berhubung Bapak dan Ibu 'hero' ini pernah bertandang ke Rumah Montessori dan saya mendapat begitu banyak informasi tentang institusi merekaa... makaa... jadilah saya posting tentang Roslin.. he he he..

Pak Budi dan Bu Peggy ini sudah mulai menerapkan Montessori-nya dengan begitu lengkap untuk anak-anak asuhnya, mulai dari pendidikan usia dini-nya dan mengantarkan mereka sampai ke tahap mandiri dan siap terjun ke masyarakat dengan persiapan diri yang lebih matang.

Begitulah.. sharing saya hari ini..
Semoga menjadi inspirasi ya.. :)

*sambil ngelamun..terbang ke Kupang -- ketemu anak-anak panti dan alumni Rumah Montessori (Delvi, Angel, Adriana, Voni, Ance, Bu Peggy, Pak Budi.. miss you) --

Minggu, 29 April 2012

Sekilas Pandang - Pelajaran Untuk Hidup Dari Sebuah Kelas Montessori


a life-skill lesson from Montessori Class..

Seneng banget rasanya, sampai pada titik sekarang ini apa yang telah saya bagi ternyata memberi feedback yang begitu luar biasa.. semakin bertambah banyak yang saya mengerti.. semakin dalam pula pemahaman saya..

Ajaibnya, bukan hanya karena saya mencari tahu tapi justru dengan cara berbagi pun, dampaknya luar biasa terhadap proses pemahaman saya..

Di blog ini, saya cuma pingin cerita aja.. bahwa salah satu ‘kata-kata mutiara’ dari Metoda Montessori yang berbunyi “Montessori is educating us not only for school, but for life” memang begitu adanya.

Sementara sebagian umat bertanya-tanya : “Kenapa sih sekolahnya kaya gitu? Kok ga duduk diam di kursi dengerin guru, tangan dilipat, jadi anak manis gitu loh..” atau “Mbok ya nulis-nulis di buku, biar jadi anak pinter keterima di SD favorit itu loohh..” (jiaah..) atau ada lagi “Lha ini malah jalan-jalan.. malah hilir mudik, bawa-bawa alat pula..duuuhh apa ngga takut jatuh? Apa ngga takut senggol sana senggol sini kena teman2nya..”

Saya juga sebenernya lagi cari-cari jawaban yang ‘cantik’ supaya para umat yang bertanya hal tadi mendapatkan pemahamannya dengan baik. Gol-nya saya sih, pingin keluar kata “Ooohh…gituuu toh” dari mulut mereka sambil manggut-manggut kenceng, tanda sangat mengerti (hahaha..maksa pisan..)

Emang dalem banget Metoda Montessori kalau udah urusan filosofi..

Yang bisa saya tangkap disini adalah bahwa ada makna dan tujuan yang begitu sudah sangat dipersiapkan oleh Montessori dalam hal bekal untuk hidup bagi anak-anak ini. Latihan dan pengenalan untuk praktek di dunia nyata sudah dimulai dari dini, sesegera mungkin agar mereka segera menjadi terampil dan dapat menjadi individu yang tangguh.

Lho kok bisa gitu? Bisaa..

Hidup itu berarti bergerak.. Bergerak yang berasal dari kebutuhan dan keinginan diri sendirinya adalah salah satu ciri makhluk hidup. Life is always connected with movement..

Sesuatu yang tidak bergerak, benda mati dong.. Sesuatu yang bergerak tapi dikendalikan alat pengendali, ya kaya robot dong.. hehe..

Dan anak-anak ini sejatinya adalah makhluk hidup.. *hmm.. bukan robot juga dong ya..

Jadi, biarkanlah anak-anak tersebut bergerak sesuka-nya, karena pastinya di usia tersebut anak-anak memang sedang aktif-aktifnya bergerak dan sedang ‘butuh-butuh’nya untuk bergerak.. Kadang malah sulit untuk dihentikan..

Montessori melihat ini menjadi sebuah moment yang baik untuk belajar dan bekerja bagi anak-anak dengan cara menyenangkan. Jika mereka memang sedang aktif bergerak, jangan paksa mereka untuk duduk diam mendengarkan apalagi memperhatikan.. Selain akan terjadi beruji baku fisik, keluar keringat, lelah sampai terkuras kesabaran yang berdampak ga baik (bisa-bisa emosi nih kita..)

 Ya sudah, biarkanlah berikan mereka keleluasaan untuk bergerak sesuai dengan kebutuhannya.. SAMBIL beri mereka kegiatan yang berupa stimulasi untuk menambah kemampuan dan kepintaran mereka. Dijamin mereka akan tampak senang mengerjakannya, tanpa paksaan, tanpa stress karena mereka hepi bisa bergerak bebas.. sambil belajar pula *wink-wink ^_^

Dari bebasnya anak-anak tersebut bergerak untuk bekerja di dalam kelas Montessori, ada pelajaran yang sangat bermakna untuk bekal hidup mereka di dunia nyata. Yaitu ketika di dalam kelas mereka harus berjalan sambil membawa alat-alat, mereka tanpa sadar diajarkan untuk selalu aware (=perhatian) dengan keadaan sekitar..

-          Amankah saya dalam membawa alat-alat ini?

-          Amankah teman-teman saya ketika saya harus berjalan melewati mereka sambil membawa alat-alat ini?

Begitu lah kira-kira sekilas pandang yang bisa saya tangkap dari benak anak-anak hebat itu.. Dan semua terlihat dari kehati-hatian mereka dalam melakukan semuanya dalam kelas. Anak-anak bergerak artinya otakpun bekerja.. Berpikir..

Ya.. pastinya mereka akan berusaha semaksimal mungkin kan untuk berjalan hati-hati saat membawa alat-alat itu supaya aman, tidak jatuh, dan tentu berusaha juga agar jangan sampai mengenai/menyakiti dan membuat orang lain terganggu.

Inilah latihan untuk hidup yang sebenarnya.. Kenapa?

Ga usah jauh-jauh deh.. Ketika kita sedang berada di pasar, mall ataupun keramaian.. kita bisa lihat dengan jelas ya.. begitu banyak orang hilir mudik membawa segala sesuatu yang beragam. Baik itu barang yang dijinjing, barang besar yang dipanggul atau ada juga yang dipangku/digendong. Sadarkah kita, mereka atau bahkan kita sendiri saat dalam situasi di tempat tersebut harus perhatian (=aware) dengan kondisi sekitar. Kita akan :

-          Berjalan hati-hati, agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain (cobaa.. apa jadinya ya kalau kita berjalan di tempat seperti itu seenak udelnya? senggol sana sini.. dicerca orang sana sini.. terakhir ditangkap sekuriti deh *doh tepok jidat)

-          Berjalan hati-hati dan berkonsentrasi supaya barang bawaan kita dan kita sendiri tidak jatuh

Jauh di kemudian hari nanti saat anak-anak kita sudah harus menjadi pribadi mandiri seutuhnya, latihan pembekalan hidup itu sudah mereka dapatkan di kelas Montessori. Anak-anak itu sudah disegerakan untuk mengenal dan berlatih menghadapi dunia nyata, karena cepat atau lambat mereka akan dan harus hadapi itu..

Dalem banget ya makna-nya.. Saya pribadi awalnya melihat hal ini hanya sekadar dari sudut pandang ‘perioda sensitif’ anak yang memang sedang perlu bergerak/aktif sehingga cocok jika mereka belajar sambil bebas bergerak..

Tapi ternyata.. arti dari penerapan sistem pendidikan ini lebih jauh lagi ke depan.

Ini semua adalah untuk mempersiapkan anak menjalani hidup.

C’est la vie, baby! Inilah hidup, anakku.. J Be ready for that, because you will face it  by yourself sooner or later without me *hugs :’)


Senin, 14 November 2011

Seputar Anak Berkebutuhan Khusus dan Sekolah

Seputar Anak Berkebutuhan Khusus dan Sekolah
(by : Ivy Maya Savitri – Rumah Montessori)
Saya berpendapat bahwa : semua anak pasti berkebutuhan khusus, hanya posisi dan porsi kebutuhan tersebut berbeda-beda. Ada anak yang kebutuhan khususnya di kasih sayang, latihan mandiri, latihan motorik kasar & motorik halus, latihan berkomunikasi, latihan sharing, latihan ber-empati, ber-attitude baik dan lain sebagainya. Dan ditambah dengan hal-hal baru yang sekarang sering kita temui yaitu ABK dalam artian yang lain seperti ADHD, Autisme ringan-berat, speech delay, asperger dan lain-lain yang bahasanya kadang terlalu ‘tinggi’ buat saya..
Banyak pihak sekolah yang mau tidak mau menemui masalah-masalah seperti yang akan saya paparkan di bawah ini.
PERMASALAHAN PIHAK SEKOLAH diantaranya adalah :
1.       Memutuskan penerimaan anak berkebutuhan khusus di sekolah
2.       Memutuskan untuk menyampaikan masalah anak kepada orang tua

Masalah 1
Seorang anak yang akan didaftarkan untuk masuk ke sekolah kita tentunya dapat kita kenali tingkatan kebutuhan khususnya sejauh apa dan dalam katagori apa melalui pengamatan kita terhadap karakter anak secara umum. Di bawah ini adalah hal-hal yang dapat membantu kita dalam mengenali anak tersebut :
-          Banyak membaca literature dari berbagai sumber tentang : perkembangan anak, masalah pada perilaku anak, deteksi dini ABK dll
-          Pengalaman/jam terbang di lapangan
-          Saat trial à perilaku di kelas baik secara individu maupun dalam kelompok
-          Saat interview di awal pendaftaran
Setelah kita memperoleh karakteristik dan masalah anak secara garis besar ada di sebelah mana, maka untuk memutuskan penerimaan anak berkebutuhan khusus tersebut di sekolah kita perlu ada evaluasi seperti misalnya :
-          Dengan kondisi sekolah yang sudah ada, evaluasi kembali kesanggupan sekolah terutama dalam manajemen kelas ke depannya
-          Siapkah SDM-nya? Kebutuhan  ‘shadow teacher’ - guru pendamping (disiapkan sekolah atau orangtua)
Jika guru pendamping/helper disiapkan orang tua murid, pastikan bahwa helper benar-benar sudah terlatih, sepakat untuk menjalankan  rancangan pembelajaran dengan baik dan konsisten, bekerja sama dengan guru dan pihak sekolah serta mengikuti aturan sekolah demi tercapainya kemajuan sang anak.
-          Kuota kelas yang tersedia, baik untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus maupun tidak
-          Yang terpenting : keyakinan individu (guru) dalam kesanggupan menangani anak-anak BK
Jika kasusnya adalah ketika bertemu dengan calon murid yang sudah positif ABK oleh psikolog/terapis (menyertakan surat referensi) maka keputusan penerimaan calon murid tersebut :
-          Bergantung pada school policy (adakah kursi untuk anak ABK? Jika ada, adakah limit maksimum dalam menerima ABK?)
-          Apakah sekolah siap atau tidak bila harus meng-handle ABK dengan level yang cukup tinggi
-          Bila pihak sekolah sudah OK dan menerima ABK dengan level yang tidak rendah, sekolah perlu secara intensif berhubungan dan berdiskusi dengan pihak ahli (terapis, psikolog, psikiater) à agar kegiatan selama terapi sejalan dengan apa yang dijalankan di sekolah dalam menunjang dan mencapai target si ABK - sinergis (sehingga tidak ada target yang melenceng bahkan sampai tidak tercapai/missing)
Jika kasusnya adalah calon murid tersebut adalah belum tentu ABK atau statusnya : belum tes ke ahli manapun tapi pihak sekolah/guru melihat ada sedikit ‘yang lain’ dari karakteristik umum anak-anak : Sebagai Guru apapun latar pendidikan kita, posisikan dengan benar dan bijak à HOLD THE JUDGE (just keep an excellent observation)
Contohnya :
·         Anak tidak mendengar ataupun menoleh saat dipanggil : banyak kemungkinannya (mungkin tidak peduli/cuek, sengaja tidak mendengar, ada masalah pendengaran, panggilan kita tidak terdengar, kebiasaan di rumah)
·         Anak tidak mau menatap mata kita saat diajak bicara : mungkin tidak suka, merasa bersalah, gengsi, kebiasaan di rumah, senang mengalihkan pembicaraan, sedang tidak mau mendengar ataupun berbicara dengan orang lain
·         Anak yang usia pra SD masih terbalik-balik dalam menulis : belum tentu disleksia, latihan kurang intensif, masih perlu drilling di menulis, dll

Masalah 2
Penyampaian masalah-masalah anak kepada orang tua sebaiknya :
-          Saran untuk melakukan tes terhadap anak jangan terlalu cepat disampaikan
-          Selalu siap dengan catatan dan data-data hasil observasi anak dan diskusikan dengan orang tua letak permasalahannya (bukan vonis dan judgement yang akan kita sampaikan)
-          Berhati-hati dalam menyampaikan
-          Bermainlah dengan kata-kata ‘cantik’, selalu ‘positif’ dan ‘motivatif’
-          Jika orang tua perlu saran maupun solusi à berikan yang sesuai dengan porsi dan kapasitas kita sebagai guru/pihak sekolah
-          Orang tua dapat diajak bekerja sama dalam rangka usaha mencapai progress anak yang ke arah yang lebih baik



-          Saran pelaksanaan tes terhadap anak kepada para ahli, pada akhirnya dapat disampaikan jika sudah sampai pada waktunya dimana :
o   Ditemukan masalah yang berulang, penurunan (prestasi maupun perilaku) yang cukup signifikan, adanya perubahan dan tanda-tanda yang diluar dari batas normal yang cukup signifikan.
o   Serangkaian usaha/daya upaya maupun program khusus yang dicoba dijalankan guru di sekolah dan orang tua di rumah TIDAK menunjukkan progress/kemajuan/perubahan ke arah yang lebih baik (ditentukan dalam rentang waktu tertentu à biasanya ada kesepakatan berapa lama akan dievaluasi kembali)
Demikian sedikit dari apa yang ada dalam benak saya hari ini.
Semoga bermanfaat J